EPISTEMOLOGI HADIS: SUNNI DAN SYIAH

A. Pendahuluan

Sunnah atau lebih dikenal dengan hadis, mempunyai sejarah yang unik dan panjang. Ia pernah mengalami masa transisi dari tradisi oral ke tradisi tulisan. Pengkompilasiannya pun membutuhkan waktu yang cukup panjang. Persaingan politik antar kelompok Muslim dalam rangka perebutan kekuasaan juga ikut mewarnainya. Sampai pada akhir abad ke-9 M, usaha pengkodifikasian tersebut dapat menghasilkan beberapa koleksi besar (kitab hadis) yang dianggap autentik, di samping sejumlah besar koleksi hadis lainnya.

Seleksi dan pengeditan koleksi kitab hadis tersebut, menurut pandangan Mohammed Arkoun,[1] menimbulkan kontroversi berkepanjangan di antara tiga golongan Muslim besar, yakni; Sunni, Syi’i (Syi’ah), dan Khariji (Khawarij). Kelompok Sunni menganggap, kompilasi sahihayn dari Bukhari (w. 870 M) dan Muslim (w. 875 M) sebagai yang paling autentik. Syi’ah 12 (Isna ‘Asyariyah) mengklaim, hasil kompilasi Kulayni (w. 939 M) sebagai “suitable for the science of religion” dan dilengkapi juga dengan koleksi Ibn Babuyah (w. 991 M) dan al-Tusi (w. 1067 M). Sementara, Khawarij memakai koleksi Ibn Habib (tercatat akhir abad ke-8) yang disebut sebagai al-sahih al-rabi’ (The true one of spring).

Terdapat satu anggapan, bahwa perbedaan aqidah dalam aliran-aliran Islam berdampak atau bahkan merupakan sumber pada perbedaan hadis yang diakui oleh masing-masing kelompok. Kelompok Sunni[2] misalnya, hanya berpegang pada riwayat Sunni saja, sementara kelompok Syi’ah[3] hanya mengakui hadis-hadis riwayat kelompok Syi’ah saja. Demikian seterusnya.

Masing-masing kelompok cenderung egois dan hanya mementingkan kelompoknya. Lebih parah lagi, hadis-hadis yang ada banyak dibuat oleh kelompok tertentu demi kepentingan kelompoknya, bahkan tidak sedikit yang mendiskreditkan mazhab yang berseberangan. Dampak terbesar dari anggapan ini adalah, hadis-hadis yang ada tidak bisa dipertanggungjawabkan otentisitasnya karena dibuat/dipalsukan oleh mazhab-mazhab tertentu demi kepentingan mereka

Perbedaan konsepsi secara metodologis tentang hadis antara Sunni dan Syi’ah bergulir pada wilayah kajian epistimologi. Pilihan untuk menggunakan epistimologi dalam kajian ini karena epistemologi, sebagai suatu cabang filsafat yang membahas tentang asal, struktur, metode-metode, kesahihan, dan tujuan pengetahuan.[4] Epistemologi, juga merupakan sarana untuk mendekati masalah-masalah pokok berkaitan dengan dinamika ilmu pengetahuan yang menyangkut sumber, hakekat, validitas dan metodologi.[5]

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana konsep epistemologi hadis antara Sunni dan Syi’ah?, dan bagaimana implikasi konsep epistemologi hadis antara Sunni dan Syi’ah tersebut terhadap kualitas hadis?.

B. Konstruksi Epistemologi Hadis Sunni dan Syi’ah

Untuk melihat konstruk epistemologi hadis yang dibangun oleh masing-masing, baik Sunni maupun Syi’ah adalah melalui tiga persoalan pokok  dalam bidang epistemologi, yaitu (1) persoalan asal pengetahuan atau sumber, dalam hal ini siapa sumber utama yang bisa mengeluarkan hadis; (2) apa hakekatnya, artinya bagaimana kedudukan hadis menurut Syi’ah dan Sunni dalam cakupan wilayah Islam; dan (3) persoalan verifikasi, yaitu bagaimana mengukur validitas atau otentisitas hadis, sehingga bisa dijadikan dasar hukum yang kuat.

Upaya ini sangat urgen lantaran hadis sebagai laporan sejarah masa lampau mengenai kehidupan Nabi yang telah lenyap ditelan waktu, sebuah pengalaman yang berada jauh dari jangkauan pengetahuan inderawi. Jarak waktu yang cukup lama antara Nabi dan para penghimpun hadis serta adanya perbedaan visi dan misi politik mazhab menambah rumitnya pembuktian otentisitas hadis. Tingkat akurasi hadis diukur dari segi isi (kritik matan) dan periwayatannya (kritik sanad). Dalam hal ini para ulama hadis baik Sunni maupun Syi’ah membuat kriteria kualitas periwayat, baik dari segi sanad maupun integritas pribadi periwayat. Ini menjadi landasan penemuan metodologi yang tepat agar hadis itu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akidah.

1. Hadis Perspektif Sunni

a. Sumber Hadis

Dalam tradisi Sunni, yang dimaksud dengan hadis ialah segala sabda, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Hadis dalam pengertian ini oleh ulama hadis disinonimkan dengan istilah al-sunnah.[6] Dengan demikian, menurut umumnya jumhur ulama hadis, bentuk-bentuk hadis atau al-sunnah ialah segala berita berkenaan dengan; sabda, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal Nabi Muhammad saw.

