KLASIFIKASI HADIS DAN STUDI TENTANG AL-SYUZUZ DAN AL-‘ILLAT

A. Pendahuluan

Meneliti kebenaran suatu berita, merupakan bagian dari upaya membenarkan yang benar dan membatalkan yang batal. Kaum muslimin sangat besar perhatiannya dalam hal ini, baik untuk menetapkan suatu pengetahuan atau pengambiln suatu dalil. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan riwayat hidup Nabi mereka, yang berupa   ucapan dan perbuatan yang dinisbahkan kepada beliau.[1]

Pembahasan tentang pembagian hadis secara umum tentu saja akan sangat kompleks dan dibutuhlan perhatian tersendiri. Karena pembagian hadis tidak bisa terlepas dari sudut pandang mana hadis tersebut dilihat. Kalau suatu hadis ditinjau dari jumlah periwayat (kuantitas), akan dihasilkan hadis mutawatir, hadis masyhur, hadi ahad. Sedangkan jika ditinjau dari segi kualitas (diterima atau ditolaknya sebuah hadis), maka akan dihasilkan; hadis sahih, hadis hasan dan hadis da’if.

Adapun fokus kajian ini akan diarahkan lebih pada hal-hal yang  berkaitan pembagian hadis yang berkaitan dengan kritik sanad dan matan (pembahasan tentang syuzuz dan ‘illat)

B. Klasifikasi hadis[2]

Dari Segi Jumlah Periwayat (Kuantitas).

Dalam menyampaikan sebuah hadis terkadang Nabi berhadapan dengan sahabat yang jumlahnya sangat banyak, terkadang dengan beberapa orang, terkadang hanya dengan satu atau dua orang saja. Demikian juga halnya dengan para sahabat Nabi, untuk menyampaikan hadis tertentu  kadang didengar oleh banyak murid, tetapi hadis yang lain hanya didengar oleh beberapa atau bahkan hanya didengar oleh satu, dua orang saja. Dalam hal ini hadis dibagi menjadi tiga, yaitu;

1. Hadis Mutawatir. Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang disetiap tabaqat, sejak generasi sahabat hingga generai akhir (mukharrij hadis); dimana orang-orang tersebut mustahil akan sepakat untuk berdusta.[3]

Contoh: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia siap-siap untuk menduduki tempatnya di api neraka”

Menurut al-Bazzar, hadis ini diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, sedangkan menurut al-Nawawi hadis tersebut iriwayatkan oleh 200 orang sahabat

2. Hadis Masyhur.[4] Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh beberapa orang sahabat tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir,.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa panamaan hadis sebagai hadis masyhur  tidak dilihat dari jumlah pariwayatnya, tetapi dilihat dari popularitasnya di kalangan masyarakat tertentu. Dengan demikian ada hadis masyhur di kalangan ulama fiqih, ada yang masyhur di kalangan ulama ilmu kalam, ada yang masyhur di kalangan ulama hadis dan ada hadis yang masyhur di kalangan masyarakat umum.

Contoh: hadis yang masyhur di kalangan ulama fiqih “ perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talaq”.

3. Hadis Ahad.[5] Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh satu, dua atau sedikit orang yang tidak mencapai derajat masyhur, apalagi mutawatir. Sebenarnya pembagian hadis menjadi tiga jenis ini adalah menurut mazhab Hanafi. Menurut ulama hadis pada umumnya, hadis hanya dibagi menjadi dua, Mutawatir dan Ahad. Ini artinya, Hadis Masyhur termasuk bagian dari Hadis Ahad.

Dari Segi Diterima atau Ditolaknya Hadis (Kualitas)

Sebagai pijakan awal untuk mengantarkan pada pembahasan yang lebih dalam mengenai al-syuzuz dan illat, terlebih dahulu akan ditekankan pembagian hadis dan pengertian  (definisi) tentang hadis sahih.

Para ulama dari kalangan mutaqaddimin, yakni ulama hadis sampai abad III H. belum memberikan pengertian yang eksplisit (sharih) tentang hadis sahih. Mereka pada umumnya hanya memberikan penjelasan tentang penerimaan berita yang dapat dipegangi  meliputi hal-hal sebagai berikut:[6]

  1. Tidak boleh diterima suatu riwayat hadis kecuali yang berasal dari orang-orang yang siqat.[7]
  2. Hendaklah  orang yang akan memberikan riwayat hadis itu diperhatikan ibadah salatnya. Prilakunya dan keadaan dirinya; apabila salatnya, prilakunya dan keadaan orang itu tidak baik, maka jangan diterima riwayat hadisnya.
  3. Tidak boleh diterima riwayat hadis dari orang yang tidak dikenal memiliki pengetahuan hadis.
  4. Tidak boleh diterima riwayat hadis dari orang-orang yang suka berdusta, mengikuti hawa nafsunya dan tidak mengerti hadis yang diriwayatkannya.
  5. Tidak boleh diterima riwayat hadis dari orang yang ditolak kesaksiannya.[8]

Pernyataan-pernyataan tersebut tertuju kepada kualitas dan kapasitas periwayat, baik yang boleh diterima maupun yang harus ditolak riwayatnya. Berbagai pernyataan itu belum melingkupi seluruh syarat kesahihan suatu hadis.[9]

Selanjutnya ulama muta’akhkhirin  telah memberikan difinisi hadis sahih secara tegas,[10] Ibn Shalah (w. 643 H=1245 M), salah seorang ulama hadis mutaakhkhirin yang memiliki banyak pengaruh di kalangan ulama hadi sezamannya dan sesudahnya memberikan definisi sebagai berikut:

“Hadis sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi), diiwayatkan oleh periwayat yang adil dan dhabit sampai akhir sanad, dan hadis itu tidak terdapat kejanggalan (syuzuz) dan cacat (illat).[11]

Dari definisi ini para ulama hadis telah menetapkan lima persyaratan untuk menerima-baik hadis-hadis Nabi, yaitu; tiga berkenaan dengan sanad (mata rantai para periwayt) dan dua berkenaan dengan matan (materi hadis).

