MENCARI TITIK TEMU PEMIKIRAN HARUN NASUTION DAN DAUD RASYID TENTANG SUNNAH

Oleh: Wahyuni Shifaturrahmah[1]

Pendahuluan

Sejak pertengahan abad ke-19, definisi otoritas Rasulullah menjadi masalah penting bagi para pemikir Muslim. Karena abad ini merupakan periode ketika hegemoni barat yang berkaitan dengan kelemahan politik dan agama telah menciptakan dorongan kuat diadakannya reformasi

Sejak saat itu juga, para pemikir Muslim menghadapi banyak tantangan terhadap gagasan Islam klasik tentang otoritas keagamaan (baca: hadis). Pergolakan di dunia Muslim telah mendorong meluasnya pengujian kembali sumber-sumber klasik hukum Islam karena orang Muslim telah berjuang untuk memelihara, menyesuaikan, atau mendefinisikan kembali norma-norma sosial dan hukum dalam menghadapi kondisi yang berubah.[2]

Isu sentral dalam perjuangan yang terus berlangsung ini adalah masalah hakekat, status, dan otoritas sunnah (contoh-contoh normatif Nabi Muhammad saw.). karena status Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, perkataan dan perbuatannya diterima oleh sebagian besar Muslim sebagai sebuah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Oleh karena itu, imitatio Muhammadi menjadi dasar bagi hukum Islam.[3]

Akan tetapi, selama abad ke-20, kedudukan sunnah terancam dengan berbagai cara, ketika para pemikir Muslim mencari basis kuat bagi kebangkitan kembali Islam. Masalah sunnah telah menjadi sisi paling penting dalam krisis Muslim modern seperti krisis autoritas keagamaan, yang menduduki tempat sentral di dalam wacana keagamaan muslim.

Tulisan ini akan mencoba menguraikan pemikiran Harun Nasution Dan Daud Rasyid tentang Sunnah serta mencari titik temu sebagai sebuah tawaran untuk mengungkapkan realitas saling tuduh antara inkar sunnah dan nasir sunnah. Harun Nasution sebagai salah satu intelektual Islam terkemuka di Indonesia mewakili kelompok liberal yang cenderung rasionalis (ahl al-ra’yi). Sedangkan Daud Rasyid, mewakili kelompok non-liberal (ahl al-hadis). Kedua-duanya Islam “taat”, tetapi mempunyai kerangka berfikir (mode of thought) yang berbeda dalam memahami Islam. Di pilihnya kedua tokoh ini karena diindikasikan kedua tokoh ini mempunyai pengaruh yang cukup mengagumkan oleh pengakaji hadis akhir-akhir ini.

Harun Nasution dan Pemikiran tentang Sunnah

1. Sekilas tantang Harun Nasution

Sebelum mencermati pandangan Harun Nasution terhadap sunnah, sekilas perlu mengenal siapa harun Nasution dan bagaimana corak pemikirannya sebagai seorang yang mempunyai kepedulian terhadap ilmu-ilmu keislaman pada umumnya dan sunnah khususnya.

Harun Nasution adalah salah seorang tokoh pembaharuan Islam yang paling berpengaruh di lingkungan Islam terpelajar Indonesia. Ia pernah belajar di Universitas al-Azhar, Kairo, dan American University, Kairo, dimana ia menamatkan program BA-nya pada jurusan ilmu-ilmu sosial. Ia meneruskan studinya pada Dirasat al-Islamiyah, sebuah lembaga pendidikan swasta di bawah pimpinan Prof. Abu Zahrah, salah satu ahli Islam terkemuka saat itu, di Mesir. Selanjutnya, ia mengembara ke Barat, dan memperoleh gelar MA dan Doktor di bidang studi-studi keislaman pada Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada pada 1968. Semasa hidupnya ia pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama dua periode (1973-1983), dan, setelah itu, ia menjadi Dekan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga wafatnya pada 18 September 1998.[4]

Oleh banyak kalangan, sosok Harun Nasution lebih dikenal sebagai seorang intelektual Muslim yang liberal. Ia banyak menawarkan cara pandang yang rasional, terbuka dan ilmiah terhadap kajian-kajian keislaman, seperti yang ia tuangkan dalam beberapa karyanya yang banyak dikonsumsi kalangan IAIN. Dalam kerangka liberal seperti itulah, Harun Nasution mengembangkan tradisi studi-studi Islam, khususnya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang lebih menekankan nilai-nilai akademis dan pendekatan rasional.

Harun, bisa dibilang termasuk tokoh kaum rasionalis[5] di Indonesia. Sejak menjabat Rektor IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta,ia berkonsentrasi menumbuhkan pemikiran Mu’tazilah di kalangan akademisi.[6]

Di antara pemikiran Harun yang sempat mengemuka adalah bahwa keterbelakangan umat Islam hari ini adalah dampak dari sikap mereka yang yang meninggalkan pemikiran rasionalisme yang dalam sejarah Islam dianut Mu’tazilah.[7] Menurutnya, kemajuan peradaban Islam abad pertengahan adalah hasil metode rasional yang dikembangkan kelompok ini. Karenanya, menurut Harun, kalau ingin maju, pemikiran Mu’tazilah harus dihidupkan kembali.[8]

Kekagumannya terhadap rasionalitas ini memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap corak pemikirannya. Inilah yang kemudian menimbulkan banyak kalangan mengklaim Harun sebagai antek kolonial yang telah melancarkan perang pemikiran dan budaya (gazw al-fikr) sehinga membuat umat Islam terpecah.[9]

Tidak terkecuali terhadap sunnah, pemikiran Harun Nasution dianggap nyeleneh.[10] Melalui buku “Islam Ditinjau dari beberapa Aspeknya”, Harun berusaha menampilkan pandangannya seputar Islam ditinjau dari aspek ibadah, sejarah, peradaban, politik, filsafat, tasawuf, hukum, dan lainnya. Disini penulis tidak bermaksud mengupas keseluruhan dari isi buku, namun penulis hanya ingin mengkritisi masalah yang terkait dengan Sunnah.