Dari definisi hadis yang ditetapkan Sunni di atas, memberikan batasan tentang segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad saw., sekaligus adanya anggapan bahwa wahyu telah terhenti setelah wafatnya Nabi Muhammad. Dengan demikian apapun yang bersumber dari Nabi dapat dijadikan dasar hukum dan sekaligus sumber ajaran Islam. Sebaliknya apapun yang tidak bersumber langsung dari Nabi bukan termasuk hadis, dan karenanya tidak wajib diikuti dan tidak dapat dijadikan dasar hukum apalagi dijadikan sebagai sumber ajaran Islam. Dengan demikian sumber utama yang dapat mengeluarkan hadis menurut Sunni hanya Nabi Muhammad saw.

b. Hakekat Hadis

Pada dasarnya, hampir semua mazhab[7] dalam Islam, sepakat akan pentingnya peranan hadis[8] sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Otoritas Nabi SAW dalam hal ini (selain al-Qur’an) tidaklah terbantahkan dan mendapat legitimasi melalui wahyu juga,[9] sehingga secara faktual, Nabi SAW adalah manifestasi al-Qur’an yang pragmatis.[10] Dalam diskursus Islam, terdapat berbagai permasalahan yang tidak cukup dijelaskan hanya dengan mengacu kepada al-Qur’an, tetapi juga harus mengacu kepada hadis Nabi SAW. Hal ini dikarenakan al-Qur’an lebih banyak menerangkan secara global. Sesuatu yang global inilah yang harus dijelaskan dan dijabarkan. Dan di sinilah hadis mempunyai fungsi menafsirkan yang mubham, memerinci yang mujmal, membatasi yang mut}laq, mengkhususkan yang ‘a>m, dan menjelaskan hukum-hukum sasarannya (baya>n al-tafsi>r), bahkan hadis juga mengemukakan hukum-hukum yang belum dijelaskan oleh al-Qur’an (sunah pembentuk).[11] Pernyataan seperti ini, banyak ditegaskan oleh al-Qur’an, misalnya QS. al-H}asyr (57): 7, QS, al-Nah}l (47): 80, QS. al-Ah}za>b (33): 21, dan lain sebagainya. Kenyataan ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya posisi hadis dalam bangunan (pondasi) ajaran Islam. Sehingga, tidak berlebihan jika dikatakan (oleh sebagian ulama) bahwa al-Qur’an lebih membutuhkan hadis daripada sebaliknya.[12]

Pada dasarnya, ketika Nabi SAW masih hidup fenomena hadis tidak begitu krusial dan pembicaraan mengenai perkatan, perbuatan, dan ketetapan Nabi SAW pun sebagai hal yang biasa-biasa saja,[13] karena hadis sebagai sumber pedoman masyarakat muslim waktu itu lebih bersifat peneladanan langsung tanpa melibatkan rumusan-rumusan verbal (living tradition).[14] Para sahabat lebih berusaha untuk hidup sesuai dengan ajaran-ajaran Nabi SAW, sehingga diktum dan fatwa Nabi SAW yang aktual seringkali terjalin secara halus dan tidak dapat dibedakan. Akan tetapi, setelah Nabi SAW wafat, umat Islam mulai serius menyikapi hadis Nabi SAW tersebut. Pembicaraan tentangnya menjadi sebuah fenomena yang dilakukan masyarakat muslim dengan sengaja dan penuh kesadaran. Karena, sebuah generasi baru sedang tumbuh dan secara otomatis membutuhkan suatu bimbingan dengan mempertanyakan perilaku Nabi SAW.[15]

Dengan demikian, menurut Sunni hakekat hadis pada dasarnya adalah wahyu Allah yang diberikan melalui Nabi Muhammad saw berupa peneladanan langsung  yang melibatkan rumusan-rumusan verbal (living tradition). Karena itulah, hadis mempunyai peranan yang sangat urgen ketika disandingkan dengan al-Qur’an. Keduanya menjadi sumber hukum yang harus diyakini oleh umat Islam.

c. Verifikasi  Otentisitas Hadis

Pengertian hadis sahih yang disepakati oleh mayoritas ulama hadis Sunni adalah mencakup sanad dan matan hadis. Kriteria yang menyatakan bahwa rangkaian periwayat dalam sanad harus bersambung dan seluruh periwayat harus adil dan dhabit adalah kriteria untuk kesahihan sanad, sedang keterhindaran dari syadz dan ‘illat, selain merupakan kriteria untuk kesahihan sanad, juga kriteria untuk kesahihan matan hadis.[16]

Definisi hadis sahih yang disepakati oleh ulama Sunni meliputi beberapa unsur. Di antara kriteria yang ditetapkan ulama untuk mendapatkan suatu hadis sahih adalah:

1)      Sanad bersambung;

2)      Seluruh periwayat dalam sanad bersifat adil;

3)      Seluruh periwayat dalam sanad bersifat dhabith;

4)      Sanad dan Matan hadis terhindar dari syadz;

5)      Sanad dan matan hadis terhindar dari ‘illat.[17] Sedangkan dari segi matannya harus sesuai dengan al-Qur’an, sunnah yang sahih, tidak menyalahi fakta historis dan tidak bertentangan dengan akal dan panca indera.[18]

Langkah selanjutnya, hadis-hadis tersebut diklasifikasi dan dimasukkan dalam kategori-kategori tertentu. Misalnya dengan menggunakan ilmu Jarh wa al-Ta’dil yang melibatkan berbagai ilmu, hadis-hadis dapat dikelompokkan ke dalam berbagai kategori dengan tingkat kecermatan yang tinggi. Seseorang yang diterima atau ditolak hadisnya harus melalui seleksi dan evaluasi kritis terlebih dahulu. Demikianlah, kriteria-kriteria kesahihan hadis yang dibangun oleh ulama Sunni. Sekaligus menetapkan bahwa suatu hadis yang tidak memenuhi kelima unsur tersebut adalah dha’if dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum.

