Tag Archives: Hadis – Ilmu Hadis

JARH wa TA’DIL: Mengungkap Mata Rantai Keadilan Periwayat Hadis dan Keadilan Sahabat

Ilmu Jarh wa ta’dil dan Urgensinya

A. Pengertian

Secara bahasa, al-jarh merupakan masdar dari kata jaraha – yajrahu yang berarti akibat atau bekas luka pada tubuh disebabkan oleh senjata. Luka yang dimaksud dapat berkaitan dengan fisik, misalnya luka terkena senjata tajam, atau berkaitan dengan non fisik misalnya luka hati karena kata-kata kasar yang dilontarkan seseorang. Apabila kata jaraha dipakai oleh hakim pengadilan yang ditujukan kepada masalah kesaksian, maka kata tersebut mempunyai arti menggugurkan keabsahan saksi. [1]

Secara istilah ilmu hadis, kata al-jarh berarti tampak jelasnya sifat pribadi atau keadaan seorang rawi yang tidak adil dan menyebabkan gugurnya atau lemahnya riwayat yang disampaikan. Kata al-tajrih menurut istilah berarti pengungkapan keadaan periwayat tentang sifat-sifatnya yang tercela yang menyebabkan lemahnya atau tertolaknya riwayat oleh periwayat tersebut. [2] Sebagian ulama menyamakan penggunaan kata al-jarhu dan al-tajrih, dan sebagian ulama lagi membedakan penggunaannya dengan alasan bahwa al-jarh berkonotasi tidak mencari-cari cela seseorang, yang biasanya telah tampak pada diri seseorang. Sedang al-tajrih berkonotasi ada upaya aktif untuk mencari dan mengungkap sifat-sifat tercela seseorang.

Adapun kata ta’dil berasal dari kata ‘addala, yang berarti mengemukakan sifat-sifat adil yang dimiliki seseorang. Menurut istilah ilmu hadis, kata ta’dil berarti mengungkap sifat-sifat bersih yang ada pada diri periwayat, sehingga dengan demikian tampak jelas keadilan pribadi periwayat itu dan riwayatnya dapat diterima. [3]

‘Abdurrahman Al-Mu’allimi Al-Yamani mengatakan bahwa ilmu al-jarh wa ta’dil ialah ilmu yang mempelajari tentang etika dan aturan dalam menilai cacat (kritik: al-jarh) dan sekaligus mengungkap dan memberi rekomendasi positif atas (kesalehan: al-ta’dil) terhadap seorang rawi melalui lafadz-lafadz penilaian yang tertentu, juga untuk mengetahui tingkatan lafadz-lafadz tersebut. [4]

Pada prinsipnya, ilmu jarh wa ta’dil adalah bentuk lain dari upaya untuk meneliti kualitas hadis bisa diterima (maqbul) atau ditolak (mardud). Adapun yang menjadi objek penelitian suatu hadis selalu mengarah pada dua hal penting, yang pertama berkaitan dengan sanad/rawi (rangkaian yang menyampaikan) hadis, dan kedua berkaitan dengan matan (redaksi) hadis. Dengan demikian keberadaan sanad dan matan menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

B. Pendapat Ulama Tentang Sanad

Dalam kaitannya dengan urgensi keberadaan sanad,[5] Muhammad Ibn Sirin (W 110 H/728 M) menyatakan bahwa “sesungguhnya pengetahuan hadis adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu itu”. [6] Maksudnya, dalam menerima suatu hadis, maka hal yang penting diteliti terlebih dahulu adalah sanad hadis yang bersangkutan.

‘Abdullah ibn al-Mubarak (W. 181 H/797 M) menyatakan bahwa “sanad hadis merupakan bagian dari agama. Sekiranya sanad tidak ada, niscaya siapa saja akan bebas menyatakan apa yang dikehendakinya”. [7] Pernyataan itu memberi peringatan bahwa sanad hadis merupakan bagian penting dari riwayat hadis. Keberadaan suatu hadis yang tercantum dalam berbagai kitab hadis ditentukan juga oleh keberadaan dan kualitas sanad-nya.

Terhadap pernyataan ‘Abdullah Ibn al-Mubarak itu, Imam al-Nawawi (W. 676 H/ 1277 M) menjelaskan bahwa apabila sanad suatu hadis berkualitas sahih, maka hadis tersebut bisa diterima, sedang bila sanad tersebut da’if, maka hadis tersebut harus ditolak. Menurut Al-Nawawi, hubungan sanad dan matan hadis ibarat hewan dengan kakinya. [8]

Lemahnya suatu sanad riwayat hadis tertentu sesungguhnya belumlah menjadikan hadis yang bersangkutan secara absolut tidak berasal dari Nabi. Dalam hal ini, riwayat hadis yang sanadnya lemah tidak dapat membuktikan bahwa hadis tersebut berasal dari Nabi. Padahal, hadis Nabi adalah sumber ajaran Islam, dan karenanya, riwayat hadis haruslah terhindar dari keadaan meragukan.

Pada kenyataannya, tidaklah setiap sanad yang menyertai sesuatu yang dinyatakan sebagai hadis terhindar dari keadaan yang meragukan. Hal itu dapat dimaklumi sebab orang-orang yang terlibat dalam periwayatan hadis, selain banyak jumlahnya, juga sangat bervariasi kualitas pribadi dan kapasitas intelektualnya.

Menghadapi sanad yang bermacam-macam kualitasnya itu, maka ulama ahli hadis menyusun berbagai istilah. Berbagai istilah itu, tidak hanya dimaksudkan untuk mempermudah membedakan macam-macam sanad yang keadaannya sangat bervariasi itu saja, tetapi juga untuk mempermudah penilaian terhadap sanad yang bersangkutan dalam hubungannya dengan bisa atau tidaknya dijadikan hujjah.