2. Pemikiran tentang Sunnah

a. Definisi Hadis dan Kodifikasinya

Menurut Harun, hadis,sebagai sumber kedua dari ajaran-ajaran Islam, mengandung sunnah (tradisi) Nabi Muhammad. Sunnah bisa mempunyai bentuk ucapan, perbuatan atau persetujuan melaui diam Nabi.[11] Berbeda dengan al-Qur’an, hadis tidak dicatat dan dihafal di zaman Nabi.alasan yang selalu dikemukakan ialah bahwa pencatatan dan penghafalan hadis dilarang Nabi, karena dikhawatirkan akan terjadi percampur-bauran antara al-Qur’an sebagai sabda Tuhan dan hadis sebagai ucapan-ucapan Nabi. Disebutkan bahwa Umar Ibn Khattab, khalifah kedua berniat untuk membukukan hadis Nabi, tetapi karena takut akan terjadi kekacauan antara al-Qur’an dan hadis, maka niat itu tidak jadi dilaksanakan.[12]

Pembukuan baru terjadi di permulaan abad kedua hijriah, yaitu ketika khalifah Umar Abd al-Aziz (717-720 M) meminta Abu Bakar Ibn Syihab al-Zuhri mengumpulkan hadis Nabi. Pada tahun 140 H, Malik Ibn Anas menyusun kitab Muwatta’.

Pembukuan secara besar-besaran terjadi pada abad ketiga Hijriah oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Nasa’i, al-Tirmizi dan Ibn Majah. Keenam buku tersebut kemudian dikenal dengan kutub al-sittah.

Karena hadis tidak dihafal dan tidak dicatat dari awal, maka tidak diketahui secara pasti mana hadis yang benar-benar berasal dari Nabi dan mana hadis yang dibuat-buat.[13] Abu Bakar dan Umar sendiri, walaupun mereka sezaman dengan Nabi, bahkan dua sahabat yang terdekat dengan Nabi, tidak begitu saja menerima hadis yang disampaikan kepada mereka. Abu Bakar meminta supaya disertai saksinyang bisa memperkuat hadis itu benar-benar berasal dari Nabi, damn Ali Ibn Abi Talib meminta supaya pembawa hadis bersumpah atas kebenaran informasi yang disampaikannya.

Dalam pada itu jumlah hadis yang dikatakan berasal dari bertambah banyak, sehingga semakin sulit membedakan mana hadis yang orisinal dan mana hadis hadis yang dibuat-buat. Diriwayatkan bahwa Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis, tetapi setelah diseleksi, yang dianggap orisinal hanya 3000, yaitu sekitar setengah persen dari jumlah 600.000.

b. Pemalsuan Hadis

Hal-hal yang mengindikasikan terjadinya pemalsuan hadis menurut Harun Nasution adalah sebagai berikut:

1) Pada masa awal generasi Islam, sebelum dilakukan kodifikasi, para sahabat sangat sulit bisa merujuk pada hadis. Akibatnya, para sahabat menerima berita apa saja yang diterima tanpa seleksi yang ketat. Keadaan semacam ini kemudian dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk membuat hadis palsu.

Menurut Harun Nasution, untuk mencari penyelesaian bagi persoalan-persoalan yang baru, para sahabat selalu mengkonfirmasikan dengan al-Qur’an maupun hadis. Persoalan kembali kepada al-Qur’an, mungkin tidak menyulitkan, karena di samping al-Qur’an telah dibukukan, al-Qur’an juga telah mengejawentah dalam diri para sahabat baik melalui hafalan maupun perilaku-perilaku sahabat.[14] Kesulitan baru muncul ketika berhadapan dengan hadis. Di mana belum ada jaminan tentang keotentikan dan orisinalitas dari hadis. Ini dikarenakan hadis tidak dihafal dan belum dibukukan pada waktu itu.[15]

2) Kodifikasi Hadis baru dimulai pada abad kedua Hijriyah, sehingga sebelum periode itu, antara Hadis sahih dan Hadis paslu (maudhu’) tidak dapat dibedakan.

3) Di samping itu, para sahabat bersikap sangat ketat dalam menerima Hadis. Hal ini terbukti oleh sikap Abu Bakar ketika meminta saksi terhadap kebenaran rawi dan Ali Ibn Abi Talib yang menyuruh beberapa rawi bersumpah. Secara implisit, ini mengindikasikan bahwa para sahabat meragukan kejujuran para rawi karena banyaknya pemalsuan Hadis.[16]

4) Pada kesempatan lain, karena para sahabat sibuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang menimpa umat islam masa itu, maka kemudian mereka menerima segala macam hadis, sekalipun maudhu’ (palsu).

c. Hadis Sebagai Ketetapan Hukum

Mengenai sunnah sebagai ketetapan hukum, Harun Nasution berkesimpulan bahwa hanya hadis yang berstattus mutawatir saja yang bisa dijadikan dasar penetapan hukum.[17]

Menurut Harun, pasca wafatnya Nabi saw, khususnya pada abad ketiga yang merupakan masa penulisan Sunnah, sulit membedakan hadis sahih dan palsu karena jumlah hadis yang begitu banyak. Alasan yang dipegangi Harun adalah pernyataan Bukhari yang menyaring 3000 hadis dan selebihnya dari 600.000 hadis adalah tidak sahih.