Dengan tidak mudahnya suatu informasi diterima sebagai suatu kebenaran sebagaimana ditunjukkan di atas dengan standar-standarnya, menunjukkan bahwa Islam bukan hanya mementingkan atau mewajibkan mencari ilmu saja, tetapi juga aspek epistemologinya (masalah kebenaran). Tidak dikesampingkannya aspek epistemologi dalam bangunan keilmuan Islam, terutama hadis telah menunjukkan bagaimana kejujuran intelektual dengan memegang pengetahuan lebih dari sesuatu yang lain, tetapi juga sebagai sesuatu yang dapat dinilai salah dan benar dengan pertanggungjawaban serentak pada tingkat individu dan kelompok, dipraktekkan. Semuanya adalah dalam rangka agar segala perilaku mendapat pengabsahan dan landasan dari otoritas yang memiliki kriteria yang tinggi sehingga kebaikan dunia dan akhirat dapat dicapai secara bersamaan atas dasar teladan dari Nabi. Dengan demikian keberadaan hadis sebagai sumber kedua setelah al-Qur’an telah memberi pengaruh yang besar pada seluruh aktivitas Muslim dalam mencari pijakan dan memberi teladan bagi kaum Muslim dalam bertindak.

2. Hadis Perspektif Syi’ah

a. Sumber Hadis

Hadis dalam tradisi Syi’ah yang mempunyai pengertian segala sesuatu yang disandarkan kepada yang ma’s}u>m, Nabi SAW dan Imam dua belas, baik itu berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan adalah sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an.[19] Syi’ah menjadikan imam seperti kedudukan Nabi Muhammad dalam menjelaskan Al-Qur’an. Mereka juga berpandangan bahwa para periwayat mereka melarang mengamalkan zahir al-Qur’an karena mereka tidak berpedoman dalam syari’at kecuali dari para imam mereka. Mereka mengatakan bahwa imam mempunyai ilham yang sebanding dengan wahyu bagi Rasulullah saw.

Dari definisi hadis di atas, memberi kesimpulan bahwa sumber hadis bukan hanya Nabi Muhammad, melainkan setiap imam yang ma’shum juga dapat mengeluarkan hadis yang dapat dijadikan hujjah. Dengan demikian, Syi’ah juga mempunyai keyakinan tentang berlangsungnya wahyu pasca wafatnya Nabi Muhammad saw.

b. Hakekat Hadis

Menurut Syi’ah, substansi atau hakekat hadis mempunyai tiga macam: Pertama: Khabar dan riwayat yang mengandung petunjuk pembersihan jiwa, akhlak, nasehat dan cara-cara pengobatan penyakit hati. Dengan muatan berisi ancaman, dan dorongan. Atau yang berkaitan dengan tubuh, seperti kesehatan, penyakit, sakit dan pengobatan. Juga manfaat buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, pepohonan, air dan batu. Di samping itu khabar tersebut mengandung do’a, zikir, dan keutamaan ayat-ayat. Serta semua hal yang disunnahkan, baik dalam pembicaraan, perbuatan, maupun sikap. Itu semua, menurut kaum Syi’ah, bisa dijadikan landasan untuk beramal ibadah. Dan tidak perlu mencari tahu apakah sanad dan matannya shahih atau tidak. Kecuali jika ada tanda-tanda yang menunjukkan kepalsuannya.

Kedua: Yang mengandung hukum syara’ parsial, taklifi atau wadl’i. Seperti taharah, berwudlu, cara shalat, zakat, khumus, jihad dan semua bagian muamalat, transaksi yang diperbolehkan. Juga tentang nikah, thalaq, warisan, hudud dan diyat. Semua khabar dan riwayat tersebut tidak boleh langsung dijalankan. Namun diberikan kepada faqih yang mujtahid untuk menterjemahkannya. Sedangkan orang awam harus mengikuti mujtahid marji’.

Ketiga: Khabar dan riwayat yang mengandung pokok-pokok aqidah, seperti pengitsbatan al-Khaliq SWT., juga tentang hasyr, barzakh, sirâth, mîzân, hisâb dan lain-lain.

Jadi, pada hakekatnya hadis menurut Syi’ah adalah Khabar dan riwayat yang jika berkaitan dengan aqidah dan pokok agama mereka, seperti tauhid, ‘adl, nubuwwah, imâmah dan ma’ad. Jika khabar tersebut sesuai dengan dalil-dalil ‘aqli, urgensi, dan tanda-tanda yang qath’i, maka ia dapat dijalankan, dan tidak perlu menyelidiki sanad.

c. Verifikasi  Otentisitas Hadis

Dalam kaitannya dengan kesahihan hadis, para ulama Syi’ah dalam kajian sanad telah memberikan kriteria-kriteria sebagai periwayat hadis. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi sebagai seorang periwayat hadis untuk dapat diterima riwayatnya. Diantaranya adalah: 1) sanadnya bersambung kepada imam  ma’s}u>m tanpa terputus, 2) seluruh periwayat dalam sanad berasal dari kelompok Imamiyah dalam semua tingkatan, dan 3) seluruh periwayat dalam sanad bersifat ‘adil, d}a>bit}.[20] Dengan demikian, hadis sahih menurut Syi’ah adalah, hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.[21]

Pengaruh Imamiyah di sini tampak pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi hadis tidak sampai pada tingkatan sahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan.[22]