  1. Setiap periwayat dalam sanad suatu hadis haruslah seorang yang dikenali sebagai penghafal yang cerdas dan teliti serta benar-benar memahami apa yang didengarnya, kemudian ia meriwayatkannya setelah itu, tepat seperti aslinya.
  2. Di samping kecerdasan yang dimilikinya, ia juga harus seoang yang mantap kepribadianna dan bertakwa kepada allah, serta menolak dengan tegas setiap pemalsuan atau penyimpangan.
  3. Kedua sifat tersebut (point 1 dan 2) harus dimiliki oleh masing-masing periwayat dalam seluruh rangkaian para periwayat suatu hadis. Jika hal itu tidak terpenuhi pada diri seseorang saja dari mereka, maka hadis tersebut tidak dianggap mancapai derajat sahih.
  4. Mengenai matan (materi) hadis itu sendiri, ia harus tidak bersifat syaz, (yakni salah seorang periwayatnya bertentangan dalam periwayatannya dengan periwayat lainnya yang dianggap lebih akurat dan lebih dapat dipercaya.
  5. Hadis tersebut harus bersih dari illat qadihah (yakni cacat yang iketahui oleh para ahli hadis, sehingga mereka menolaknya).[12]

Persyaratan-persyaratan di atas merupakan acuan utama untuk menentukan kualitas hadis, baik sanad maupun matan. Setelah melihat berbagai macam hadis dari keadaan sanad dan matannya, maka hadis dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu; sahih, hasan dan da’if. Dengan demikian, hasil penelitian hadis ahad dilihat dari keadaan sanad dan matannya tidak akan terlepas dari ketiga kemungkinan kualitas tersebut. Adapun Mengenai pembagian hadis ditinjau dari segi diterima atau ditolaknya (kualitas) suatu hadis adalah sebagai berikut:

a. Hadis Shahih

Ibn al-Shalah merumuskan bahwa Hadis shahih adalah hadis yang musnad, yang sanadnya bersambung, dinwayatkan oleh orang yang berwatak adil dan dhabith dan orang yang berwatak seperti itu juga sampai puncaknya, hadis mana tidak syadz dan tidak pula mengandung cacat.[13]

Definisi itu kemudian diringkas oleh Imam al-Nawawi, sebagaimana  dikutip oleh al-Suyuthi, hadis sahih adalah Hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang-orang adil dan dhabit, serta tidak syadz dan tidak cacat.[14]

Dan masih banyak defmisi lain dikemukakan oleh ulama hadis. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa hadis Shahih itu mengandung unsur sebagai berikut:

1)      Sanadnya bersambung, semenjak dari Nabi, Sahabat, hingga periwayat terakhir.

2)      Periwayatnya orang yang memiliki sifat ‘adil dan dhabith. ‘Adil artinya, periwayat setia mengamalkan agamanya sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Periwayat tidak pernah bohong, apalagi pembohong. Dhabit artinya, periwayat mempunyai ha-falan yang kuat, cermat, dan mengetahui ada perubahan periwayatan atau tidaknya. Periwayat tidak pelupa.

3)      Informasi hadisnya tidak syadz. Maksudnya, informasi yang terkandung di dalamnya tidak bertentangan dengan informasi lain yang dibawa oleh orang-orang yang lebih berkualitas, atau dalil lain yang lebih kuat. Sebab, sungguh pun sebuah hadis diriwayatkan oleh orang-orang “berkualitas” dan bersambung sanadnya sehingga hadis itu dapat dikatakan shahih sanadnya, kalau kandungan hadisnya (matannya) ternyata syadz, maka hadis itu menjadi tidak shahih.

4)      Hadis yang diriwayatkan itu tidak cacat, seperti, tidak ada pengelabuhan dengan cara menyambung sanad hadis yang se­benarnya memang tidak bersambung, atau mengatasnamakan dari Nabi, padahal sebenarnya bukan dari Nabi.

b. Hadis Hasan

Yang dimaksud  dengan hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, dari awal hingga akhir, para periwayatnya bersifat adil namun kdabitannya tidak mencapai derajat sahih, serta terhindar dari kejanggalan (syaz) dan cacat (illat). Perbedaan pokok antara hadis sahih dan hadis hasan dala hal ini adalah pada kedabitan periwayat. Pada hadis sahih, kualifikasi kedabitan periwayat bertingkat sempurna, sedang pada hadis hasan kedabitan periwayat itu kurang sdikit, namun kekurangannya itu tidak sampai menjadikan hadis yang diriwayatkannya berkualitas lemah. Kualifikasi kedabitan seperti itu dalam ilmu hadis diberi istilah khafifud-dabt.[15]

Ulama membagi hadis sahih dan hasan , masing-masing kepada dua macam, yakni sahih lizatihi (sahih karena dirinya sendiri), sahih lighairih (sahih karena dukungan dari lainnya). Hasan lizatih (hasan karena dirinya sendiri) dan hasan lighairih (hasan karena dukungan dari lainnya). [16]

Contoh: (Dan Muhammad ibn ‘Amr dari Abu Salamah dart Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. berkata, “Sekiranya tidak merepotkan kepada umatku, niscaya aku perintah mereka bersiwak (gosok gigi) untuk setiap kali hendak salat.”)[17]

Diperoleh informasi bahwa seorang periwayat yang bernama Muhammad ibn ‘Amru ibn ‘Alqamah terkenal kejujurannya. Tetapi, ia tidak termasuk orang yang kuat hafalan. Karena itu ada yang menilainya lemah dari segi kekuatan hafalan, dan ada yang menilai ‘”adil” dari segi kejujurannya, sehingga, hadis ini disebut Hasan li dzatih. Kemudian ia naik derajat menjadi Shahih li ghairih karena hadis tersebut diriwayatkan melalui jalur lain, oleh al-A’raj dan Sa’id al-Maqbari.[18]

c. Hadis Dha’if

Yang dimaksud hadis da’if adalah hadis yang tidak memenuhi sebagian atau seluuh syarat hadis sahih atau hasan., misalnya, sanadnya ada yang terputus, di antara periwayat ada yang pen-dusta atau tidak dikenal, dan lain-lain. Seperti halnya hadis Hasan itu dapat naik tingkatannya menjadi shahih li ghairih, ada hadis dha’if tertentu yang dapat naik tingkatan menjadi Hasan li ghairih. Yaitu hadis yang di dalam sanadnya terdapat periwayat yang tidak terkenal di kalangan ulama Hadis. Orang tersebut tidak dikenal banyak salah, tidak pula dikenal berdusta. Kemudian, hadis ini dikuatkan oleh hadis yang sama melalui jalur lain.[19] Hadis yang dha’ifhya disebabkan oleh hal di atas digunakan oleh banyak orang Islam untuk dalil fadha^ilul a’tnal. Adapun hadis dha’if jenis lain tidak dibenarkan untuk dalil keagamaan karena kadar kedhaifan-nya tinggi. Dha’if seperti ini juga tidak dapat naik derajatnya men­jadi hasan lighairih.