Di samping itu, menjadikan sunnah sebagai dasar pijakan hukum tidak sama dengan al-Qur’an yang sudah dipastikan orisinalitas dan otentisitasnya, karena seluruh ayat al-Qur’an adalah wahyu Allah yang wajib diimani sebagai kitab suci umat Islam. Berbeda dengan hadis yang belum terjamin kualitasnya dari segi orisinal dan otentiknya. Harun menyampaikan kehati-hatiannya untuk menilai hadis. Hanya hadis yang diriwayatkan oleh rawi dalam jumlah yang banyak yang tidak memungkinkan untuk bersepakat melakukan dusta (mutawatir), yang bisa dijadikan dasar penetapan hukum.

Alasan lain yang di pakai Harun adalah para sahabat terpaksa mencari sunnah dari sumber manapun untuk mencari solusi masalah kaum Muslimin sebagai dampak perluasan wilayah kekuasaan Islam.

Daud Rasyid dan Fenomena Inkar Sunnah

1. Sekilas tantang Daud Rasyid

Daud Rasyid, lahir di Tanjung Balai, sebuah kota kecil di pesisir pantai Sumatera Utara pada hari Senin tanggal 3 Desember 1962 Masehi bertepatan dengan tanggal 5 Rajab 1382 Hijriyah. Daud Rasyid adalah putera tunggal dari Harun al-Rasyid dan ibunya bernama Nurul Huda, seorang pendidik dan ustazah di kota itu.[18]

Masa kecilnya dihabiskan belajar pagi-sore di sekolah formal. Pagi, belajar di sekolah umum dan sore belajar di Madrasah. Malam hari dan hari libur diisi dengan belajar non-formal kepada para syaikh dan Ustaz di daerahnya. Tahun 1980, setelah tamat SMA dan Aliyah, ia meninggalkan kota kelahirannya, merantau ke Medan untuk mengecap pendidikan tinggi di IAIN Medan dan di USU.[19] Namun itu hanya tiga tahun dilaluinya. Baru saja menyelesaikan B.A dari IAIN, dibukalah kesempatan untuk belajar ke Al-Azhar melalui beasiswa Al-Azhar yang disalurkan melalui IAIN.

Daud Rasyid, adalah seorang pakar hadis yang di masa Harun Nasution pernah mengajar di Program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah. Secara umum pemikiran Daud Rasyid kental sekali warna “Timur Tengah”nya yang kaya terhadap pandangan ulama klasik dan miskin analisis kritis khas critical study ala “Barat”. Rasyid menganggap bahwa pandangan ulama klasik jauh lebih otentik (dekat dengan kebenaran wahyu) ketimbang harus meminjam aneka metodologi modern yang menurutnya bisa mengarah kepada cara berfikir sesat.[20]

Melalui karyanya “al-Sunnah fi Indonesia : Baina Ansariha wa Khusumiha”. Telah mendeskripsikan variasi, format dan tipologi serangan terhadap Sunnah (baca; inkar sunnah) oleh para cendekiawan Indonesia.

Harun Nasution, salah satu pemikir liberal progresif yang concern terhadap ilmu-ilmu keislaman mendapat sorotan tajam dan sekaligus disajikan sebagai bukti pengaruh orientalis terhadap pemikirannya.

Menurut Daud Rasyid, berbagai virus pemikiran yang berkembang di lingkungan akademik lewat sosok Harun Nasution, di anggap lebih berbahaya dari pada orientalis Barat.

Melalui buku tersebut, Daud Rasyid ingin membela Sunnah dengan menyampaikan bantahan sekaligus ingin membongkar isu-isu penyimpangan dan kebohongan yang dituduhkan pada pada kaum muslimin sambil menyeru mereka kembali pada Sunnah.

2. Kerangka Memahami Hadis

Dalam memahami hadis secara benar, Daud Rasyid mengacu pada kerangka berfikir sebagaimana para ulama hadis lainnya. Terutama ketika menghadapi redaksi hadis yang saling bertentangan, baik bertentangan dengan sesama hadis, bertentangan dengan al-Qur’an, maupun bertentangan dengan fakta-fakta yang terjadi pada masyarakat. Menurutnya, para pengkaji hadis diharapkan mampu menerapkan pokok-pokok metode pemahaman hadis secara benar, supaya terhindar dari klaim-klaim negatif atas hadis. Beberapa hal yang disepakatinya dari para ulama hadis dalam proses memahami hadis adalah sebagai berikut:[21]

1. Memahami Sunnah disesuaikan dengan al-Qur’an (Fahmu sunnah fi Dhau’il Qur’an). Artinya Sunnah merupakan penjelas (bayanu taudhih, tafsir) dan juga menambah apa yang tidak ada dalam al-Qur’an (bayanu tsabit), seperti al-Qur’an mengharamkan bangkai, tetapi hukum tersebut dihapuskan oleh as-Sunnah untuk bangkai ikan dalam hadis berbunyi : Thahuru ma’ahu wal hillu maytatahu (Laut/sungai itu suci airnya dan halal bangkainya/ikan).[22]
2. Menggabungkan hadis dalam satu pengertian (Jam’ul ahadis fi maudhu’in wahid). Jika melihat hadis bertentangan maka digabungkan sehingga diperoleh satu pengertian yang benar. Seperti hadis isbalul izar (Kain yang melewati kedua mata kaki di neraka) yang bertentangan dengan hadis Abubakar ra yang menyatakan bahwa tidak apa-apa kata Nabi SAW kain Abubakar melewati mata kakinya, ternyata akan masuk neraka adalah jika dilakukan karena sombong, setelah digabung dengan hadis khuyala’ (orang-orang yang masuk neraka karena melabuhkan kain karena sombong). Atau hadis yang menyatakan batalnya orang puasa yang berbekam, sementara hadis lainnya menyatakan tidak batal, ternyata setelah digabungkan ditemukan bahwa dalam hadis pertama orang tersebut berbekam sambil meng-ghibbah dan berdusta sehingga batalnya karena hal tersebut dan bukan karena berbekamnya.
3. Melihat hadis berdasarkan sebabnya (Fahmul hadis fi fi dhau’i asbab wal mulabisat). Seperti hadis antum a’lamu bi umuri dunyakum (kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian) hadis ini harus ditafsirkan berdsarkan sebabnya, yaitu Nabi SAW melewati sekelompok kaum di Madinah yang sedang mengawinkan pucuk kurma lalu Nabi SAW mengucapkan kata-kata yang ditafsirkan salah oleh orang-orang tersebut sehingga tahun berikutnya mereka tidak lagi mengawinkan pucuk2 tersebut yang berakibat gagal panen. Sehingga keluarlah sabda Nabi SAW : Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian, artinya masalah-masalah sarana dan teknologi bukan masalah-masalah dasar yang telah ada hukumnya dalam Islam, seperti politik, ekonomi, dsb.
4. Menghukumi hadis-hadis yang bertentangan (Fahmu at-Ta’arudh fil ahadis):[23]