Berdasarkan pada pengertian di atas, ulama Syi’ah membatasi hadis sahih pada setiap hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad, Ali> bin Abi> T}a>lib dan Imam dua belas.[23] Suatu keterangan yang dapat dipetik dari pemahaman di atas adalah bahwa derajat para Imam sama dengan derajat Nabi SAW dan itu juga berarti dalam periwayatan, segala yang disandarkan kepada Imam juga sama terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi SAW dalam hal kehujjahannya.[24]

C. Implikasi terhadap Klasifikasi Kualitas Hadis

Yang dimaksud dengan klasifikasi adalah derajat atau tingkatan yang digunakan ulama dalam mengkategorikan hadis dilihat dari aspek kuantitas dan kualitas rawi. Telaah ini dilakukan dalam upaya menelusuri secara akurat sanad pada setiap hadis yang dikumpulkannya. Dengan penelitian kedua aspek inilah, upaya pembuktian sahih tidaknya suatu hadis lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Perbedaan konsep-konsep dasar yang sangat substansial mengenai hadis antara Sunni dan Syi’ah membawa implikasi pada kualitas hadis yang dapat dijadikan pegangan sekaligus sebagai dasar hukum. Perbedaan kriteria yang ditetapkan oleh Sunni dan Syi’ah berimplikasi klasifikasi terhadap kualitas hadis masing-masing mazhab. Dalam hal ini, metode yang dipakai oleh ulama Sunni adalah:

a. Hadis Dilihat dari Aspek Kuantitas Rawi

Dalam menyampaikan sebuah hadis terkadang Nabi berhadapan dengan sahabat yang banyak jumlahnya, terkadang hanya beberapa sahabat, bahkan terkadang hanya satu atau dua orang saja. Begitu seterusnya sampai dengan generasi yang menghimpun hadis dalam berbagai kitab. Sudah barang tentu, informasi yang dibawa oleh banyak orang lebih meyakinkan dibanding informasi yang dibawa oleh hanya satu atau dua orang saja. Dengan demikian, maka menurut pembagian hadis dari aspek kuantitas periwayat adalah sebagai berikut:

1) Hadis Mutawatir[25]

2) Hadis Masyhur[26]

3) Hadis Ahad[27]

b. Hadis Dilihat dari Aspek Kualitasnya (Maqbul atau Mardud)

Klasifikasi hadis dilihat dari aspek diterima dan ditolaknya terbagi menjadi:

1) Hadis Sahih[28]

2) Hadis Hasan[29]

3) Hadis Dha’if[30]

c. Hadis Dilihat dari Aspek yang Menyampaikan

Apabila hadis dilihat dari segi yang menyampaikan sebagai sandaran terakhir, maka hadis dapat di bagi kepada:

1) Hadis Marfu’[31]

2) Hadis Mauquf[32]

3) Hadis Maqthu’[33]

Namun secara umum pembagian hadis yang lebih banyak dikenal dalam Sunni adalah pembagian hadis berdasarkan maqbul atau mardud, yang dibagi menjadi tiga tingkatan; sahih, hasan, dan d}a’i>f.

Sedangkan metode yang dipakai oleh Syi’ah, sebagaimana kriteria-kriteria kesahihan hadis yang diuraikan di atas, hadis terbagi menjadi mutawatir dan ahad. Pengaruh akidah mereka tampak dalam maksud hadis mutawatir. Karena hadis mutawatir menurut mereka adalah harus dengan syarat hati orang yang mendengar tidak dicemari syubhat atau taklid yang mewajibkan menafikan hadis dan maksudnya.[34] Pengaruh imamah di sini dapat diketahui ketika mereka menolak hujjah orang-orang yang berbeda dengan mereka yaitu mazhab yang menafikan ketetapan amir al-mukminin Ali sebagai imam. Mereka juga berpendapat tentang mutawatir-nya hadis al-saqalain dan hadis al-ghadir. [35]

Sedang hadis Ahad menurut mereka terbagi dalam empat tingkatan atau empat kategori, yang bertumpu pada telaah atas sanad (eksternal) dan matan (internal), dan keempat tingkatan tersebut merupakan pokok bagian yang menjadi rujukan setiap bagian yang lain. Empat klasifikasi hadis dalam tradisi Syi’ah, yaitu;

1) Hadis Sahih

Hadis sahih menurut mereka adalah, hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum serta adil dalam semua tingkatan dan jumlahnya berbilang. Dengan kata lain, hadis sahih menurut mereka adalah hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.[36]

Pengaruh Imamiyah di sini tampak pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi hadis tidak sampai pada tingkatan sahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan.[37]

Berdasarkan pada pengertian hadis sahih, ulama Syi’ah membatasi tentang hadis sahih pada setiap hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad, Ali> bin Abi> T}a>lib dan Imam dua belas.[38] Suatu keterangan yang dapat dipetik dari pemahaman di atas adalah bahwa derajat para Imam sama dengan derajat Nabi SAW dan itu juga berarti dalam periwayatan, segala yang disandarkan kepada Imam juga sama terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi SAW dalam hal kehujjahannya.[39]

2) Hadis Hasan

Hadis hasan menurut Syi’ah adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dari periwayat adil, sifat keadilannya sesuai dalam semua atau sebagian tingkatan para rawi dalam sanadnya.[40]

3) Hadis Muwassaq[41]

Hadis muwassaq adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang bukan Syi’ah, namun ia adalah orang yang siqah dan terpercaya dalam periwayatan. Jadi hadis muwassaq adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dengan orang yang dinyatakan siqah oleh para pengikut Syi’ah imamiyah, namun dia rusak akidahnya, seperti dia termasuk salah satu firqah yang berbeda dengan imamiyah meskipun dia masih seorang Syi’ah  dalam semua atau sebagian periwayat, sedangkan lainnya termasuk periwayat yang sahih.