C. Bagian-Bagian Sanad Yang Diteliti

Sanad hadis, yang menurut pengertian istilahnya adalah rangkaian para periwayat yang menyampaikan kita pada matan hadis,[9] mengandung bagian penting yakni,

  1. Nama-nama periwayat yang terlibat dalam periwayatan hadis yang bersangkutan,
  2. Lambang-lambang periwayatan hadis yang telah digunakan oleh masing-masing periwayat dalam meriwayatkan hadis yang bersangkutan, misalnya sami’tu, akhbarani,’ an, dan anna.

Pada umumnya ulama hadis dalam melakukan penelitian sanad hadis hanya berkonsentrasi pada keadaan para periwayat dalam sanad itu saja, tanpa memberikan perhatian yang khusus pada lambang-lambang yang digunakan oleh masing-masing periwayat dalam sanad. Padahal, cacat hadis (‘illat al-hadis) tidak jarang “tersembunyi” pada lambang-lambang tertentu yang digunakan oleh periwayat dalam meriwayatkan hadis.

D. Pentingnya Matan

Sekiranya setiap matan hadis sudah bisa dipastikan berasal dari Nabi, maka penelitian terhadap matan dan sanad hadis tidak diperlukan. Kenyataannya, tidak semua hadis yang periwayatannya tidak sampai pada Nabi atau bahkan ada beberapa hadis yang sengaja dibuat-buat oleh seseorang demi kepentingan pribadi. Perlunya penelitian terhadap matan hadis tidak hanya karena keadaan matan terpengaruh oleh keadaan sanad saja, namun juga karena dalam periwayatan hadis dikenal adanya periwayatan bi al-makna. Meskipun telah ditetapkan syarat-syarat sahnya riwayat secara makna[10], namun hal itu tidaklah berarti bahwa seluruh periwayat yang terlibat dalam periwayatan hadis mampu memenuhi dengan baik semua ketentuan itu.

Dengan adanya periwayatan secara makna, maka untuk penelitian matan hadis, misalnya berkenaan dengan berita peperangan, sasaran penelitian pada umumnya tidak tertuju kepada kata per kata dalam matan itu, tetapi sudah dianggap cukup bila penelitian tertuju pada kandungan berita yang bersangkutan. Lain halnya bila yang diteliti adalah matan yang mengandung ajaran Nabi tentang suatu ibadah tertentu ta’abbudi, misalnya bacaan salat, maka masalah yang diteliti meliputi keadaan kata demi kata. Upaya ini dilakukan adalah dalam kaitannya dengan keyakinan umat Islam bahwa apa yang di baca dan diamalkan benar-benar diyakini bersumber dari Nabi yang wajib diikuti.

Adanya periwayatan hadis secara makna telah menyebabkan penelitian matan dengan pendekatan semantik[11] tidak mudah dilakukan. Kesulitan itu terjadi karena matan hadis yang sampai pada mukharrijnya masing-masing, telah “beredar” pada sejumlah periwayat yang berbeda generasi, dan tidak jarang juga berbeda latar belakang budaya dan kecerdasan mereka. Perbedaan generasi dan budaya dapat menyebabkan timbulnya perbedaan penggunaan dan pemahaman suatu kata ataupun istilah, sedang perbedaan kecerdasan dapat menyebabkan pemahaman terhadap matan hadis yang diriwayatkan tidak sejalan.

Walaupun penelitian matan dengan pendekatan semantic tidak mudah dilakukan, namun tidak berarti bahwa penelitian dengan pendekatan bahasa tidak dilakukan. Penelitian matan hadis dengan pendekatan bahasa sangat perlu karena bahasa Arab yang digunakan oleh Nabi dalam menyampaikan berbagai hadis selalu dalam susunan yang baik dan benar. Penggunaan pendekatan bahasa dalam penelitian matan akan sangat membantu terhadap kegiatan penelitian yang berhubungan dengan kandungan petunjuk dari matan hadis yang bersangkutan.

Untuk meneliti kandungan matan seringkali juga diperlukan pendekatan rasio, sejarah, dan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam. Dengan demikian, kesahihan matan hadis yang dihasilkan tidak hanya dilihat dari sisi bahasa saja, tetapi juga diperhatikan aspek rasio, sejarah, dan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Penelitian matan dengan beberapa macam pendekatan tersebut ternyata memang masih tidak mudah dilakukan. Apalagi bila diingat bahwa sebagian dari kandungan matan hadis berhubungan dengan masalah keimanan, hal-hal yang gaib, dan petunjuk-petunjuk kegiatan agama yang bersifat ta’abbudi. [12] Dengan demikian, maka penelitian matan hadis memang memerlukan kecerdasan dan kecermatan dalam menggunakan acuan pendekatan yang relevan dengan masalah yang diteliti.

Kesulitan penelitian matan juga disebabkan oleh masih sangat langkanya kitab-kitab yang secara khusus membahas kritik matan. Rupanya, ulama hadis pada umumnya telah terserap waktu dan energi mereka untuk melakukan penelitian sanad hadis. Hal itu dapat dimaklumi sebab bila masalah sanad tidak segera mereka tangani, maka kerumitan penelitian hadis akan bertambah lagi. Untuk kepentingan-kepentingan sanad, berbagai kitab yang diperlukan telah banyak disusun oleh ulama. Untuk penelitian matan, karya-karya tulis ulama tentang hal itu selain masih perlu pengembangan lebih lanjut, juga termuat dalam berbagai kitab yang tidak secara khusus membicarakan penelitian matan. [13]

Berdasarkan uraian tersebut maka dapatlah dinyatakan bahwa kesulitan penelitian matan disebabkan oleh beberapa faktor, yakni:

  1. Adanya periwayatan secara makna
  2. Adanya beragam pendekatan
  3. Sulitnya melacak latar belakang asbab al-wurud hadis
  4. Adanya kandungan petunjuk hadis yang berkaitan dengan hal-hal yang berdimensi “supra rasional”
  5. Sulitnya mendapat kitab-kitab khusus tentang penelitian matan hadis. [14]

E. Tujuan Penelitian Sanad dan Matan

Tujuan pokok penelitian hadis, baik sanad maupun matan adalah untuk mengetahui kualitas hadis. Kualitas hadis sangat perlu diketahui dalam hubungannya dengan ke-hujjah-an hadis yang bersangkutan. Hadis yang kualitasnya tidak memenuhi syarat tidak dapat digunakan sebagai hujjah. Pemenuhan syarat itu diperlukan karena hadis merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Penggunaan hadis yang tidak memenuhi syarat akan mengakibatkan ajaran Islam tidak sesuai dengan apa yang seharusnya.