1) Digabungkan (thariqatul jam’i) : Seperti dalam suatu hadis disebutkan Nabi SAW meminta dijadikan orang miskin, sementara banyak hadis2 lain Nabi SAW meminta kekayaan. Maka digabungkan bahwa yang dimaksud miskin dalam hadis pertama adalah sikap orang miskin yang tawadhu’ (rendah hati dan tidak sombong).

2) Dilihat sejarahnya (ta’arikh), jika tidak bisa digabungkan pengertiannya (tetap bertentangan), maka dilihat mana yang lebih dulu dan mana yang belakangan, sehingga yang belakangan adalah menghapus hukum yang duluan. Seperti hadis nikah Mut’ah yang banyak dipakai kaum syi’ah, memang benar Nabi SAW pernah membolehkannya dalam satu peperangan tapi kemudian dihapus selama2nya oleh Nabi SAW setelah nampak bahaya dan dampaknya. Atau hadis yang melarang ziarah kubur, yang kemudian dihapus sendiri oleh Nabi SAW.

3) Dipilih mana yang lebih kuat (tarjih), jika kedua hal di atas tidak bisa juga, maka barulah dicari mana yang lebih sahih dan dibuang yang kurang sahih (artinya bisa juga keduanya sahih tapi yang satu lebih sahih dari yang lain, maka yang dipakai yang lebih sahih tersebut).

5. Melihat pada isi hadis tersebut dan bukan pada sarananya (an Nazhru ilal ushul la lil wasa’il), misalnya;

1) Hadis bahwa Nabi SAW memakai gamis, ternyata banyak hadis yang menyebutkan bahwa Nabi SAW juga memakai kain Yamani, baju Kisrawaniyyah, dan lain-lain. Ternyata ushul dari hadis tentang pakaian tersebut adalah menutup auratnya dan bukan pada jenis pakaiannya.

2) Hadis bahwa Nabi SAW memerintahkan belajar memanah, yang ushul nya adalah berlatih menggunakan senjata dan bukan pada panahnya. Demikian pula berkuda, yang ushul mengendarai kendaraannya dan bukan kudanya.

3) Hadis bahwa pengobatan terbaik adalah menggunakan kai (besi dipanaskan), ternyata yang ushul adalah metode shock terapy nya seperti dengan akupunktur, refleksi, dsb.

6. Menegaskan apa yang ditunjukkan oleh lafazh hadis (Ta’akkud dilalatu alfazh al hadis). Seperti hadis : La’anallahal mushawwirin (Allah melaknat para pelukis), yang dilalah nya adalah jika untuk diagungkan, dipuja, lukisan 3 dimensi (patung), karena ternyata gambar yang telah dipotong dan dijadikan bantal oleh Aisyah ra tidak dilarang oleh Nabi SAW.

3. Tipologi Inkar Sunnah

Dengan mengacu pada kerangka memahami hadis di atas,diharapkan bisa diaplikasikan pada beberapa kasus hadis yang saling bertentangan, sehingga tidak serta merta menolak dan meragukan kebenaran hadis Nabi. Namun ketika muncul fenomena inkar Sunnah,[24] Daud Rasyid membagi gerakan Inkar Sunnah menjadi tiga kelompok:[25]

a. Mengingkari Sunnah secara mutlak

Di Indonesia terdapat kelompok yang mengklaim dirinya sebagai “pengikut al-Qur’an”. Mereka hanya menerima al-Qur’an sebgai sumber ajaran Islam dan menolak Sunnah secara mutlak. Kelompok inidikenal di kalangan umat Islam sebagai “jama’ah Inkar Sunnah”. Kelompok ini dimotori oleh Muhammad Irham Sutarto.”[26]

Tanpa tau banyak tentang latar belakangnya, umat Islam dikejutkan dengan munculnya tokoh ini dengan ajaran barunya. Kelompok ini tumbuh subur di Jawa Barat seperti Tasikmalaya, di Jawa Tengah, dan di beberapa daerah di pinggiran Jakarta. Melaui majlis ta’lim yang dihadiri penduduk setempat.

Beberapa pokok ajaran mereka adalah:

1) Taat pada Allah dan Rasulnya. Tetapi Rasul telah wafat, maka tidak ada lagi cara taat kepada Allah dan Rasul dalam arti yang sebenarnya.

2) Allah mengajarkan al-Qur’an pada Rasul dan Rasul mengajarkannya kepada manusia. Karena itu, al-Qur’an merupakan satu-satunya risalah yang dapat dipercaya dan masih tersisa, karena perkataan rasul telah berbaur dalam firman Allah. Dengan demikian, sunnah tidak lagi dibutuhkan.