4) Hadis Dha’if.[42]

Menurut pandangan Syi’ah, hadis dha’if adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari tiga kriteria di atas. Misalnya di dalam sanadnya terdapat orang yang cacat sebab fasik, atau orang yang tidak diketahui kondisinya, atau orang yang lebih rendah dari itu, seperti orang yang memalsukan hadis.[43]

Dalam hadis sahih, mereka menilai periwayat selain Ja’fariyah sebagai orang kafir atau fasik, sehingga riwayatnya dinyatakan dha’if yang tidak boleh diterima, begitu juga tidak diterima riwayat dari selain Ja’fariyah kecuali orang yang dinyatakan siqah oleh mereka.

Atas dasar itu mereka menolak hadis-hadis sahih dari tiga khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Usman) dan sahabat yang lain, tabiin, serta para imam ahli hadis dan fuqaha. Sebab riwayat-riwayat sahih yang di dalam sanadnya terdapat para sahabat senior dan para imam yang amanah, tetapi tidak percaya dengan akidah dua belas imam, maka riwayat-riwayat tersebut dinyatakan dha’if oleh Syi’ah.

Adapun hadis-hadis yang dha’if bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis sahih manakala hadis tersebut populer dan sesuai dengan ajaran mereka. Dengan demikian nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di kalangan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradisi Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. Sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalamnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja, melainkan memasukkan hal-hal lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad dan para imam mereka.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Epistemologi Hadis Sunni

Unsur-unsur epistemologi (sumber hadis atau asal pengetahuan, hakekat hadis, dan persoalan verifikasi) yang terkandung di dalam hadis Sunni antara lain; Pertama, sumber utama dalam hadis adalah Nabi Muhammad. Jadi tidaklah dianggap sebagai hadis jika sebuah khabar tidak disandarkan secara langsung kepada Nabi Muhammad.

Kedua, hakekat hadis adalah sama dengan al-Qur’an, yaitu sebagai sumber rujukan dalam penetapan hukum. Sekiranya hadis Nabi hanya berkedudukan sebagai sejarah tentang keberadaan dan kehidupan Nabi Muhammad semata, niscaya perhatian ulama terhadap otentisitas hadis akan lain daripada yang ada sekarang. Kedudukan hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam telah disepakati oleh hampir seluruh ulama dan umat Islam.

Ketiga, dalam hal verifikasi hadis sahih, para ulama menyusun berbagai kaedah dan kriteria kesahihan hadis untuk menjaga dan menyelamatkan hadis di tengah-tengah berkecamuknya pembuatan hadis palsu. Di antaranya adalah sanadnya bersambung sampai kepada Nabi saw.; rawinya bersifat ‘adil dan sempurna ingatan (d}a>bit}), tidak ada ‘illat, dan tidak ada kejanggalan

2. Epistemologi Hadis Syi’ah

Adapun unsur-unsur epistemologi dalam hadis Syi’ah pada dasarnya tidak ada perbedaan tentang hakekat hadis yang mempunyai kedudukan sebagai sumber ajaran Islam (dengan epistemologi hadis Sunni). Namun, perbedaan mendasar adalah mengenai sumber utama hadis, sikap mereka terhadap sahabat Nabi, dan persoalan verifikasi terhadap keotentikan hadis.

Pertama, tentang sumber hadis. Syi’ah beranggapan mengenai tidak terhentinya wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad saw dan masih tetap mengakui adanya hadis yang bersumber dari keturunan Nabi, khususnya dari Ali, bahkan para imam juga dianggap dapat mengeluarkan hadis.

Kedua, kaitannya dengan persoalan verifikasi kesahihan hadis, para ulama Syi’ah dalam kajian sanad suatu hadis telah memberikan kriteria-kriteria sebagai periwayat hadis. Di antaranya:

  1. Bersambung sanadnya kepada yang ma’s}u>m
  2. Seluruh periwayat dalam sanad berasal dari kelompok Imamiyah dalam semua tingkatan, dan
  3. Seluruh periwayat dalam sanad bersifat ‘adil dan d}a>bit}

DAFTAR RUJUKAN

Abba>s Mutawali H}ammadah, Sunah Nabi Kedudukannya Menurut al-Qur’an, Terj. Abdussalam (Bandung: Gema Risalah Press, 1997)

Abu Bakar ibn Ahmad ibn Sabit al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi ‘ilm al-Riwayah, (Kairo: Dar al-Kutub al-Hadisah, t.th.)

Abu Ishaq Ibrahim ibn Musa al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah, juz IV, (Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, t.th.)

al- Sya>fi’i>, al-Umm, jilid VII (Beiru>t: Da>r al-Fikr, tth.)

Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997)

Fazlur Rahman, Islam, Terj. Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka, 1994)

H}asan A>mi>n, Da>irat al-Ma’a>rif al-Isla>miyyah al-Syi>’iyyah, juz 11, jilid 3 (Beiru>t: Da>r al-Ta’a>ru>f, 1971)

Ibra>him A>nis, al-Mu’jam al-Wasi>t}} (Kairo: t.tp., 1972)

Izuddi>n ibn al-As|i>r, Usd al-G}a>bah Fi> Ma’rifat al-S}aha>bat, Jilid III (Kairo: Da>r al-Kutub al-H}adi>s|ah, 1386 H.)