Ulama hadis sesungguhnya telah melakukan penelitian terhadap seluruh hadis yang ada, baik yang termuat dalam berbagai kitab hadis maupun yang termuat dalam berbagai kitab syarah. Pertanyaan yang muncul adalah apakah saat ini masih diperlukan penelitian hadis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan dilihat beberapa hal berikut ini:[15]

  1. Hasil penelitian para ulama pada dasarnya adalah tidak terlepas dari hasil ijtihad. Suatu ijtihad tidak terlepas dari dua kemungkinan, yakni banar dan salah. Jadi, hadis tertentu yang dinilai sahih oleh seorang ulama hadis masih terbuka kemungkinan benar dan salah. Jadi, hadis tertentu yang dinyatakan berkualitas sahih oleh seorang ulama hadis masih terbuka kemungkinan ditemukan kesalahannya sebelum dilakukan penelitian kembali secara lebih cermat.
  2. Pada kenyataannya, tidak sedikit hadis yang dinilai sahih oleh ulama hadis tertentu, tetapi dinilai tidak sahih yang dinilai oleh ulama lainnya. Padahal, suatu berita itu tidak terlepas dari dua kemungkinan, yakni benar atau salah. Dengan begitu, penelitian kembali masih perlu dilakukan minimal untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya perbedaan hasil penelitian itu.
  3. Pengetahuan manusia berkembang dari masa ke masa. Perkembangan pengetahuan itu sudah selayaknya dimanfaatkan untuk melihat kembali hasil-hasil penelitian yang telah lama ada.
  4. Ulama hadis adalah manusia biasa, yang tidak terlepas dari berbuat salah. Karenanya tidak mustahil bila hasil penelitian yang mereka kemukakan, masih dapat ditemukan letak kesalahannya setelah dilakukan penelitian kembali.
  5. Penelitian hadis mencakup penelitian sanad dan matan. Dalam penelitian sanad, pada dasarnya yang diteliti adalah kualitas pribadi dan kapasitas intelektual para periwayat yang terlibat dalam sanad, di samping metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat itu. Menilai seseorang tidaklah semudah menilai benda mati. Dapat saja seseorang dinyatakan baik pribadinya, padahal kenyataan yang sesungguhnya adalah sebaliknya. Kesulitan menilai pribadi seseorang ialah karena pada diri seseorang terdapat dimensi yang dapat mempengaruhi pribadinya. Karenanya tidaklah mengherankan bila dalam menilai periwayat hadis, tidak jarang ulam berbeda pendapat. Ini berarti, penelitian memang tidak hanya diperlukan kepada periwayat saja, tetapi juga kepada ulama yang menilai para periwayat saja, tetapi juga kepada ulama yang menilai para periwayat tersebut.

Dengan beberapa faktor di atas, maka penelitian ulang terhadap hadis terutama pada kandungan matan tetap saja bermanfaat sekaligus sebagai salah satu upaya untuk menilai tingkat akurasi penelitian sebelumnya, juga untuk menghindarkan diri dari penggunaan dalil tidak tepat. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa hasil penelitian ulama harus diragukan. Upaya dilakukan penelitian ulang untuk membuktikan dan mendukung hasil penilaian ulama yang mempunyai tingkat akurasi yang tinggi. Yang menentukan tingkat akurasi hasil penelitian tidak hanya ketepatan metodologi saja, tetapi juga didukung oleh tingkat kecerdasan dan kecermatan yang tinggi serta penguasaan pengetahuan yang harus dimiliki sang peneliti.

Landasan tentang bolehnya Men-Jarh

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,ř$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ŠÅÁè? $JBöqs% 7′s#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4’n?tã $tB óOçFù=yèsù tûüÏBω»tR ÇÏÈ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar sesuatu dari kami, kemudian dia menyampaikan (kepada orang lain) sebagaimana yang dia dengar. Bisa jadi orang yang diberi kabar darinya lebih paham dari dia (yang mendengar langsung). ”

Dengan mengacu pada ayat dan hadis di atas, secara tegas menganjurkan tentang wajibnya tabayyun dan tasabbut (meneliti kebenaran berita) dari seseorang yang fasik. Anjurannya adalah kecermatan dan ketelitian menerima suatu berita. Apalagi dari orang yang belum dikenal sosio-historisnya atau belum dikenal terpercaya (siqah). Pada kasus periwayatan hadis, di samping tabayyun dan tasabut atas ke-siqah-an, diperlukan juga penilaian terhadap kapabilitas dalam kuatnya hafalan (dhabith).

Mengomentari dua dalil di atas, Al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan: bahwa al-jarh (kritik) terhadap para rawi yang menukilkan suatu berita atau riwayat adalah boleh. [16] Bahkan wajib, berdasarkan kesepakatan para ulama karena adanya kebutuhan mendesak dan memang mengharuskan untuk dikritik demi membangun dan melindungi syariat.

Selanjutnya al-Nawawi memberikan kriteria khusus terhadap seorang kritikus yaitu, dalam melakukan jarh, seorang kritikus harus didasari dengan ketakwaan kepada Allah. Perlu adanya tatsabbut (meneliti kebenaran berita), berhati-hati, tidak sembarangan dalam men-jarh orang yang sebenarnya bersih dari cacat, atau merendahkan orang-orang yang tidak tampak kekurangannya, karena kerusakan akibat jarh ini sangat besar.