3) Al-Qur’an hanya bisa dijelaskan dengan al-Qur’an. Setiap penjelasan di luar al-Qur’an termasuk hawa nafsu. Sunnah termasuk dalam kategori ini, sehingga tidak bisa menjadi hujjah.

b. Mengingkari sebagian Sunnah

Kelompok ini menerima dan mengamalkan sunnah dalam masalah ibadah, muamalah, nikah dan lainnya. Tetapi mereka menginhkari sunnah berkaitan dengan hal-hal gaib, karena menurut mereka, hal itu tidak masuk akal. Misalnya hadis-hadis tentang isra’ mi’raj, tentang apa yang disaksikan Nabi pada malam itu.

Dalam hal ini, Daud menyebut Syi’ah di Indonesia berupaya mengaburkan makna sunnah.[27] Pengikut aliran Syi’ah ini adalah sebuah gerakan yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia yang berakidah Sunni (ahl al-Sunnah), pasca revolusi Iran. Aktifitas kelompok ini menimbulkan kegelisahan umat, karena menggunakan cara paksaan dalam menyebarkan dakwahnya. Akibatnya, terjadi benturan dan bentrokan antara umat Islam dengan pengikut Syi’ah di beberapa wilayah.[28]

Masyarakat Indonesia sebenarnya tidak mengenal aliran dan ajaran Syi’ah sebelum berdirinya negara Iran, pasca tumbangnya pemerintahan Syah –yang pro Amerika- tahun 1978).[29]

Bukti sikap keraguan mereka terhadap hadis terlihat ketika dihadapkan pada hadis sahih riwayat Muslim tentang “ kalian lebih tahu tentang urusan dunia”.[30] Ketika itu Nabi ditanya tentang penyerbukan korma. Menurut kelompok Syi’ah, hadis ini dianggap tidak sesuai dengan logika. Adanya keraguan terhadap hadis tersebut berdasarkan pada tiga hal,[31] yaitu; pertama,. Bagaimana mungkin Nabi tidak paham tentang penyerbukan korma, padahal Nabi hidup di tengah masyarakat yang bercocok tanam korma lebih dari lima puluh tahun.

Kedua, pernyataan ketidaktahuan Nabi soal penyerbukan korma, mengisyaratkan bahwa beliau menyuruh sesuatu yang tidak diketahuinya, dan ini mustahil dilakukan seorang Nabi. Padahal Aisyah ra. Berkata, bahwa akhlak Nabi adalah al-Qur’an, dan Allah berfirman: “dan janganlah kamu ikuti apa yang tidak kamu tahu.” (al-Isra’ : 36).

Ketiga, hadis di atas secara tegas memisakan urusan dunia dan agama dan sekaligus argumen kuat bagi sekularisme. Berdasar hadis tersebut, masalah bank, politik, peraturan keluarga dan lainnya tidak ada kaitannya dengan Sunnah, karena masalah itu adalah urusan dunia.

Menyikapi keadaan semacam ini, Daud Rasyid menegaskan akan perlunya kesadaran bahwa untuk memahami sunnah secara benar, diharuskan memperhatikan situasi khusus yang melatarbelakangi atau sebab-sebab khususnya. Pentingnya mengetahui asbab wurud suatu hadis akan menghilangkan asumsi-asumsi dan dugaan yang bias dari maksud sebenarnya.[32]

Dalam fungsinya, sunnah banyak memberi solusi yang bersifat rinnci, detail dan teknis yang tidak ditemukan dalam al-Qur’an. Karenanya harus dibedakan antara ketentuan khusus dan umum, yang sementara dan permanen, serta parsial dan universal, yang masing-masing memiliki ketentuan sendiri.

Terkait dengan hadis tentang penyerbukan korma yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya “Nabi melewati suatu kaum yang sedang melakukan penyerbukan, lalu beliau bersabda: “seandainya kalian tidak melakukannya maka ia akan berbuah baik”. Kemudian muncullah buahnya (setelah penyrbukan) menjadi buah yang jelek. Lalu pada hari panen, Nabi melewati mereka kembali dan berkata: “Ada apa pada pohon korma kalian?” mereka berkata, “Anda dulu katakan begini dan begini.” Beliau berkata, “kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”[33]

Menurut Daud Rasyid, kesahihan hadis tersebut sudah nampak jelas. Mengingat keraguan yang dilontarkan seputar kandungan hadis tersebut bisa dijelaskan melalui beberapa hal. Pertama, ketidaktahuan Nabi tentang penyerbukan pohon korma bukan hal yang aneh, karena beliau tumbuh dan besar di Mekkah yang merupakan lembah yang gersang dan tidak memiliki lahan pertanian, seperti diungkap dalam al-Qur’an. Jadi wajar jika Nabi tidak memiliki keahlian pada bidang pertanian.

Riwayat lain dari Muslim mempertegas hal ini, yaitu sabda Nabi “aku hanya mengira, jangan kalian menyakahkan aku karena hal itu. Tetapi jika mengatakan sesuatu dari Allah kepada kalian, ambillah. Karena aku tidak akan berbohong terhadap Allah.”[34]

Ijtihad Nabi dalam hal ini menegaskan keterbatasannya sebagai manusia. Suatu hal yang wajar jika beliau tidak mengetahui hal-hal tertentu yang tidak dijelaskan sevara eksplisit oleh wahyu, apalagi menyangkut urursan dunia yang bersifat empiris seperti ini.

Kedua, mengenai ayat “dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui.” (al-isra’ : 36) adalah masalah syari’at sementara hadis di atas terkait dengan persoalan dunia yang mengacu pada persoalan teknis.

Ayat dan hadis di atas memiliki objek yaang berbeda dan tidak saling bertentangan. Bahwa dalam masalah sehari-hari, Nabi berperan sebagai manusia biasa. Bukan sebagai Rasul dan bukan juga sebagai kepala negara. Selain itu, kejadian semacam ini terbilang cukup jarang.