Ja’far Subhani, Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah (Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th)

Jujun S. Suryasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990)

M. Aja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-H}adi>s| ‘Ulu>muhu wa Mus}t}ala>h}uhu (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1989)

M.H. Thaba>thaba>’i, Islam Syi’ah Asal Usul dan Perkembangannya (Jakarta: Grafiti Press, 1989)

Moh. Amin, Ijtihad Ibnu Taimiyah dalam Bidang Fikih Islam (Jakarta: INIS, 1991)

Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers terj. Dan ed. Robert D. Lee (Colorado: Westview Press, Inc., 1994)

Muh}{ammad Ti>ja>ni al-Samawi>, Syi>’ah: Pembela Sunnah Nabi, terj. Wahyul Mimbar (Iran: Muassah ‘an Sariyan, 2000)

Muh}amad Mus}t}afa> Azami>, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Mustafa Ya’qub  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999)

Muhamad Abu> Zahra>’, al-Ima>m al-S}a>diq H}aya>tuhu wa ‘As}ruhu wa Fiqhuhu (Beiru>t: Da>r al-Fikr, t.th.)

Muhammad ‘Abd al-‘azim al-Zarqani, Syarh al-Zarqani ‘ala Muwatta’ al-Imam Malik (Beirut: Dar al-Fikr, 1936)

Mus}t}afa> al-Siba>’i, Sunah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam; Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Terj. Nurcholis Madjid  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991)

Mus}t}afa> al-Siba>’i, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami (t.t.: al-Dar al-Qawmiyyah, 1966)

Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunah (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2000)

Nur al-Din al-‘Itr, al-Madkhal ila ‘Ulum al-Hadis (Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1972)

Rofiq Nurhadi, “Larangan Penulisan Hadis dan Implikasinya Terhadap Transformasi Hadis Pada Masa Nabi” dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. II, No. 2, Januari, 2002

S}ubh}i al-S}a>lih}, Ulu>m al-H}adi>s| wa Mus}t}ala>h}uhu (Beiru>t: Da>r al-Ilmi li al-Mala>yi>n, 1998)

Sa’dullah Al-Sa’di, Hadis-Hadis Sekte (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996)

Salah al-Din al-Idlibi, Manhaj Naqd al-Matn ‘ind ‘Ulama al-Hadis (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadida, 1983)

Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Epistemologi dan Logika: Studi Orientasi Filsafat Ilmu Pengetahuan (Bandung: Remaja Karya, 1986)

Yu>suf al-Qard}awi>, al-Qur’an dan al-Sunnah, Terj. Bahrudin Fanani  (Jakarta: Rabbani Press, 1997)


[1] Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers terj. Dan ed. Robert D. Lee (Colorado: Westview Press, Inc., 1994), hlm. 45.

[2] Sunni> adalah (kelompok moderat) antara dua golongan pecahan pendukung ‘Ali> bin Abi> T{a>lib, yaitu Syi>’ah dan Khawa>rij yang sama-sama ekstrem (Syi>’ah ekstrem kanan dan Khawa>rij ekstrem kiri), maka di antara kedua sekte tersebut adalah Sunni. Sa’dullah Al-Sa’di, Hadis-Hadis Sekte (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 63.

[3] Syi>’ah, secara etimologi kata ini berasal dari Sya>’a, yasyi>’u, syi>’ah yang artinya sahabat, penolong, atau pembela. Lihat Ibra>him A>nis, al-Mu’jam al-Wasi>t}} (Kairo: t.tp., 1972), hlm. 503. Adapun secara terminologi, Syi>’ah berarti suatu maz|hab umat Islam yang mengikuti imam 12 dari keluarga Rasulullah SAW melalui ‘Ali> bin Abi> T{a>lib dan anak-anaknya dalam semua urusan iba>dah dan mu’a>malah. Muh}{ammad Ti>ja>ni al-Samawi>, Syi>’ah: Pembela Sunnah Nabi, terj. Wahyul Mimbar (Iran: Muassah ‘an Sariyan, 2000), hlm. 10.

[4] Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Epistemologi dan Logika: Studi Orientasi Filsafat Ilmu Pengetahuan (Bandung: Remaja Karya, 1986), hlm. vii

[5] Jujun S. Suryasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990), hlm. 35

[6] Mustafa al-Siba’I, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami (t.t.: al-Dar al-Qawmiyyah, 1966), hlm. 53. sebagian ulama membedakan pengertian hadis dengan al-sunnah. Sufyan al-Sauri dikenal sebagai imam fi al-hadis dan bukan imam fi al-sunnah, al-Awza’I dikenal sebaliknya, sedang Malik ibn Anas dikenal sebagai imam fi al-hadis wa al-sunnah, dan ada ulama yang menyatakan, pengertian hadis lebih umum daripada sunnah, dan ada juga ulama yang berpendapat sebaliknya. Di samping itu ada ulama yang berpendapat, hadis berisi petunjuk Nabi untuk tujuan praktis, sedang sunnah merupakan hukum tingkah laku, baik terjadi sekali saja maupun terjadi berulang kali, baik dilakukan oleh Nabi, sahabat, tabi’in, maupun ulama pada umumnya. Muhammad ‘Abd al-‘azim al-Zarqani, Syarh al-Zarqani ‘ala Muwatta’ al-Imam Malik (Beirut: Dar al-Fikr, 1936), hlm. 3; Abu Ishaq Ibrahim ibn Musa al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah, juz IV, (Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, t.th.), hlm. 3-7; Fazlur Rahman, Islam (Chicago: University of Chicago Press, 1979), hlm. 53-58.