* * *

Sejarah Ilmu Jarh wa ta’dil

Berbicara sejarah, ada beberapa faktor yang melatar-belakangi pentingnya dilakukan Jarh wa ta’dil. Di antaranya sebagai berikut :

A. Hadis Sebagai Sumber Ajaran Islam.

Ada fenomena menarik bahwa para periwayat hadis mulai dari generasi sahabat sampai generasi mukharrij al-hadis sudah tidak dapat dijumpai lagi secara fisik karena mereka telah wafat. Sementara para sahabat adalah para saksi sejarah yang bisa menyaksikan serta mewartakan apa yang telah mereka rekam selama bergaul dan bersahabat dengan Nabi. Kondisi tersebut menyebabkan rasa ingin tahu untuk mengenali keadaan pribadi mereka, baik kelebihan maupun kekurangan mereka di bidang periwayatan hadis, diperlukan informasi dari berbagai kitab yang ditulis oleh ulama ahli kritik rijal (para periwayat) hadis. Kritik tersebut dilakukan mengingat kedudukan hadis Nabi sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Cukup banyak ayat al-Quran yang memerintahkan orang-orang yang beriman untuk patuh dan mengikuti petunjuk-petunjuk Nabi Muhammad, utusan Allah SWT. Sebagian dari ayat al-Quran itu adalah sebagai berikut:

!$¨B uä!$sùr& ª!$# 4’n?tã ¾Ï&Î!qߙu‘ ô`ÏB È@÷dr& 3“tà)ø9$# ¬Tsù ÉAqߙ§=Ï9ur “Ï%Î!ur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ö’s1 Ÿw tbqä3tƒ P’s!rߊ tû÷üt/ Ïä!$uŠÏYøîF{$# öNä3ZÏB 4 !$tBur ãNä39s?#uä ãAqߙ§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

ö@è% (#qãè‹ÏÛr& ©!$# š^qߙ§9$#ur ( bÎ*sù (#öq©9uqs? ¨bÎ*sù ©!$# Ÿw =Ïtä† tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÌËÈ

Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

`¨B ÆìÏÜムtAqߙ§9$# ô‰s)sù tí$sÛr& ©!$# ( `tBur 4’¯<uqs? !$yJsù y7»oYù=y™ö‘r& öNÎgøŠn=tæ $ZàŠÏÿym ÇÑÉÈ

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Secara umum ayat-ayat di atas menganjurkan patuh pada perintah Nabi dan berpegang teguh pada teladan yang ditunjukkan melalui praktik dan perilaku-perilaku Nabi. [17] Anjuran, larangan serta teladan hidup dari Nabi yang termuat dalam sunnah atau hadis beliau adalah sumber ajaran Islam. Dengan meyakini bahwa hadis Nabi merupakan bagian dari sumber ajaran Islam, maka penelitian hadis khususnya hadis ahad sangat penting. Penelitian itu dilakukan untuk upaya menghindarkan diri dari pemakaian dalil-dalil hadis yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai sesuatu yang berasal dari Nabi.

Sekiranya hadis Nabi hanya berstatus sebagai data sejarah an sich, niscaya penelitian-penelitian hadis tidaklah begitu urgen. Hal itu tampak berbeda pada sikap ulama ketika menghadapi berbagai kitab sejarah (sirah para Nabi). Kritik yang diajukan ulama hadis terhadap berita atau informasi yang termuat dalam berbagai kitab-kitab sejarah tidaklah seketat kritik mereka terhadap berbagai hadis yang termuat dalam kitab-kitab hadis, khususnya yang berkaitan dengan pokok-pokok ajaran agama.

Fenomena lain yang dapat ditemukan terkait dengan kepentingan meneliti hadis adalah tidak seluruh hadis tertulis pada masa Nabi. Pada suatu saat, Nabi pernah melarang sahabat untuk menulis hadis. Dalam pada itu, pun Nabi juga pernah menyuruh atau mengizinkan sahabat menulis hadis. [18] Kebijaksanaan Nabi tersebut menimbulkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama, bahkan di kalangan sahabat tentang boleh tidaknya menulis hadis. Dalam sejarah, pada masa Nabi telah terjadi penulisan hadis, misalnya berupa surat-surat Nabi tantang ajakan memeluk Islam kepada sejumlah pejabat dan kepala negara yang belum memeluk Islam.

Sejumlah sahabat yang telah menulis hadis pada saat itu adalah Abdullah Ibn Amr bin Ash (W. 65 H/685 M), Abdullah bin Abbas (W. 68 H/687 M), Ali bin Abi Talib (W. 40 H/661 M), Samurah bin Jundab (W. 60 H), Jabir bin Abdillah (W. 78 H/ 697 M), dan Abdullah bin Abi Aufa (W. 86 H). walaupun demikian tidaklah berarti bahwa seluruh hadis telah terhimpun dalam catatan para sahabat tersebut. Hal ini sangatlah beralasan karena para sahabat yang membikin catatan-catatan itu didorong oleh keinginan pribadi, sedang mereka itu sangat sulit untuk mampu mengikuti dan mencatat apa saja yang berasal dari Nabi, khususnya hadis Nabi yang terjadi di hadapan satu atau dua orang sahabat saja.

Dengan demikian, hadis yang berkembang pada masa Nabi lebih banyak berlangsung secara hafalan daripada tulisan. Itu berakibat dokumentasi hadis Nabi secara tertulis belum mencakup keseluruhan hadis yang ada. Dalam pada itu, tidaklah semua hadis yang telah dicatat oleh para sahabat telah dilakukan pemeriksaan di hadapan Nabi. Itu berarti bahwa hadis yang didokumentasikan secara tertulis dan secara hafalan tidak terhindar dari keharusan untuk diteliti.