Ketiga, tuduhan bahwa hadis tersebut merupakan pembenaran atas paham sekularisme yang memisahkan agama dan dunia, adalah tidak tidak tepat. Karena hadis ini bersifat khusus dan bukan ketentuan hukum yang bersifat umum.

c. Mengingkari Sunnah yang terputus sanadnya

Kelompok ketiga ini mengakui sunnah sebagaimana mayoritas umat Islam. Tetapi mereka mensyaratkan hadis tersebut harus bersambung sanadnya, dari pimpinan jama’ah mereka hingga Rasulullah. Istilah ini dikenal dengan sanad manqul (sanad yang bersambung).[35]

Sebuah hadis, menurut mereka dapat diterima jika bersanad manqul. Sebaliknya jika tidak manqul, maka harus ditolak, sekalipun matan hadis dan para rawinya sama dengan para rawi dalam kitab-kitab sahih. Mereka meyakini bahwa kesahihan sebuah hadis dan mengamalkannya berkaitan dengan talaqqi (menerima secara langsung) hadis dari pimpinan jama’ah yang mengklaim bahwa sanad hadis bersambung sampai pada rasulullah saw.[36]

Jama’ah ini dikenal dengan nama “Dar al-Hadis” atau “Islam Jama’ah”.[37] Kelompok ini dipelopori dan dipimpin oleh Haji Nur Hasan Ubaidah yang mengklaim diri satu-satunya ulama Indonesia yang memiliki sanad bersambung hingga Rasulullah. Semua ulama saat ini dianggap tidak memiliki sanad. Konsekwensinya, ilmu mereka dianggap tidak benar dan tidak diizinkan menimba ilmu dari mereka.[38]

Konon, orang ini pernah talaqqi (belajar secara langsung) dengan syekh Umar Ibn Hamdan, seorang ulama besar di Makkah. Riwayatnya berasal dari Ahmad al-Barzanji, dari Sayyid Ismail al-Barzanji. Dengan demikian, sanadnya sampai pada Rasulullah.

Dengan demikian kelompok ini mengatakan bahwa pengalaman hadis tidak sah tanpa melalui riwayat dengan cara manqul. Dan kelompok ini menyebut perkataan imamnya sebagai hadis Nabi.

Titik Temu antara Harun Nasution dan Daud Rasyid

Setelah menguraikan pokok-pokok pemikiran tentang Sunnah kedua tokoh di atas, sebagai bahan untuk memotret secara obyekktif, penulis berupaya untuk mencari titik temu, supaya terhindar dari sikap truth claim. Tiada gading yang tak retak, ungkapan ini kiranya selaras dengan pemikiran kedua tokoh di atas.

Banyak kalangan mengakui Harun Nasution adalah tokoh pembaharu Islam di Indonesia yang cukup terkemuka. Pemikiran Harun mempunyai corak tersendiri (sui generis) diantara pemikir lain, yakni terletak pada aras rasionalisme khas muktazilah di era silam. Obsesi Harun diantaranya adalah melakukan rekonstruksi atas teologi muktazilah sebagai antitesis terhadap teologi Islam saat ini yang lebih cenderung fatalistik. Sehingga oleh para “lawan berfikirnya”, dia dijuluki tokoh neo-muktazilah di Indonesia.

Terkait dengan pandangan Harun bahwa kodifikasi hadis baru dimulai pada abad kedua Hijriah, bisa dibenarkan jika yang dimaksud adalah kodifikasi secara resmi oleh negara berdasarkan instruksi Khalifah Umar Ibn Abd al-Aziz. Harun tidak bermaksud untuk menafikan penulisan Sunnah melalui upaya-upaya individu sebagai tahapan kodifikasi telah dimulai sejak masa Rasulullah saw.

Harun begitu membanggakan metodologi Barat yang memang membawa seseorang kepada tipologi berfikir bebas dan mencerahkan. Akan tetapi, metodologi Barat yang basis filosofisnya adalah liberalisme dalam banyak hal tidak cocok untuk alat analisis dalam obyek yang sakral, yaitu ajaran doktrinal Islam. Harun sering kurang cermat dalam membaca sejarah yang terkait dengan tranmisi hadis (perjalanan hadis), karena ia lebih menitik beratkan pada critical history ketimbang informasi otentik sumber-sumber Islam.

Sedangkan Daud Rasyid, sebagaimana Harun Nasution juga mempunyai kelemahan atas metodologi yang ditawarkan. Daud, yang nota bene alumni Mesir terlalu menganggap Timur Tengah segala-galanya sebagai prototype studi Islam (dirasah islamiyah) sama tidak arifnya dengan mengatakan bahwa Barat adalah segala galanya. Pemikiran Daud Rasyid yang begitu “gegap gempita” dengan Timur Tengah era klasik telah membawa kepada stereotipe bahwa di luar Timur Tengah era klasik adalah batil dan sesat. Di sinilah letak ketidak fair-an yang bisa-bisa akan membawa kepada pola berfikir stagnan (jumud).

Daud Rasyid tidak menghargai aneka perbedaan pendapat dalam Islam. Kecurigaan yang bergitu berlebihan terhadap Barat, selalu membawa kesimpulan bahwa setiap pemikiran yang berbeda (dengan dirinya) adalah akibat pengaruh Barat yang sesat dan menyesatkan itu. Dia (mungkin) lupa bahwa Allah telah berfirman dalam Q.S. an-Nahl: 125 :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين

Akhirnya, inilah sekelumit tentang pandangan Harun Nasution versus Daud Rasyid khususnya tentang hadis. Untuk sampai pada penilaian yang obyektif atas pemikiran seseorang, kiranya perlu dikesampinhgkan terlebih dahulu sikap apriori dan harus mengedepankan sikap kritis. Supaya tidak terjebak pada absolutisme dan truth claim.

* * *

DAFTAR REFERENSI

Abu Syahbah, Muhammad M., 1411 H, Difa’ ‘an al0Sunnah wa Radd Syuhbah al-Mustasyriqin wa al-Kutub al-Mu’asirin, Dar al-Jeil.