[7] Dikatakan hampir semua mazhab, karena ada sebagian kecil umat Islam yang tidak mempercayai dan menolaknya sebagai sumber ajaran Islam. Mereka inilah yang dinamakan Munkir al-Sunnah. Lihat Mus}t}afa> al-Siba>’i, Sunah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam; Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Terj. Nurcholis Madjid  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), hlm. 122. Muh}amad Mus}t}afa> Azami>, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Mustafa Ya’qub  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), hlm. 46-50.

[8] Penggunaan kata hadis dalam proposal ini adalah identik dengan sunah yaitu informasi yang dinisbatkan kepada Nabi SAW, baik berbentuk perkataan, perbuatan, taqri>r, maupun sifat khalqiyah/khuluqiyah. Antara keduanya pada hakikatnya sama. Lihat S}ubh}i al-S}a>lih}, Ulu>m al-H}adi>s| wa Mus}t}ala>h}uhu (Beiru>t: Da>r al-Ilmi li al-Mala>yi>n, 1998), hlm. 6.

[9] Dalam sejumlah ayat al-Qur’an, umat Islam diperintahkan untuk mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. QS. A>li Imra>n (3): 32 dan 132, QS. Al-H}asyr (5): 93, QS. Al-Nisa>’ (4): 193. Di sisi lain, keberadaan Muhamad SAW sebagai penyampai apa yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia {QS. Al-H}asyr (5): 67} ini, mestinya tidaklah dipahami sebagaimana petugas pos yang hanya mementingkan sesampainya surat ke alamat yang dituju tanpa tahu dan peduli isinya. Moh. Amin, Ijtihad Ibnu Taimiyah dalam Bidang Fikih Islam (Jakarta: INIS, 1991), hlm. 24.

[10] Aktualisasi prinsip-prinsip dasar al-Qur’an yang bersifat teoritik dioperasionalisasikan oleh Muhamad SAW melalui peneladanan. Lihat Yu>suf al-Qard}awi>, al-Qur’an dan al-Sunnah, Terj. Bahrudin Fanani  (Jakarta: Rabbani Press, 1997), hlm. 61.

[11] Tentunya, di samping ketentuan-ketentuan hadis Nabi SAW yang hanya mengkonfirmasi dan mengulangi pernyataan al-Qur’an (baya>n al-ta’ki>d). Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunah (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2000), hlm. 86. Mus}t}afa> al-Siba>’i, Sunah dan Peranannya…, hlm. 3-7. Lihat juga Abba>s Mutawali H}ammadah, Sunah Nabi Kedudukannya Menurut al-Qur’an, Terj. Abdussalam (Bandung: Gema Risalah Press, 1997), hlm. 215.

[12] Perbedaan antara keduanya hanyalah pada tingkat otentitasnya, tidak pada substansinya. Karenanya, hadis disebut juga dengan wahyu ghairu matluw. Lihat al- Sya>fi’i>, al-Umm, jilid VII (Beiru>t: Da>r al-Fikr, tth.), hlm. 271.

[13] Di samping, tidak adanya perintah secara resmi dari Nabi SAW untuk menghimpun dan menulis segala aspek kehidupannya sebagaimana al-Qur’an. Rofiq Nurhadi, “Larangan Penulisan Hadis dan Implikasinya Terhadap Transformasi Hadis Pada Masa Nabi” dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. II, No. 2, Januari, 2002, hlm. 68.

[14] Sekalipun pada masa ini hafalan dan peneladanan lebih dikedepankan, tidak berarti tradisi penulisan hadis Nabi SAW tidak ada sama sekali. Ada beberapa bukti tentang adanya tradisi penulisan hadis. Di antaranya, “al-S}ah}i>fah al-S}adi>qah” milik Abdulla>h bin Amr bin ‘A>s}, yang memuat sekitar seribu hadis, Lihat Izuddi>n ibn al-As|i>r, Usd al-G}a>bah Fi> Ma’rifat al-S}aha>bat, Jilid III (Kairo: Da>r al-Kutub al-H}adi>s|ah, 1386 H.), hlm. 233.

[15] Dengan kata lain, formalisasi hadis merupakan konsekuensi logis dari perkembangan orientasi praktis keagamaan di kalangan komunitas Islam yang sedang tumbuh. Fazlur Rahman, Islam, Terj. Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka, 1994), hlm. 69.

[16] Nur al-Din al-‘Itr, al-Madkhal ila ‘Ulum al-Hadis (Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1972), hlm. 15

[17] M. Aja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-H}adi>s| ‘Ulu>muhu wa Mus}t}ala>h}uhu (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1989). 250.

[18] Salah al-Din al-Idlibi, Manhaj Naqd al-Matn ‘ind ‘Ulama al-Hadis (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadida, 1983), hlm. 238

[19] H}asan A>mi>n, Da>irat al-Ma’a>rif al-Isla>miyyah al-Syi>’iyyah, juz 11, jilid 3 (Beiru>t: Da>r al-Ta’a>ru>f, 1971), hlm. 117.

[20] Abu> Zahrah mengutip pendapat Syaikh H}asan Zaynuddi>n dalam kitabnya Ma’a>lim al-Di>n, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hadis s}ah}i>h} adalah hadis yang sanadnya bersambung dengan yang ma’s}u>m, diriwayatkan oleh periwayat yang ‘adil dan d}a>bit} pada seluruh tingkatannya. Lihat Muhamad Abu> Zahra>’, al-Ima>m al-S}a>diq H}aya>tuhu wa ‘As}ruhu wa Fiqhuhu (Beiru>t: Da>r al-Fikr, t.th.), hlm. 425-426.