Sekiranya hadis telah rampung dihimpun dan telah diperiksa oleh Nabi, maka dengan sendirinya penelitian terhadap hadis Nabi tidak diperlukan lagi. Perumpamaan tersebut memang sangat sulit terjadinya. Alasannya bukan hanya karena jumlah para sahabat Nabi yang pandai menulis tidak sebanyak jumlah sahabat yang tidak pandai menulis saja, yang mana itupun lebih terfokus pada penulisan al-Qur’an, tetapi juga karena kegiatan mencatat berbagai hal yang terjadi pada seseorang yang masih hidup tidaklah mudah. Di samping itu, apa yang disebut sebagai hadis sebagaimana dinyatakan oleh ulama hadis, yakni segala sabda, perbuatan, taqrir, dan hal ihwal Nabi Muhammad saw[19] tidak selalu terjadi dan disaksikan di hadapan banyak orang. Misalnya beberapa hal yang berhubungan dengan pergaulan Nabi dengan para istri-istri beliau, maka apa yang telah dilakukan ole Nabi itu hanya mungkin diketahui oleh istri-istri beliau saja. Padahal, apa yang telah berlangsung antara nabi dan istri beliau itu adalah juga termasuk hadis. [20]

Dengan kenyataan tersebut maka memang sangat logis bila dinyatakan bahwa tidaklah seluruh hadis telah tertulis pada masa Nabi. Hal itu membawa akibat bahwa hadis tidak terhindar dari kemungkinan salah dalam periwayatan. Itu berarti, saksi-saksi sejarah yang terlibat dalam periwayatan harus dilakukan penelitian. Dengan demikian, kedudukan penelitian yang mampu menerangkan tingkat kebenaran suatu riwayat menjadi sangat penting.

B. Munculnya Berbagai Pemalsuan Hadis

Belum ada data sejarah yang dapat dipertanggung-jawabkan bahwa pada masa Nabi telah terjadi pemalsuan hadis. Kegiatan pemalsuan hadis mulai muncul dan berkembang pada masa khalifah Ali Bin Abi Talib memerintah 35-40 H / 656-661 M. , demikian pendapat ulama hadis pada umumnya. [21]

Pada mulanya, faktor yang mendorong seseorang melakukan pemalsuan hadis adalah kepentingan politik. Pada masa itu, telah terjadi pertentangan politik antara Ali Bin Abi Talib dan Mu’awiyyah Bin Abi Sufyan. Para pendukung masing-masing tokoh telah melakukan berbagai upaya untuk memenangkan perjuangan mereka salah satu upaya yang telah dilakukan oleh sebagaimana dari mereka ialah pembuatan hadis-hadis palsu. [22]

Dalam sejarah, pertentangan politik tersebut telah mengakibatkan timbulnya pertentangan di bidang Teologi. Sebagian dari pendukung aliran Teologi yang timbul pada saat itu telah membuat berbagai hadis palsu untuk memperkuat argumentasi aliran yang mereka yakini benar. [23] Tentu saja kalangan musuh Islam yang berkeinginan meruntuhkan Islam dari dalam tidak menyia-nyiakan pertentangan politik yang timbul yang dialami umat Islam. Para musuh Islam itu juga menggunakan senjata dengan membuat berbagai hadis palsu dalam memerangi Islam. [24]

Selanjutnya, faktor kepentingan ekonomi, keinginan menyenangkan hati pejabat (cari muka), dll, telah ikut menyemarakkan pembuatan hadis palsu. Bahkan sejumlah muballigh yang beranggapan bahwa untuk kepentingan dakwah dapat saja dilakukan pembuatan hadis palsu. [25]

Ahmad bin Hanbal (W. 241 H/ 855 M) dan Yahya bin Ma’in (W. 233 H/ 848 M) pernah memergoki seorang pemalsu hadis yang sedang mengemukakan sebuah hadis palsu di dalam sebuah Masjid dan menerangkan bahwa hadis itu berasal dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. tentu saja Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Mai’n sangat terkejut sebab mereka tidak pernah mengemukakan riwayat itu. Yahya lalu memperkenalkan dirinya dan diri Ahmad bin Hanbal kepada orang tersebut, serta menyatakan bahwa mereka berdua tidak pernah mengemukakan apa yang telah dikemukakannya tadi.

Ternyata, pemalsu hadis menjawab bahwa Yahya bin Ma’in itu orang yang sangat dungu dan orang yang bernama Ahmad bin Hanbal itu tidak hanya seorang saja, tetapi ada tujuh belas orang. Ahmad bin Hambal lalu meletakkan lengan bajunya kebagian muka orang tersebut dan berkata: Hentikan perbuatanmu itu! Pemalsu hadis itu lalu berdiri dengan sikap yang mengejek kepada kedua tokoh ulama hadis tersebut. [26]

Seorang pemalsu hadis yang didorong oleh kepentingan untuk mencari uang mengatakan bahwa dengan menerima hadiah uang hanya satu dirham saja, dia telah bersedia melakukan pembuatan hadis palsu sebanyak lima puluh buah. ‘Abdul-Karim bin Abil-‘Auja’, seorang pemalsu hadis, mengaku telah membuat hadis palsu sebanyak 4. 000 buah. [27]

Berbagai pemalsuan hadis tersebut telah menyulitkan umat Islam yang ingin mengetahui berbagai riwayat hadis yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan berasal dari Nabi Muhammad. Sungguh merupakan karunia yang luar biasa dari Allah bahwa ternyata para ulama hadis telah bekerja keras menyelamatkan hadis dari penghancuran massal yang telah dilakukan oleh para pemalsu hadis. Upaya ulama ahli hadis untuk menyelamatkan hadis Nabi tersebut berupaya menyusun berbagai kaidah dan ilmu hadis yang secara ilmiah dapat digunakan untuk penelitian hadis. [28] Dalam hubungan itu, sanad hadis menjadi sangat penting, dan penelitian pribadi para periwayat yang menyatakan telah memperoleh satu riwayat hadis menjadi salah satu bagian terpokok dalam penelitian hadis. Karenanya tidaklah mengherankan bila pengkajian sejarah berkenaan dengan para periwayat hadis menjadi salah satu kegiatan penting yang telah dilakukan oleh ulama hadis. Kegiatan para ulama hadis tersebut telah menimbulkan rasa kagum Herbert Spencer, salah seorang orientalis yang menyatakan bahwa hanya terdapat dalam Islam, yakni dalam ilmu hadis telah dipelajari sejarah hidup sekitar setengah juta orang. [29] Yang dimaksudkan oleh Herbert Spencer itu adalah biografi para periwayat hadis.