Al-Azami, Mustafa, 1401 H, Dirasat fi al-Hadis al-Nabawi wa`Tarikh Tadwinihi, Tab’at al-Su’udiyyah.

Al-Ghazali, Muhammad, 1996, Studi Kritis Atas Hadis Nabi, antara pemahaman tekstual dan kontekstual, Bandung, mizan.

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajjaj, 1383 H/1963 M, al-Sunnah Qabla al-Tadwin, Kairo, Maktabah Wahbah.

Al-Mu’allimi, Abdurrahman, 1378 H, al-Anwar al-Kasyifah lima Warada fi Kitab Adwa’ ‘ala al-Sunnah min al-Zalal wa Tadhil wa al-Mujazafah, Kairo, al-Matba’ah al-Salafiyyah.

Al-Nawawi, Muhyi al-Din Ibn Syarif, 1407 H/1987 M, al-Syarh Sahih Muslim, ditahqiq oleh Syakh Khalil al-Miys, Beirut, Dar al-Qalam.

Al-Naysaburi, Muslim Ibn Hajjaj, 1374 H/1955 M, Sahih Muslim, Mesir, Maktabah Isa al-Halaby.

Al-Siba’I, Muhammad Mustafa, 1905, al-Sunnah wa Makanatuhabfi Tasyri’ al-Islamy, Dimasyq, al-Maktabah al-Islamy.

Arkoun, Mohammed, 1994, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers terj. Dan ed. Robert D. Lee, Colorado: Westview Press, Inc.

Brown, Daniel W., 1996, Menyoal Relevansi Sunnah Dalam Islam Modern, Bandung, Mizan.

Harian Pelita, edisi 16 juli 1992.

http//www.swaramuslim.net

http://www.daudrasyid.com

Husnan, Ahmad, 1981, Gerakan Inkar Sunnah dan Jawabannya, Jakarta, Media Dakwah.

Jamaluddin, Muhammad Amin, “Pokok-pokok ajaran Jama’ah Inkar Sunnah,”` Makalah, tidak dipublikasikan.

Nasution, Harun, 1985, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta, UI Press, jilid I dan II.

__________, 1987, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Jakarta: UI press.

Qardhawi, Yusuf, 1999, Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW, Bandung, Kharisma.

Rahmat, Jalaluddin, 1992, Islam Aktual, Bandung, Mizan.

Rasyid, Daud, “Ma’aalim wa Dhawaabith Fi Fahmi as-Sunnah an-Nabawiyyah,” Makalah, Tidak diterbitkan.

__________, 1993 M, Pembaharuan Islam dan orientalisme dalam sorotan, Jakarta, Usamah press.

__________, 2001, al-Sunnah fi Indonesia: Baina Ansariha wa Khusumiha, Jakarta, Usamah Bris lil al-Tab’ah.

Rasyidi, M., 1977, Koreksi Terhadap harun Nasution, Jakarta, Bulan Bintang.

Syaliba, Jamil, 1973, Al Mu’jam al-Falsafi, Beirut: Dar al Kitab al Lubnani, cet. I, Juz II.

Syihab, Muhammad Asad, 1995, “Sejarah Syi’ah di Indonesia,” Majalah “Ahlul Bait” London, cetakan bahasa Arab, edisi 30.

Ubaidillah, A. M., 1993, Sekilas Mengenal Islam Jama’ah dan Ajarannya, Madiun: al-Iman.

[1] Staf pengajar pada Sekolah Tinggi Islam Syubbanul Wathon (STIS) Magelang. Menyelesaikan S1 Tafsir Hadis di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2004), dan S2 Studi Qur’an Hadis (SQH) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2006). Aktif sebagai penulis pada beberapa Jurnal Ilmiah, dan menjadi editor buku-buku Islam.

[2] Daniel W. Brown, Menyoal Relevansi Sunnah Dalam Islam Modern (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 15

[3] Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers, terj. Dan ed. Robert D. Lee (Colorado: Westview Press, Inc., 1994), hlm. 45.

[4] M. Rasyidi, Koreksi Terhadap harun Nasution, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), dalam Muqaddimah.

[5] Rasionalisme ialah faham yang mengedepankan logika. Istilah ini dipakai untuk beberapa pengertian: (a). Faham yang berpandangan bahwa segala yang ada mempunyai sebab keberadaannya. Dalam arti, bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di alam ini melainkan pasti ada alasan penciptaannya secara rasional. (b). Faham yang berpandangan bahwa pengetahuan berasal dari prinsip-prinsip logika. Mirip seperti metode eksperiment yang mengatakan bahwa semua yang ada di benak atau pikiran, adalah lahir dari perasaan dan eksperimen. (c). Faham yang mengatakan bahwa keberadaan akal merupakan syarat untuk melakukan eksperimen. (d). Kepercayaan pada akal dan kemampuannya untuk menemukan kebenaran. Sebabnya menurut kaum rasionalis –bahwa undang-undang logika bersesuaian dengan undang-undang yang menghukum masalah-masalah eksternal. Dan bahwa segala yang ada adalah masuk akal dan segala yang masuk akal ada. (e). Rasionalisme menurut sebagian ‘ulama agama ialah faham yang mengatakan bahwa kepercayaan imani sesuai dengan hukum-hukum akal. Secara umum, Rasionalisme berpandangan bahwa semua yang ada harus dikembalikan kepada prinsip-prinsip logika, seperti madzhab Descartes. Lihat: Jamil Syaliba, Al Mu’jam al-Falsafi, (Beirut: Dar al Kitab al Lubnani, 1973), cet. I, Juz II, hlm. 90-91.

[6] Harun sendiri pernah menegaskan bahwa dirinya sudah bekerja menyebarkan pemikiran Mu’tazilah di IAIN selama 15 tahun lamanya. Lihat surat kabar “PELITA”, edisi 16 juli 1992.