Menurut pendapat Ibn Taimiyah, pembagian kualitas hadis menjadi sahih, hasan dan da’if itu berlaku mulai zaman Imam Turmuzi (w 279 H/892 M). Pada zaman sebelumnya, pembagian kualitas hadis hanya dikenal dua macam saja, yaitu sahih dan da’if.

1) Jenis-Jenis Hadis Dha’if

Menurut Ibn Hibban al-Bustiy (wafat 354 H = 965 M), jumlah hadis dha’if ada empat puluh sembilan macam.123 Menurut al-Mannawiy (wafat 1031 H), secara teoritis hadis dha’if dapat mencapai seratus duapuluh sembilan macam, tetapi yang dimungkinkan terwujudnya, ada delapan puluh satu macam. Sebagian ulama lagi menyebutkan jumlah yang berbeda dari jumlah yang telah disebutkan sebelumnya.124 Walaupun angka jumlah hadis dha ‘if tidak disepakati oleh ulama, akan tetapi di sisi yang lain penyebutan angka itu menunjukkan bahwa hadis dha ‘if memang cukup banyak jumlahnya.[20]

Dalam pembahasan ini, macam-macam hadis dha’if tersebut tidak diuraikan secara terinci dan mendalam. Pokok pembahasan dibatasi hanya pada pengertian beberapa macam hadis dha’if secara umum saja. Ada beberapa sebab yang menjadikan sebuah hadis diberi nilai dha’if. Ada kalanya sanadnya tidak bersambung, ada kalanya juga karena periwayatnya tercacat atau sebab lain.

a) Hadis Dha’if yang disebabkan oleh keterputusan sanad

Dalam hubungannya dengan tidak terpenuhinya unsur sanad bersambung, secara garis besar Ibn Hajar al-’Asqalaniy membagi hadis dha’if kepada lima macam. Yakni, hadis mu’allaq, hadis mursal, hadis mu’dhal, hadis munqathi’, dan hadis mudallas[21].Kelima macam istilah ini menerangkan letak dan jumlah periwayat yang terputus dalam sanad.[22]

  • Hadis Mu’allaq.

Yang dimaksud dengan hadis mu ‘allaq[23] ialah hadis yang periwayat di awal sanad-nya (periwayat yang disandari oleh penghimpun hadis) gugur (terputus), seorang atau lebih secara berurutan. Jadi, yang menjadi patokan dalam hal ini adalah keterputusan periwayat di awal sanad. Apabila yang terputus lebih dari seorang periwayat, maka keterputusan itu harus dimulai dari awal sanad secara berurutan. Sekiranya periwayat yang terputus (gugur) bukan di awal sanad, atau tidak berurutan, maka hadis itu tidak dinamakan sebagai mu’allaq. Di segi yang lain, hadis mu’allaq. adalah hadis marfu’, karena hadis itu disandarkan kepada Nabi.

  • Hadis Mursal.

Yang dimaksud dengan hadis mursal[24] menurut mayoritas ulama hadis, ialah hadis yang disandarkan langsung kepada Nabi oleh al-tabi’iy, baik al-tabi’iy besar maupun al-tabi’iy kecil, tanpa terlebih dahulu hadis itu disandarkan kepada sahabat Nabi. Menurut pendapat ini, hadis dinyatakan sebagai mursal, apabila hadis itu marfu’ dan periwayat yang berstatus al-tabi ‘iy tidak menyebutkan nama sahabat yang menerima langsung hadis itu dari Nabi. Dalam hal ini, al-tabi ‘iy tidak dibedakan antara yang senior dan yang yunior.[25]

Sebagian ulama mensyaratkan, al-tabi’iy yang menyandarkan hadis langsung kepada Nabi itu haruslah al-tabi’iy besar, misalnya Sa’id bin al-Musayyab (wafat 94 H = 712 M). Karena, al-tabi’iy besar menerima hadis pada umumnya langsung dari sahabat Nabi. Sedang apabila yang menyandarkan al-tabi’iy kecil, misalnya Ibn Syihab al-Zuhriy (wafat 124 H = 742 M), maka hadis itu tidak disebut sebagai hadis mursal, melainkan disebut sebagai hadis munqathi’. Karena, al-tabi’iy kecil menerima hadis pada umumnya dari al-tabi ‘iy besar dan tidak langsung dari sahabat Nabi. Menurut pendapat ini, hadis mursal itu harus marfu’, periwayat yang terputus (gugur) haruslah periwayat yang berstatus sahabat Nabi dan periwayat yang menggugurkan haruslah al-tabi’iy besar.[26]

  • Hadis Mu ‘dhal.

Yang dimaksud hadis mu’dhal adalah hadis yang terputus sanad-nya, dua orang periwayat atau lebih secara berurut. Termasuk jenis ini adalah hadis yang dimursalkan oleh tabi’ al-tabi’i.

Menurut ulama hadis, apabila kalangan ulama fiqh, misalnya al-Sya-fi’iy, menyatakan dalam kitabnya, “Telah bersabda Rasulullah SAW …,” maka hadis tersebut adalah mu ‘dhal. Karena, ulama fiqh yang sezaman dengan al-Syafi’iy pada umumnya hidup pada masa sesudah generasi al-tabi’in. Dengan demikian mereka menerima riwayat hadis Nabi melalui, sedikitnya, dua generasi. Jadi, dalam riwayat hadis yang mereka kemukakan seperti contoh di atas, terdapat dua atau tiga orang periwayat secara berurut yang tidak mereka sebutkan;! Sedang menurut ulama fiqh atau ushul al-fiqh, sebagaimana telah dikemukakan di atas, hadis yang demikian itu disebut sebagai hadis mursal.