Berbagai kaidah dan ilmu hadis yang telah diciptakan oleh ulama hadis telah dituangkan dalam berbagai kaitan untuk penelitian hadis. Jasa keilmuan para ulama itu telah mampu secara akurat terhadap riwayat hadis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah berasal dari Nabi dan riwayat yang ternyata diragukan ataupun dipastikan tidak berasal dari Nabi.

Dengan telah terjadinya pemalsuan-pemalsuan hadis tersebut, maka kegiatan penelitian hadis menjadi sangat penting. Tanpa dilakukan penelitian, maka hadis Nabi akan bercampur aduk dengan yang bukan hadis dan ajaran Islam akan dipenuhi oleh berbagai hal yang menyesatkan umatnya.

C. Proses Penghimpunan Hadis.

Dalam sejarah, penghimpunan hadis secara resmi dan massal terjadi atas perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz (W. 101 H/720 M). dikatakan resmi karena kegiatan penghimpunan itu merupakan kebijaksanaan dari kepala negara dan dikatakan massal karena perintah kepala negara itu ditujukan kepada para gubernur dan ulama ahli hadis pada zaman itu.

Abdul Aziz bin Marwan (W. 85 H/704 M), Ayahanda Umar bin ‘Abdul Aziz, ketika menjadi gubernur di Mesir, melalui surat meminta kepada Kasir bin Murrah, seorang tabi’in di Hims, untuk mencatatkan berbagai hadis yang diriwayatkan oleh sahabat selain Abu Hurairah. ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan menyatakan bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah memiliki catatannya. Dengan adanya surat gubernur ‘Abdul Aziz bin Marwan itu, menurut Muhammad ‘Ajjaj Khatib, bahwa penghimpunan hadis secara resmi terjadi atas daras perintah gubernur tersebut. Pendapat tersebut mengandung kelemahan:

  1. Jabatan ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bukanlah kepala Negara, melainkan gubernur. Kebijaksanaan gubernur belum dapat dinyatakan sebagai kebijaksanaan negara.
  2. Surat permintaan itu ditujukan kepada lama yang berada di luar wilayah Mesir. Dengan demikian, tidak terjadi hubungan kedinasan antara yang mengirim dan yang menerima surat.
  3. Permintaan yang dikemukakan oleh ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan itu lebih bersifat pribadi daripada bersifat dinas.

Walaupun demikian tidaklah berarti bahwa di antara surat permintaan gubernur ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan dan surat perintah Khalifah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz tidak ada kaitannya sama sekali. Sangat mungkin, surat ‘Abdul ‘Aziz itu telah memberi inspirasi untuk menerbitkan surat Perintahnya tentang penghimpunan hadis tersebut.

Sebelum Khalifah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz wafat, ulama hadis yang telah berhasil melaksanakan perintah khalifah adalah Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (W. 124 H/742 M), seorang ulama terkenal di negeri Hijaz dan Syam. Bagian-bagian kitab al-Zuhri segera dikirim oleh Khalifah ke berbagai daerah untuk bahan penghimpunan hadis selanjutnya. [30]

Pada pertengahan abad ke-2 Hijrah, telah muncul karya-karya himpunan hadis di berbagai kota besar, misalnya Mekkah, Madinah, dan Basrah. Puncak penghimpunan hadis Nabi terjadi sekitar abad ke-3 H.

Dengan demikian, jarak waktu antara masa penghimpunan hadis dan wafatnya Nabi cukup lama. Hal itu menyebabkan pentingnya penelitian hadis untuk menghindarkan diri dari penggunaan dalil hadis yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan validitasnya.


D. Periwayatan Hadis Secara Makna.

Pada umumnya para sahabat Nabi membolehkan periwayatan hadis secara makna. Mereka itu, misalnya Ali bin Abi Talib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud (W. 32 H/652 M), Anas bin Malik (W. 93 H/ 711 M), Abu Darda’ (W. 32 H/652 M). Abu Hurairah (W. 58 H /678 M). dan ‘Aisyah istri Nabi. Sedangkan para sahabat yang melarang periwayatan hadis secara makna, misalnya, ‘Umar bin Khattab, ‘Abdullah bin Umar bin Khattab, dan Zaid bin Arqam.

Perbedaan tentang boleh tidaknya meriwayatkan dengan makna juga terjadi di kalangan ulama. ulama yang membolehkan periwayatan secara makna menekankan pentingnya pemenuhan syarat-syarat yang ketat, misalnya periwayat yang bersangkutan harus mendalam pengetahuannya tentang bahasa Arab, hadis yang diriwayatkan bukanlah bacaan yang bersifat ta’abbudi, umpamanya bacaan salat, dan periwayatan secara makna dilakukan karena sangat terpaksa. Dengan demikian, periwayatan hadis secara makna tidaklah berlangsung secara longgar, tetapi sangat ketat.

Walaupun sangat ketat syarat periwayatan hadis secara makna, namun kebolehan itu memberi petunjuk bahwa matan hadis yang diriwayatkan secara makna telah ada dan bahkan lumayan banyak. Padahal, untuk mengetahui kandungan petunjuk hadis tertentu, diperlukan terlebih dahulu mengetahui susunan redaksi (tekstual) dari hadis yang bersangkutan, khususnya yang berkenaan dengan hadis qauli (hadis yang berupa sabda Nabi). Karenanya, kegiatan penelitian baik sanad maupun matan menjadi sangat penting.

Demikianlah faktor-faktor yang melatarbelakangi pentingnya ilmu tentang jarh wa al-ta’dil, dengan semata-mata untuk menjaga otentisitas serta kualitas hadis, sehingga bisa menambah keimanan serta menghilangkan keraguan-keraguan yang sering dilontarkan oleh para inkar al-Sunnah.