[7]Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, (Jakarta: UI press, 1987), hlm. 70.

[8] Daud Rasyid, al-Sunnah fi Indonesia: Baina Ansariha wa Khusumiha, (Jakarta: Usamah Bris lil al-Tab’ah, 2001), hlm. 10

[9] M. Rasyidi, Koreksi Terhadap harun Nasution, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 29-32.

[10] Daud Rasyid, al-Sunnah fi Indonesia: Baina Ansariha wa Khusumiha, (Jakarta: Usamah Bris lil al-Tab’ah, 2001), hlm. 15.

[11] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), jilid I. hlm, 28-30.

[12] Muhammad Mustafa al-Siba’I, al-Sunnah wa Makanatuhabfi Tasyri’ al-Islamy (Dimasyq: al-Maktabah al-Islamy, 1905), hlm. 59.

[13] Ada beberapa riwayat disampaikan Nabi mengenai larangan penulisan Hadis melalui tiga sahabat, yaitu: Abu Said al-Khudry, Abu Hurairah, dan zayd Ibn Sabit ra. Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi dalam bukunya al-Anwar al-Kasyifah lima Warada fi Kitab Adwa’ ‘ala al-Sunnah min al-Zalal wa Tadhil wa al-Mujazafah, (Kairo: al-Matba’ah al-Salafiyyah, 1378), hlm. 35.dan Mustafa al-Azami, Dirasat fi al-Hadis al-Nabawi wa`Tarikh Tadwinihi, (Tab’at al-Su’udiyyah, 1401), hlm. 80. masing-masing telah meneliti hadis-hadis tersebut menerangkan kelemahan-kelemahannya.

[14] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), jilid II. hlm, 11.

[15] Muhammad M. Abu Syahbah, Difa’ ‘an al0Sunnah wa Radd Syuhbah al-Mustasyriqin wa al-Kutub al-Mu’asirin, (Dar al-Jeil, 1411), hlm. 20.

[16] Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1383/1963 M), hlm. 306.

[17] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), jilid II. hlm, 25.

[18] Profile DR. Daud Rasyid M.A., lihat http://daudrasyid.com

[19] Ibid.

[20] Daud Rasyid dan Bahaya Orientalisme, lihat http//www.swaramuslim.net

[21] Daud Rasyid, “Ma’aalim wa Dhawaabith Fi Fahmi as-Sunnah an-Nabawiyyah,” Makalah, tidak diterbitkan.

[22] Muhammad Al-Ghazali, Studi Kritis Atas Hadis Nabi, antara pemahaman tekstual dan kontekstual, (Bandung: mizan, 1996), hlm. 15

[23] Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW, (Bandung: Kharisma, 1999), hlm. 92

[24] Daniel W. Brown, Menyoal Relevansi Sunnah Dalam Islam Modern (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 18-19

[25] Ahmad Husnan, “Gerakan Inkar Sunnah dan Jawabannya,” (Jakarta: Media Dakwah, 1981), cet. Pertama, hlm. 9.

[26] Daud Rasyid, Pembaharuan Islam dan orientalisme dalam sorotan, (Jakarta: Usamah press, 1414/1993), hlm. 55. bandingkan dengan

[27] Muhammad Amin Jamaluddin, “Pokok-pokok ajaran Jama’ah Inkar Sunnah”, Makalah, hlm. 10. Bandingkan dengan Ahmad Husnan, Gerakan Inkar Sunnah dan Jawabannya, (Jakarta: Media Dakwah, 1981), hlm. 9.

[28] Daud Rasyid, al-Sunnah…., hlm. 65.

[29] Lihat laporan “Sejarah Syi’ah di Indonesia” ditulis oleh Muhammad Asad Syihab, dalam Majalah “Ahlul Bait” terbit di London, cetakan bahasa Arab, edisi 30, tahun 1995, hlm. 8.

[30] Yusuf Qardawi, Kaifa Nata’amal Ma’a Sunna al-Nabawiyyah, hlm. 125.

[31] Jalaluddin Rahmat, Islam Aktual, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 165-166.

[32] Daud Rasyid, al-Sunnah…Ibid.

[33] Muslim Ibn Hajjaj al-Naysaburi, Sahih Muslim, (Mesir: Maktabah Isa al-Halaby, 1374/1955). hlm. 125-126. Bandingkan dengan Muhyi al-Din Ibn Syarif al-Nawawi, al-Syarh Sahih Muslim, ditahqiq oleh Syakh Khalil al-Miys (Beirut: Dar al-Qalam, 1407/1987M).

[34] Ibid.

[35] Ahmad Husnan, Ibid, hlm. 32

[36] A. M. Ubaidillah, Sekilas Mengenal Islam Jama’ah dan Ajarannya, (Madiun: al-Iman, 1993), hlm. 22.

[37] Ahmad Husnan, Ibid, hlm. 33.

[38] A. M. Ubaidillah, Sekilas Mengenal Islam Jama’ah dan Ajarannya, (Madiun: al-Iman, 1993), hlm. 22-23.

2 Komentar

Filed under Islam Kontemporer

2 responses to “MENCARI TITIK TEMU PEMIKIRAN HARUN NASUTION DAN DAUD RASYID TENTANG SUNNAH

  1. saya sangat bangga karna masi banyak orang yang inten mengkaji harun nasution dan tokoh -tokoh yang lainya

  2. aziz

    penelitian in luar biasa…. meskipun tidak langsung menuju pemikiran Daud Rasyid.
    tapi ini cukup membantu saya.. saya kuliah di Yogyakarta.. dan setahu saya perpustakaan kampus saya hanya memiliki enam karya Daud Rasyid.. itupun hanya satu yang berkaitan dengan hadits ata sunnah…
    terimakasih banyak… data penelitian anda sangat membantu saya..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s