  • Hadis Munqathi’[27]

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Pendapat-pendapat ulama tersebut sebagai berikut: [1] hadis munqathi’ ialah hadis yang sanad-nya terputus di bagian mana saja, baik di bagian periwayat yang berstatus sahabat, maupun periwayat yang bukan sahabat; [2] hadis munqathi’ ialah hadis yang sanad-nya terputus, karena periwayat yang tidak berstatus al-tabi ‘in dan sahabat Nabi telah menyatakan menerima hadis dari sahabat Nabi; [3] hadis munqathi’ ialah hadis yang bagian sanad-nya sebelum sahabat, jadi periwayat sesudah sahabat, hilang atau tidak jelas orangnya; [4] hadis munqathi’ adalah hadis yang dalam sanad-nya ada periwayat yang gugur seorang atau dua orang tidak secara berurutan; [5] hadis munqathi’ ialah hadis yang dalam sanad-nya ada seorang periwayat yang terputus atau tidak jelas; [6] hadis munqathi’ ialah hadis yang sanad-nya di bagian sebelum sahabat, jadi periwayat sesudah sahabat, terputus seorang atau lebih tidak secara berurut dan tidak terjadi di awal sanad; dan [7] hadis munqathi’ ialah pernyataan atau perbuatan al-tabi’in.[28]

  • Hadis Mudallas.[29]

Dikatakan mudallas, karena dalam hadis itu terdapat tadlis yaitu bercampurnya gelap dan terang. Adapun hadis mudallas dinamai demikian karena ia mengandung kesamaran dan ketertutupan. Jadi yang dimaksud dengan hadis mudallas adalah hadi yang di dalamnya ada sesuatu yang disembunyikan.

Menurut ulama hadis, jenis tadlis secara umum ada dua macam, tadlis al-isnad dan tadlis al-syuyukh.

Yang dimaksud dengan tadlis al-isnad ialah seorang periwayat menerima hadis dari orang yang semasa, tetapi tidak bertemu langsung. Atau ia menerima/bertemu langsung, tetapi tidak menyebut namanya. Misalnya, ia hanya mengatakan, “saya mendengar hadis dari si polan”. Diperkirakan, tidak menyebut nama itu mengandung maksud agar aib yang ada pada guru tidak kelihatan. Ulama sangat mencela periwayat yang melakukan tadlis, khususnya tadlis al-isnad.1 Karena, orang yang me-lakukan tadlis telah melakukan pengelabuan kualitas hadis kepada orang lain. Kualitas hadis yang bercacat dilaporkan seolah-olah tidak bercacat.

Periwayat yang telah diketahui pernah melakukan tadlis, misalnya dia menggunakan kata-kata sami’tu atau haddasaniy pada hal dia tidak me-nerima riwayat hadis itu dengan al-sama’, seluruh hadis yang disampaikan oleh periwayat tersebut ditolak oleh ulama hadis.  Sikap ulama menolak riwayat dari periwayat yang telah men-tadlis-kan hadis, walaupun pen-tadlis-an itu hanya dilakukan sekali saja, merupakan sikap yang sangat hati-hati dari ulama hadis.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan tadlis al-syuyukh ialah seorang periayat menyebut nama pemberi hadis, bukan namanya yang dikenal oleh halayak, tetapi namanya kurang dikenal. Misalnya, al-Khatib berkata,  “Telah bercerita kepada kami Ali Ibn Abu Ali al-Bishri……” nama yang terkenal tokoh yang dimaksu adalah Abul Qasim Ali ibn Abu Ali, bukan Ali saja. Tampaknya hal yang lumrah bila orang itu lebih dikenal nama kampungnya dari pada namanya sendiri, seperti ada juga orang yang lebih dikenal dengan namanya dari pada gelarnya.

Kesalahan penyebutan identitas pribadi guru tersebut memang sangat dimungkinkan. Karena, periwayat hadis yang memiliki nama ataupun kunyah yang mirip cukup banyak jumlahnya dengan kualitas pribadi yang berbeda.[30]

Ulama hadis telah membahas cukup panjang berbagai hadis yang termasuk jenis mudallas. Hal ini sebagai salah satu bukti, betapa ulama hadis sangat hati-hati dalam melakukan penelitian hadis.

b) Hadis Dha’if yang disebabkan oleh cacat periwayatnya.

Selain macam-macam hadis yang telah dikemukakan di atas, masih ada lagi jenis hadis yang termasuk terputus sanad-nya. Yakni, hadis-hadis mawquf, maqthu’, syadz, dan mu’all (mu’allal). Dua macam hadis yang disebutkan pertama, sanad-nya tidak sampai kepada Nabi, sedang dua macam yang disebutkan terakhir, sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan terdahulu, bentuk keterputusan sanad-nya cukup beragam.

Adapun hadis yang tidak memenuhi unsur-unsur periwayat bersifat adil dan atau periwayat bersifat dhabit, jenisnya cukup banyak. Hal ini di-sebabkan karena kualitas ketercelaan periwayat hadis cukup banyak macam-nya.

Ibn Hajr al-’Asqalaniy membagi periwayat hadis, dilihat dari sifat ketercelaan yang dimiliki oleh para periwayat, kepada sepuluh macam peringkat. Sifat ketercelaan periwayat yang disebutkan lebih dahulu me­miliki peringkat yang lebih buruk daripada sifat ketercelaan yang disebutkan berikutnya. Urutan peringkat itu diberi istilah-istilah sebagai berikut: [1] al-kadzib, maksudnya: dikenal suka berdusta; [2] al-tuhmat bi al-kadzib, maksudnya: tertuduh telah berdusta; [3]fahusya ghalathuhu, maksudnya: riwayatnya yang salah lebih banyak daripada yang benar; [4] al-ghaflat ‘an al-itqan, maksudnya: lebih menonjol sifat lupanya daripada hafalnya; [5] al-fisq, maksudnya: berbuat atau berkata fasik tetapi belum sampai men-jadikannya kafir; [6] al-wahm, maksudnya: riwayatnya diduga mengandung kekeliruan; [7] al-mukhalafah ‘an al-siqat, maksudnya: riwayatnya ber-lawanan dengan riwayat orang-orang yang siqat; [8] al-jahalah, maksud­nya: tidak dikenal jelas pribadi dan keadaan periwayat itu; [9] al-bid’at, maksudnya: berbuat bid’ah yang mengarah ke fasik, tetapi belum menjadi-kannya kafir; dan [10] su’ al-hijzh, maksudnya: hafalannya jelek sehingga riwayatnya banyak salah, tetapi di samping itu ada juga yang benar. Jadi, periwayat yang disifati dengan sifat ketercelaan yang termaktub di butir pertama lebih buruk tingkat ketercelaannya daripada periwayat yang disifati dengan sifat ketercelaan yang termaktub di butir kedua, dan demikian seterusnya.[31]

Menurut Ibn Hajar, lima macam dari kesepuluh peringkat sifat ke­tercelaan tersebut merusak keadilan periwayat, sedang lima macam lainnya merusak ke-dhabith-an periwayat.19 Ibn Hajar tidak menjelaskan secara terinci sifat-sifat ketercelaan yang masing-masing merusak keadilan dan ke-dhabith-an dimaksud.[32]

‘Aliy al-Qariy (wafat 1014 H) menyatakan, sifat-sifat ketercelaan yang dikemukakan oleh Ibn Hajar yang merusak keadilan periwayat ialah: [1] al-kadzib; [2] al-tuhmat bi al-kadzib; [3] al-fisq; [4] al-jahalat; dan [5] al-bid’at. Sedang lima macam selainnya merusak ke-dhabith-an peri-wayat.