* * *

Metode Ulama dalam Jarh wa ta’dil

Secara umum, keadaan periwayat dapat dibagi kepada siqah dan yang tidak siqah. Dalam menyampaikan riwayat, periwayat yang siqah memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan karenanya dapat dipercaya riwayatnya. Bagi periwayat yang tidak siqah, perlu terlebih dahulu diteliti letak ketidak-siqah-annya, yakni apakah berkaitan dengan kualitas pribadinya atau berkaitan dengan kapasitas intektualnya. Yang pasti, riwayat yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak siqah, dari segi akurasinya berada di bawah riwayat yang disampaikan oleh periwayat yang siqah. [31]

Dalam hubungannya dengan persambungan sanad, kualitas periwayat sangat menentukan. Periwayat yang tidak siqah yang menyatakan telah menerima riwayat dengan metode sami’na, misalnya, walaupun metode itu diakui ulama hadis memiliki tingkat akurasi yang tinggi, tetapi karena yang menyampaikan itu adalah orang yang tidak siqah, maka informasi yang dikemukakannya itu tetap tidak dapat dipercaya. Sebaliknya, apabila yang menyatakan sami’na adalah orang yang siqah, maka informasinya dapat dipercaya. Selain itu, ada periwayat yang dinilai siqah oleh ulama ahli kritik hadis, namun dengan syarat bila dia menggunakan lambang periwayatan haddasani atau sami’tu, maka sanadnya bersambung. Tetapi bila menggunakan selain kedua lambang tersebut, maka sanadnya terdapat tadlis (menyembunyikan cacat). Periwayat yang siqah yang bersyarat itu misalnya, Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, yang dikenal dengan ibn Juraij (W. 149/150 H). [32]

Dengan uraian tersebut dapatlah dinyatakan bahwa untuk mengetahui bersambung atau tidaknya suatu sanad, maka hubungan antara periwayat dan metode periwayatan yang digunakan perlu juga diteliti. Karena tadlis masih mungkin terjadi pada sanad yang dikemukakan oleh periwayat yang siqah, maka ke-siqah-an periwayatan perlu dilakukan penelitian secara cermat.

Sekiranya suatu sanad hadis yang telah diteliti telah memberikan petunjuk yang meyakinkan bahwa seluruh sanad yang terdapat dalam sanad itu siqah dan sanadnya benar-benar bersambung, maka tidak ada alasan untuk menolak bahwa kualitas sanad hadis tersebut sahih. Namun pada kenyataannya, ada sanad hadis yang tampak berkualitas sahih dan setelah diteliti kembali dengan lebih cermat lagi, misalnya dengan membanding-bandingkan semua sanad untuk matan yang semakna, hasil penelitian akhir menunjukkan bahwa hadis yang bersangkutan mengandung kejanggalan (syaz) ataupun cacat (‘illat).

Hal itu terjadi sesungguhnya bukan karena terdapat kelemahan pada kaidah kesahihan sanad yang dijadikan sebagai acuan, melainkan telah terjadi kesalahan langkah metodologis dalam penelitian. Mungkin saja sanad yang menggunakan lambang ’an atau anna, atau qala tidak diteliti secara cermat dan setelah diteliti kembali, ternyata di balik lambang-lambang itu terdapat tadlis (menyembunyikan sanad). Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa kegiatan penelitian sanad masih belum dinyatakan selesai bila penelitian tentang kemungkinan adanya syaz dan ‘illat belum dilaksanakan dengan cermat. Penelitian terhadap kedua hal tersebut memang termasuk lebih sulit bila dibandingkan dengan penelitian terhadap keadaan para periwayat dan persambungan sanad hadis secara umum.

A. Pandangan Ulama tentang Definisi syaz dan illat.

Di antara pendapat ulama tentang syaz adalah :

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang siqah, tetapi riwayatnya bertentangan dengan periwayat yang dikemukakan oleh orang banyak periwayat yang sama-sama siqah. Pendapat ini dikemukakan oleh imam Syafi’i.
  2. Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang siqah, tetapi orang-orang yang siqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hakim al-Naisaburi.
  3. Hadis yang sanadnya hanya satu buah saja, baik periwayatnya bersifat siqah atau tidak. Pendapat ini dikemukakan Abu Ya’la al-Khalili.

Dari ketiga pendapat itu, maka pendapat Syafi’i lebih banyak di pakai oleh ulama ahli hadis sampai saat ini. Berdasarkan pendapat Syafi’i tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa kemungkinan suatu sanad menggandung syaz bila sanad yang diteliti lebih dari satu buah. Hadis yang hanya memiliki satu buah sanad saja tidak dikenal adanya kemungkinan mengandung syad. Salah satu langkah penelitian yang sangat penting untuk meneliti kemungkinan adanya syad suatu sanad hadis ialah dengan membanding-bandingkan semua sanad yang ada untuk matan yang topik pembahasannya sama atau memiliki segi kesamaan.

Ulama ahli hadis pada umumnya mengakui bahwa meneliti syaz dan ‘illat hadis tidaklah mudah. Sebagian ulama menyatakan:

  1. Penelitian tentang syaz dan ‘illat hadis hanya dapat di lakukan oleh mereka yang mendalam pengetahuan hadis mereka dan telah terbiasa melakukan penelitian hadis.
  2. Penelitian terhadap syaz hadis lebih sulit daripada penelitian terhadap ‘illat hadis. [33]

Lawan untuk hadis syaz (hadis yang mengandung syaz) adalah hadis mahfuz. Dalam hubungan ini perlu dijelaskan bahwa dalam ilmu hadis ada juga dikenal istilah hadis syaz, tetapi yang dimaksudkan bukanlah hadis yang lawannya hadis mahfuz. [34] Hadis syaz yang bukan lawan dari hadis mahfuz itu adalah hadis yang periwayatnya ada yang memiliki hafalan yang buruk (su’u al-hifz) secara tetap. [35]

‘illat yang disebutkan dalam salah satu unsur kaidah kesahihan sanad hadis ialah ‘illat yang mengetahuinya diperlukan penelitian yang lebih cermat. Sebab hadis yang bersangkutan tampak sanadnya berkualitas sahih. Cara penelitiannya antara lain dengan membanding-bandingkannya dengan semua sanad yang ada untuk matan yang isinya semakna. Ulama ahli kritik hadis mengakui bahwa penelitian ‘illat hadis yang disinggung oleh salah satu unsur kesahihan sanad hadis itu sulit dilakukan. Sebagian dari ulama tersebut menyatakan bahwa untuk meneliti ‘illat hadis, diperlukan intuisi (ilham). Pernyataan itu dikemukakan oleh Abdurrahman bin Mahdi yang mampu melakukan penelitian ‘illat hadis adalah orang yang cerdas, memiliki hafalan hadis yang banyak, faham hadis yang dihafalnya, berpengetahuan yang mendalam tentang tingkat kedhabitan para periwayat hadis, serta ahli di bidang sanad dan matan hadis.