[21] Ibid

[22]Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 127.

[23] Jelas definisi ini berbeda dengan definisi hadis dari kalanggan sunni yang hanya menyandarkan segala hal yang bersumber dari Nabi Saw, baik perkataan, perbuatan, dan ketetapan. Menurut M. H. Thaba>thaba>’i, sekalipun hadis itu disandarkan kepada Nabi SAW dan Imam, namun keduanya dibedakan dengan jelas, yang keduanya merupakan satu himpunan tunggal. M.H. Thaba>thaba>’i, Islam Syi’ah Asal Usul dan Perkembangannya (Jakarta: Grafiti Press, 1989), hlm. 278.

[24] Abu> Zahra>’, al-Ima>m al-S}a>diq…, hlm. 317.

[25] Konsep mutawatir ini baru dikemukakan secara definitif oleh al-Baghdadi, meskipun ulama sebelumnya, seperti  al-Syafi’i telah mengisyaratkan dengan istilah “khabar ‘ammah“. Menurut al-Baghdadi, hadis mutawatir adalah “suatu hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dengan jumlah tertentu yang menurut kebiasaan mustahil mendustakan kesaksiannya. Abu Bakar ibn Ahmad ibn Sabit al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi ‘ilm al-Riwayah, (Kairo: Dar al-Kutub al-Hadisah, t.th.), hlm. 50. Sedangkan ulama yang paling jelas dan rinci menerangkan hadis mutawatir adalah al-‘Asqalani, menurutnya, hadis mutawatir adalah “hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang mustahil, menurut kebiasaan, mereka melakukan kesepakatan untuk berdusta dan merekalah yang meriwayatkan hadis itu dari awal sampai akhir sanad.”[25] Jadi berdasarkan definisi di atas, terlihat secara jelas bahwa proses mutawatir ada dan berjalan secara gradual dari generasi ulama ke generasi ulama lainnya.

[26] Hadis masyhur adalah hadis yang diriwayatkan dari Nabi oleh beberapa orang sahabat tetapi tidak mencapai derajat mutawatir. Boleh jadi di tingkat tabi’in dan seterusnya pada generasi yang lebih muda, hadis tersebut diriwayatkan secara mutawatir.Kemasyhuran sebuah hadis bersifat relatif. Misalnya ada sebuah hadis yang populer (masyhur) menurut ulama fiqh, ada yang masyhur di kalangan ahli hadis, ada juga yang masyhur di semua komunitas.

[27] Hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu, dua atau sedikit orang yang tidak mencapai derajat masyhur, apalagi mutawatir

[28] Ulama hadis Sunni sepakat mengenai definisi hadis sahih yaitu hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dhabit, serta tidak ada syadz (janggal) dan tidak ada cacat (‘illat).

[29] Hadis hasan adalah hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil, yang rendah tingkat kekuatan hafalannya, tidak rancu dan tidak bercacat.

[30] Hadis dha’f adalah hadis yang tidak memenuhi persyaratan dari hadis sahih di atas, misalnya, sanadnya ada yang terputus, di antara periwayat ada yang pendusta atau tidak dikenal, dan lain-lain.

[31] Para ulama hadis memberikan pengertian tentang hadis marfu’ adalah segala perkataan, perbuatan dan takrir yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw, baik bersambung sanadnya ataupun tidak, baik yang menyandarkan itu sahabat Nabi atau bukan. Jadi, yang terpenting adalah bahwa berita itu disandarkan kepada Nabi Muhammad saw.

[32] Yang dimaksud dengan hadis mauquf ialah perkataan atau perbuatan yang disandarkan kepada sahabat, baik sanadnya bersambung atau terputus

[33] Hadis maqthu’ adalah perkataan atau perbuatan yang disandarkan kepada tabi’in, baik sanadnya bersambung ataupun tidak

[34] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 125

[35] Yang disebut dengan hadis ghadir adalah wasiat Nabi Muhammad bahwa Ali ditunjuk sebagai pengganti beliau. Ibid, hlm.126.

[36] Ibid

[37]Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 127.

[38] Jelas definisi ini berbeda dengan definisi hadis dari kalanggan sunni yang hanya menyandarkan segala hal yang bersumber dari Nabi Saw, baik perkataan, perbuatan, dan ketetapan. Menurut M. H. Thaba>thaba>’i, sekalipun hadis itu disandarkan kepada Nabi SAW dan Imam, namun keduanya dibedakan dengan jelas, yang keduanya merupakan satu himpunan tunggal. M.H. Thaba>thaba>’i, Islam Syi’ah Asal Usul dan Perkembangannya (Jakarta: Grafiti Press, 1989), hlm. 278.

[39] Abu> Zahra>’, al-Ima>m al-S}a>diq…, hlm. 317.

[40] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 129.

[41] Muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.

[42] Ja’far Subhani, Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah (Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th), hlm. 48.

[43] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 130.

2 Komentar

Filed under Hadis - Ilmu Hadis

2 responses to “EPISTEMOLOGI HADIS: SUNNI DAN SYIAH

  1. Amir Mahmud

    ass…, sangat senang sekali saya bisa menemukan blog ini.
    InsyA saya bermaksud untuk menjalin silaturrahmi dan mendiskusikan beberap keilmuan, terutama tentang hadis-hadis yang berkaitan dengan dengan aliran.
    mohon berkenan dan terima kasih.

  2. Adri

    thanks tulisannya, ijin di copas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s