Adapun hadis-hadis yang dianggap daif  karena kecacatan dari periwayat adalah:

  • Hadis Mudha’af.

Yang dimaksud hadis mudha’af adalah hadis yang tidak disepakati kedhaifannya. Sebagian ahli hadis menilainya mengandung kedha’ifan, baik di dalam sanad maupn dalam matan, dan sebagian yang lain menilainya kuat. Akan tetapi penilaian dhaif itu lebih kuat. Dengan demikian hadis mudhaf dianggap sebagai hadi daif yang paling tinggi tingkatannya.

  • Hadis Matruk.

Yaitu hadis yang diriwayatkan melalui hanya saru jalur yang di dalamnya terdapat seorang periwayat yang tertuduh pendusta, fasiq, atau banyak lalai.[33] Dusta itu, boleh jadi dalam soal meriwayatkan hadis maupun soal lain. Hadis semacam ini disebut matruk, bukan maudhu’, karena peri­wayat tersebut baru dicurigai berdusta meriwayatkan hadis, bukan terbukti telah membuat hadis.

  • Hadis Mu’allal.

Yaitu hadis yang kelihatannya tidak me-ngandung cacat (sanad atau matan atau keduanya), setelah diadakan penelitian mendalam, ternyata ada cacatnya. Pada umumnya, cacat itu pada sanad. Misalnya, “menyam-bung” sanad yang sebenarnya terputus. Sedangkan cacat pada matan, sering kali mengambil bentuk penambahan kalimat oleh periwayat atas teks hadis, seolah-olah, tam-bahan itu termasuk matan hadis.

Meneliti ‘illat hadis dimaksud sangat rumit, karena, hadis itu kelihatannya sudah shahih. Untuk penelitian ini di-perlukan intuisi, kecerdasan, kekuatan hafalan, dan banyak-nya hadis yang dihafal. Kata Imam al-Hakim, kemampuan meneliti ‘illat hadis semacam ini bagaikan kemampuan se-seorang dapat membedakan uang logam palsu dari yang asli melalui pendengaran lentingannya.[34]

  • Hadis Munkar.

Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh orang lemah yang menyalahi riwayat orang yang lebih terpercaya dari padanya. Dengan definisi ini maka ia kebalikan dari hadis ma’ruf, yang biasa didefinisikan “Hadis yang di­riwayatkan oleh periwayat tsiqah yang menyalahi riwayat orang dha’if.”

  • Hadis Syadz.

Yaitu yang diriwayatkan oleh orang terper­caya, tetapi bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh orang yang lebih terpercaya lagi. Jadi, sebuah hadis disebut syadz apabila terdapat di dalamnya periwayat yang menyendiri dan bertentangan. Sementara, hadis yang lebih kuat sebagai bandingannya disebut mahfuzh. Misalnya, sebuah hadis yang mendeskripkan perkataan Nabi tentang sesuatu, tetapi periwayat lain yang lebih kuat mengatakan bahwa itu adalah perbuatan beliau, bukan perkataan. Beda antara hadis munkar dengan syadz, kalau hadis munkar diriwayatkan oleh orang yang “lemah”, sedangkan hadis syadz diriwayatkan oleh orang terpercaya.

Untuk sampai pada kesimpulan bahwa sebuah hadis itu syadz, diperlukan ketekunan yang sungguh karena kegiatan-nya menghimpun matan hadis yang temanya sama dengan jalur yang berbeda-beda.

  • Hadis Mudhtharib

Mudhtharib artinya goncang. Dimaksudkan di sini adalah sebuah hadis yang diriwayatkan melalui beberapa jalur yang sanad atau matannya saling berlawanan, baik periwayat itu satu atau beberapa orang. Pertentangan tersebut tidak dapat disatukan atau salah satunya dikalahkan. Bila salah satunya dapat di­ kalahkan, maka yang menang dijadikan dalil. Atau dapat disimpulkan bahwa pertentangan itu, yang satu menghapus (naskh) terhadap lain, maka hadis yang menghapus dipergunakan sebagai dalil.

Adapun hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dengan redaksi yang berbeda tetapi isinya sama, maka hadis semacam itu tidak termasuk mudhtharib, tetapi riwayat bil-ma’na. Justru, hadis jalur satu menguatkan jalur yang lain-nya. Misalnya, sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Nabi menikahkan seorang shahabat sebagai tercantum dalam hadis riwayat shahabat yang bernama Sahal ibn Sa’ad.

  • Hadis Maqlub.

Yaitu hadis yang periwayatnya meng-ganti-kan sebagiannya dengan yang lain, baik yang ditukar itu sanad atau matan, baik disengaja atau tidak.

Contoh sebuah hadis riwayat Abu Hurairah tentang perilaku sujud dalam salat: Bila salah seorang di antara kamu bersujud, maka hendaknya ia tidak merebahkan diri seperti onto, tetapi hendaknya ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.[35]

Setelah diadakan penelitian, ternyata hadis ini berten-tangan dengan hadis jalur lain yang mengatakan bahwa ketika sujud itu hendaknya meletakkan tangan dulu, bukan meletakkan lutut dulu.[36]

C. Pembahasan tentang al-Syuzuz dan al-Illat

1. Meneliti  Syudzudz

Ulama berbeda pendapat tentang pengertian syadz, dalam hadis. Perbedaan yang menonjol ada tiga macam. Yaitu, pendapat yan dikemukakan oleh al-Syafii, al-Hakim, dan Abu Ya’la al-Khaliliy (w. 446). Pada umumnya ulama hadis mengikuti pendapat al-Syafi’iy.

Menurut al-Syafi’I, suatu hadis tidak dinyatakan sebagai mengandung syudzudz, bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang siqat, sedang periwayat yang siqat lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. Adapun suatu hadis diyatakan mengandung syudzudz, bila hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang siqat tersebut bertentangan dengan hadi yang diriwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat siqat.

Dari penjelasan al-Syafi’I tersebt dapat dinyatakan, bahwa hadi syadz tidak disebabkan oleh:

  1. Kesendirin individu periwayat dalam sanad hadis, yang dalam ilmu hadis dikenal dengan istilah hadis fard mutlak (kesendirian absolut)
  2. Periwayat yang tidak siqat.

Suatu hadis dinyatakan mengandung syadz bila:

  1. Hadis itu memiliki lebih dari satu sanad.
  2. Para periwayat hadis itu seluruhnya siqat.
  3. Matan dan atau sanad hadis itu ada yang mengandung pertentangan

Hadis yang mengandung syudzudz ini oleh ulama disebut sebagai hadis syadz, sedang lawan dari hadis syadz adalah hadis mahfudz.

Adapun menurut al-Hakim al-Naysabury, hadis syadz ialah hadis yang diriwayatkan oleh eoarang periwayat yang siqat, tetapi tidak ada periwayat siqat lainnya yang meriwayatkanya.

Dari penjelasan al-Hakim ini dapat dinyatakan, bahwa hadis syadz tidak disebabkan oleh:

  1. Periwayat yang tidak siqat.
  2. Pertentangan matan dan atau sanad hadi dari para periwayat yang sama-sama siqat.

Hadis dinyatakan sebagai syadz, bila:

  1. Hadis itu diriwayatkan oleh seorang periwayat saja
  2. Periwayat yang sendirian itu bersifat siqat. Namun jika hadis itu memiliki mutabi’ atau syahid, maka syudzudz itu tidak terjadi.

Sedangkan menurut Abu al-A’la al-Khalili, hadis syadz adalah hadis yang sanadnya hanya satu macam, baik periwayatnya bersifat siqat maupun tidak siqat. Apabila periwayatnya tidak siqat, maka hadis itu ditolak sebagai hujjah, sedang bila periwayatnya siqat, maka hadis itu dibiarkan (mutawaqqaf), tidak ditolak dan tidak diterima sebgai hujjah.

Pendapat al-Khaliliy ini hampir sama dengan pendapat al-Hakim. Perbedaan keduanya terletak pada kualitas periwayat. Al-Hakim mensyaratkan periwayat harus siqat, sedang al-Khaliliy tidak.

Ibn al-Shalah dan al-Nawawi telah memilih pengertian hadis syadz yan diberikan oleh al-Syafi’i. Karena, penerapannya tidak sulit,  apabila pendapat al-Hakim dan al-Khaliliy yang diikuti, maka banyak hadis yang oleh mayoritas ulama hadis telah dinilai sahih akan berubah menjadi tidak sahih.

Dilihat dari pengertiannya, ke-syadz-an baru dapat diketahui setelah semua sanad hadis yang memiliki kesamaan pokok masalah dalam matn-nya dihimpun dan diperbandingkan. Semua sanad hadis itu tampak sahih. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata dari sanad yang diperbandingkan itu terdapat kejanggalan pada periwayat di sanad tertentu. Periwayat tersebut menyalahi para periwayat yang ada dalam sanad-sanad yang lain. Sanad yang menyalahi berbagai sanad itu dinyatakan sebagai mengandung syu­dzudz. Karenanya, kualitas sanad tersebut dinyatakan mengandung syu­dzudz. Sekiranya sanad yang kemudian dinyatakan mengandung syudzudz itu tidak memiliki “lawan” bandingan, niscaya ke-syadz-an sanad hadis tidak terjadi. Karena, sanad yang dinyatakan mengandung syudzudz tersebut tampak bersambung dan didukung oleh para periwayat yang siqat.

Kalau begitu, argumen yang mendasari timbulnya unsur terhindar dari syudzudz adalah argumen metodologis. Maksudnya:

  1. Pada tahap penelitian pertama, hadis tertentu yang akhirnya dinyatakan ber-syudzudz itu adalah hadis yang dinilai berkualitas sahih
  2. Pada tahap penelitian berikutnya, sanad yang tadinya dinilai sahih itu diperbandingkan dengan sanad-sanad lainnya yang juga sahih. Karena sanad tersebut bertentangan, maka sanad yang bertentangan itu di­nyatakan tidak sahih.

Jadi, jika sanad bersambung dan periwayat bersifat dhabith dan atau tamm al-dhabth telah dilaksanakan dengan semestinya, niscaya unsur terhindar dari syudzudz telah terpenuhi juga. Karenanya, unsur terhindar dari syudzudz tidak perlu berdiri sendiri sebagai salah satu unsur kaedah mayor, melainkan cukup sebagai salah satu unsur kaedah minor dari sanad bersambung dan periwayat bersifat dhabith dan atau tamm al-dhabth. Tampaknya, syudzudz dalam matn pun tidak akan terjadi, dua syarat yang disebutkkan terakhir ini benar-benar diterapkan secara cermat. Tetapi hal ini masih perlu diteliti lebih mendalam, khususnya yang berkenaan dengan kaedah kesahihan matn hadis.

Dengan demikian dapat ditegaskan, argumen yang mendasari unsur terhindar dari syudzudz dalam kedudukannya sebagai salah satu syarat tidak cukup kuat. Karena, fungsinya telah dapat ditampung oleh unsur-unsur lainnya.

2. Meneliti  Illat

Pengertian illat menurut istilah ilmu hadis, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Salah dan al-Nawawiy, ialah sebab yang tersembunyi yang merusakka kualitas hadi. Keberadaannya menyebabkan hadis yang pada lahirnya tampak berkualitas sahih menjadi tidak sahih.

Adapun pengertian illat di sini bukanlah pengertian umum tentang sebab kecatatan hadis, misalnya karena periwayatnya pendusta atau tidak kuat hafalan. Cacat umum seperti ini dalam ilmu hadis disebut dengan istilah tha’n atau jarh, dan terkadang diistilahkan juga dengan illat.

Illat hadis, sebagaimana juga syudzudz hadis, dapat terjadi pada matan dan pada sanad, atau pada matan dan sanad sekaligus. Akan tetapi illat lebih banyak terdapat pada sanad.

Hadis yang mengandung ‘illat pada mulanya terlihat sebagai hadis sahih. Karena sanad hadis itu tampak bersambung dan para periwayatnya tampak bersifat siqat semuanya. Setelah hadis itu diteliti lebih mendalam, barulah dapat diketahui bahwa ternyata hadis dimaksud mengandung ‘illat.

Jadi, argumen yang mendasari lahirnya unsur terhindar dari ‘illat sama dengan argumen yang mendasari lahirnya unsur terhindar dari syudzudz, yakni argumen metodologis. Fungsi pokok unsur terhindar dari ‘illat telah tertampung dalam unsur-unsur sanad bersambung dan periwayat bersifat dhabith dan atau tamm al-dhabth. Karenanya, unsur terhindar dari ‘illat tidak perlu ditetapkan sebagai unsur kaedah mayor, tetapi cukup ditetapkan sebagai salah satu unsur kaedah minor dari unsur-unsur kaedah mayor yang disebutkan sebelumnya.

Sekiranya suatu sanad hadis yang diteliti telah memberikan petunjuk yang meyakinkan bahwa seluruh periwayat yang terdapat dalam sanad itu siqat dan sanadnya benar-benar bersambung, maka tidak ada alasan untuk menolak bahwa kualitas sanad hadis tersebut sahih. Namun pada kenyatannya, ada sanad hadis yang tampak berkualitas sahih dan setelah diteliti kembali dengan lebihcermat lagi, misalnya dengan membanding-bandingkan semua sanad untuk matan yang semakna, hasil penelitian akhir menunjukkan bahwa sanad hadis yg bersangkutan mengandung kejanggalan (syudzudz) ataupun cacat (illat).[37]

Dengan demikian dapatlah ditegaskan bahwa kegiatan penelitian penelitian sanad masih belu dinyatakan selesai bila penelitian tentang kemugkinan adanya syudzudz dan illat belum dilaksanakan dengan cermat. Penelitian terhadap kedua hal tersebut memang  lebih sulit bila dibandingkan dengan penelitian terhadap keadaan para periwayat dan persambungan sanad secara umum.

D. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pembahasan tentang pembagian hadis sangat komplek dan beragam menurut para ulama. Namun secara umum pembagian hadis dapat dibedakan dari hadis yang ditinjau dari segi kuantitas dan kualitas.
  2. Mengenai pembahasan tentang syadz dan illat adalah merupakan bagian terkecil dari pembagian hadis di atas, artinya unsur tidak adanya syadz dan tidak adanya illat hanyalah sebagai syarat diterimanya sebuah hadis.

Demikianlah pembahasan ini kami sampaikan, tentunya sangat jauh dari kesempurnaan, sehingga pemakalah mengharap sikap kritis temen-temen yang akan membantu perbaikan makalah ini nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Muhamad, ibn ‘Abd Rahman al-Darimy, Sunan al-Darimy (ttp.: Dar Ihya’ al-Sunnat al-Nabawiyyah, tth.)

Ajaj, Muhammad, al-Khatib al-Bagdadi, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Musthalahuh, (BeiruT: Dar al-Fikr, 1975)

al-Ghazali, Muhammad, Hadis Nabi antara pemahaman tekstual dan kontekstual, (Bandung: Mizan, 1998)

Hajar, Ibn, Al-Asqalany, Ibn, Tahzib al-Tahzib (Beirut:Dar al-Fikr, 1976)

Ismail, M. Syuhudi, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Bandung: Bulan Bintang, 1995)

_____________, Pengantar Ilmu Hadis ( Bandung: Angkasa, 19987)

_____________, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, (Bandung: Bulan Bintang, 1991)

Itr, Nuruddin, ‘Ulum al-Hadis , (Bandung: Rosdakarya, 1997)

Manzur, Ibnu, Lisan al-‘arab (Mesir: Dar al-Misriyyah, tth)

Muhammad, Abu, ibn Abd al-Rahman ibn Abi Hatim al-Razy, Kitab Jarh wa al-Ta’dil (Hayderabad: Majlis Da’irat al-Ma’arif, 1371 H=1952 M.)

al-Naisaburi, Al-Hakim, Ma’rifat   ‘Ulum   al-Hadits, (Mesir: Maktabah   al- Mutanabbih, tt.h.)

al-Shalih, Subhi, ‘Um al-Hadis wa Mustalahuh (Beirut: Dar al-Ilm al-malayin, 1977)

al-Shan’ani, Subul al-Salam, Juz. 1

al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarhi Taqrib al-Nawawi (Beirut: Dar al-Ihya’ al-Sunah al-Nabawiy1979)

al-Thahhan, Mahmud, Taisir Musthlah al-Hadis(Surabaya: Syirkah Bungkul Indah, 1985)

Zahwu, Muhammad Abu, al-Hadis wa al-Muhaddisun, (Mesir: Mathba’ah al-Ma’rifah, t.th)


[1] Muhammad al-Ghazali, Hadis Nabi antara pemahaman tekstual dan kontekstual, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 25

[2] mengenai pembagian hadis ini masing-masing ulama mempunyai  kriteria sendiri-sendiri dan sangat beragam, namun yang pemakalah pakai adalah pembagian hadis secara umum dan tidak terpaku hanya pada satu ulama saja.

[3] Mengenai definisi hadis mutawatir ini para ulama sepakat dan tidak ada perbedaan dalam berbagai literatur. Misalnya; Muhammad Ajaj al-Khatib al-Bagdadi, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Musthalahuh, (BeiruT: Dar al-Fikr, 1975), hlm, 350,. Lihat. Nuruddin ‘Itr, ‘Ulum al-Hadis , (Bandung: Rosdakarya, 1997), hlm.195. Bandingkan dengan Mahmud al-Thahhan, Taisir Musthlah al-Hadis(Surabaya: Syirkah Bungkul Indah, 1985), hlm,19. lihat juga  M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis ( Bandung: Angkasa, 19987), hlm, 135.

[4] Sebagaimana pengertian hadis mutawatir, pengertian hadis masyhur juga telah disepakati ulama dan bisa dilihat pada berbagai literatur sebagai berikut: Misalnya; Muhammad Ajaj al-Khatib al-Bagdadi, Ushul al-Hadis, (BeiruT: Dar al-Fikr, 1975), hlm, 355,. Lihat. Nuruddin ‘Itr, ‘Ulum al-Hadis , (Bandung: Rosdakarya, 1997), hlm. 201. Bandingkan dengan Mahmud al-Thahhan, Taisir Musthlah al-Hadis (Surabaya: Syirkah Bungkul Indah, 1985), hlm, 23.

[6] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Bandung: Bulan Bintang, 1995), hlm.119

[7] Istilah siqat  pada zaman itu lebih banyak diartikan sebagai kemampuan hafaln yang sempurna dari pada diartika sebagai gabungan dari istilh ‘adl dan dhabth yang dikenal luas pada zaman berikutnya. Lebih lanjut misalnya lihat contoh kesiqahan periwayat hadis yang dikemukakan oleh Abu Muhamad ;Abd Allah ibn ‘Abd Rahman al-Darimy, Sunan al-Darimy (ttp.: Dar Ihya’ al-Sunnat al-Nabawiyyah, tth.), juz 1. hlm. 112

[8] Ibid.h. 112-114. bandingkan degan Abu Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn Abi Hatim al-Razy, Kitab Jarh wa al-Ta’dil (Hayderabad: Majlis Da’irat al-Ma’arif, 1371 H=1952 M.), juz II. Hlm. 27-33

[9] Muhammad al-Ghazali, Hadis Nabi……..op.cit. hlm.26

[10] M. Syuhudi Ismail….op.cit. hlm. 120

[11] M. Ajaj al-Khatib…..op.it. hlm. 400. lihat juga dalam . Nuruddin ‘Itr, ‘Ulum al-Hadis , (Bandung: Rosdakarya, 1997), hlm. 3. Bandingkan dengan Mahmud al-Thahhan, Taisir Musthlah al-Hadis (Surabaya: Syirkah Bungkul Indah, 1985), hlm,34.

[12] Muhamad al-Ghazali….op.cit. hlm. 26

[13] M. Ajaj al-Khatib…..op.it. hlm. 420. lihat juga dalam . Nuruddin ‘Itr, ‘Ulum al-Hadis , (Bandung: Rosdakarya, 1997), hlm. 4. Bandingkan dengan Mahmud al-Thahhan, Taisir Musthlah al-Hadis (Surabaya: Syirkah Bungkul Indah, 1985), hlm,35.

[14] Ibid.

[15] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi….op.cit. hlm 38.

[16] Subhi al-Shalih, ‘ulum al-Hadis wa Mustalahuh (Beirut: Dar al-Ilm al-malayin, 1977), h.300

[17] M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Musthalahuh…op.cit.hlm.335.

[18] Al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarhi Taqrib al-Nawawi (Beirut: Dar al-Ihya’ al-Sunah al-Nabawiy1979) . 103.

[19] Ibid., him. 89.

[20] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Bandung: Bulan Bintang, 1995), hlm.130.

[21] Ibid

[22] Muhammad Abu Zahwu, al-Hadis wa al-Muhaddisun, (Mesir: Mathba’ah al-Ma’rifah, t.th), hlm.250

[23] Sebagian ulama menyatakan, kata mu’allaq yang secara bahasa berarti tergantung, diambil dari pemakaian astilah ta’liq  al-Thalaq (cerai gantung) dan ta’liq al-Jidar (dinding gantung), karena ada unsur kesamaan dalam hal keterputusan sambungan. Lihat Ibn al-Shalah, ‘Ulum al-Hadis, naskah diteliti oleh Nuruddin ‘Itr, (al-Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-Ilmiyah, 1972), hlm. 64

[24] Kata mursal disini, mnurut bahasa, pada ulanya berarti lepas atau terceraikan denga cepat, atau tanpa halangan. Misalnya, burung terlepas dengan cepat dari kedua tangan. Kata terxsebut kemudian dipakaikan untuk hadis tertentu yang periwayatnya “melepaskan” hadis tanpa terlebih dahulu mengaitkannya kepada sahabat yang menerima riwayat ini dari dari Nabi.

[25] M. Syuhudi Ismail,,,Kaedah….op.cit. hlm. 174

[26] Ibid

[27] Kata munqathi’ berasal dari kata kerja inqatha’a, dapat berarti; yang berhenti, yang kering, yang patah, yang pecah, atau yang putus. Lihat Ibnu Manzur, Lisan al-‘arab (Mesir: Dar al-Misriyyah, tth), hlm.

[28] M. Syuhudi Ismail,,,Kaedah….op.cit. hlm. 176

[29] Tadlis adalah kata kerja jadian (masdar) dari kata kerja dallasa. Menurut bahasa, tadlis berarti penipuan atau penyembunyian cacat. Jadi mudallas berarti yang terdapat di dalamnya tipuan atau cacat. Lihat Ibnu Manzur, Lisan al-‘arab (Mesir: Dar al-Misriyyah, tth), hlm. 500

[30] Misalnya periwayat yang memiliki kunyah Abu Bakar dalam kitab rijal al-Hadis ada lebih dari enam puluh orang. Di antara mreka ada yang berstatus sahabat Nabi dan ada yang tidak berstatus sahabat. Periwayat yang tidak berstatus sahabat nabi itu ada yang berkualitas siqat dan ada yang tidak siqat. Lebih lanjut lihat Ibn Hajar al-Asqalany, Tahzib al-Tahzib (Beirut:Dar al-Fikr, 1976), hlm. 23-46

[31] M. Syuhudi Ismail,,,Kaedah….op.cit. hlm. 179

[32] Ibid

[33] Ibid., him. 30.

[34] Al-Hakim   al-Naisaburi,   Ma’rifat   ‘Ulum   al-Hadits, (Mesir: Maktabah   al- Mutanabbih, tt.h.), hlm  113.

[35] Al-Shan’ani, Subul al-Salam, Juz. 1. hlm. 187.

[36] Ibid

[37] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, (Bandung: Bulan Bintang, 1991), hlm.87

3 Komentar

Filed under Hadis - Ilmu Hadis

3 responses to “KLASIFIKASI HADIS DAN STUDI TENTANG AL-SYUZUZ DAN AL-‘ILLAT

  1. dul baragajul

    top lah bu artikelnya :D

  2. trimakasih atas respon yang diberikan. akan lebih lengkap lagi kalau kita diskusi

  3. agus sutopo

    Tulisan yang berjul KLASIFIKASI HADIS DAN STUDI TENTANG AL-SYUZUZ DAN AL-‘ILLAT, akan mantap (1)jika sumber referensi (rujukan)nya diambil daripada sumber kitab pertama (sumber primer). (2) pengambilan sumber rujukan kedua diperbolehkan sekiranya sumber pertama (kitab bhs aranya tidak ada) karena hadis kan objeknya kitab turath dan isu tentang AL-SYUZUZ DAN AL-‘ILLAT muncul setelah masa tabiin. jadi akan lebih pekat ulasannya jika dikaitkan dgn sejarah ‘siapakah yang pertama kali’ mencetuskan isu ttg AL-SYUZUZ DAN AL-‘ILLAT. Maaf jangan marah ataupun tersinggung.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s