Yang dijadikan acuan utama dalam meneliti ‘illat adalah hafalan, pemahaman, dan pengetahuan yang luas tentang hadis. Pernyataan butir ketiga ini dikemukakan oleh al-Hakim al-Naisaburi.

Kemampuan seseorang untuk menilai ‘illat hadis ibarat kemampuan seorang ahli peneliti keaslian uang logam yang dengan mendengarkan lentingan bunyi uang logam yang ditelitinya, dia dapat menentukan asli dan tidak aslinya uang tersebut.

Karena penelitian ‘illat hadis yang disinggung oleh salah satu unsur kaidah kesahihan sanad hadis itu sulit dilakukan, maka Ibnul-Madini dan al-Khatib al-Bagdadi memberi petunjuk bahwa untuk meneliti ‘illat hadis, maka langkah-langkah yang perlu ditempuh ialah:

  1. Seluruh sanad hadis untuk matan yang semakna dihimpunkan dan diteliti, bila hadis yang bersangkutan memang memiliki mutabi’ ataupun syahid.
  2. Seluruh periwayat dalam berbagai sanad diteliti berdasarkan kritik yang telah dikemukakan oleh para ahli kritik hadis. [36]

Sesudah itu, lalu sanad yang satu diperbandingkan dengan sanad yang lain. Berdasarkan ketinggian pengetahuan ilmu hadis yang telah dimiliki oleh peneliti hadis tersebut, maka akan dapat ditemukan, apakah sanad hadis yang bersangkutan mengandung ‘illat ataukah tidak.

Menurut penjelasan ulama ahli kritik hadis, ‘illat hadis pada umumnya dapat dilihat pada:

  1. Sanad yang tampak bersambung muttasil dan marfu’ (bersandar pada Nabi), tetapi pada kenyataannya mauquf (bersandar pada sahabat) walaupun sanadnya dalam keadaan muttasil.
  2. Sanad yang tampak muttasil dan marfu’, tetapi kenyataannya mursal (bersandar kepada tabi’) walaupun sanad dalam keadaan muttasil.
  3. Dalam hadis itu telah terjadi kerancuan karena bercampur dengan hadis yang lain.
  4. Dalam sanad hadis itu telah terjadi kekeliruan penyebutan nama periwayat yang memiliki kemiripan atau kesamaan dengan periwayat lain yang kualitasnya berbeda.

Walaupun kegiatan meneliti ‘illat hadis dinyatakan sangat sulit, namun karena sejumlah ulama telah menulis kitab berkaitan dengan masalah ‘illat hadis, maka kegiatan meneliti ‘illat hadis tersebut masih dapat dinyatakan relatif lebih mudah dari pada meneliti syaz hadis. Ulama ahli hadis mengakui bahwa kitab yang khusus membahas syaz hadis belum pernah ada yang menyusunnya.

B. Beberapa Ketentuan dalam Jarh wa Ta’dil

Dalam kitab Ilmu Al Jarh wa At Ta’dil, Qawa’iduhu wa Aimmatuhu, Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi, menetapkan beberapa ketentuan dalam melakukan jarh dan ta’dil, yaitu: [37]

  • Jarh ditujukan untuk perawi atau yang lainnya, maka jangan menjarh mereka kecuali bila ada manfaatnya.
  • Menjarh untuk kemaslahatan dan nasehat, bukan karena senang menampakkan cacat dan kekurangan orang lain, atau karena hawa nafsu.
  • Seorang harus berpegang teguh dengan apa yang ia katakan.
  • Menjarh sesuai dengan kebutuhan.
  • Bila dalam biografi seorang perawi terkumpul pada dirinya antara jarh dan ta’dil hendaknya ia menyebutkan keduanya secara bersamaan.

C. Metode dalam Jarh wa al-Ta’dil

Beberapa metode yang ditetapkan ulama dalam menjelaskan keadaan para periwayat, baik dalam keadaan cacat maupun dalam keadaan siqah. Di antaranya adalah:

  1. Jujur dan bersih dalam memberikan penilaian. Dalam hal ini ulama menyebutkan sifat-sifat yang melekat pada diri periwayat, baik positif maupun negatif. Dalam hal ini Ibnu Sirin berkata, dlalamta akhaka iza zakarta masa’ahu wa lam tazkur mahasinahu. “Sungguh engkau telah berbuat zalim atas saudaramu, jika engkau hanya menyebutkan kekurangan-kekurangannya saja tanpa menyertakan kelebihannya. Menerapkan sifat amanah tanpa melibatkan idiologi tertentu sangat dianjurkan dalam menjelaskan kebenaran, meskipun untuk menilai diri sendiri. Hal ini bisa menambah keimanan dan keistiqamahan seseorang. Terkait dengan keadaan ini. Syu’bah bin Hajjaj telah meriwayatkan sebuah hadis: faqila lahu: innaka tukhalifu fi haza al-hadis qala man yukhalifuni ? qalu Sufyan al-Sauri. Qala da’uhu, Sufyan ahfazu mini. Dikatakan bahwa Syu’bah bin Hajjaj meriwayatkan hadis yang berbeda dengan periwayatan Sufyan al-Sauri, kemudian Syu’bah mengakui kelebihan Sufyan al-Sauri, dan mengakui kekurangan yang ada pada pribadinya. Syu’bah memuji Sufyan dengan mengatakan lebih hafiz dari dirinya.
  2. Detail dan cermat dalam meneliti dan menilai. Seorang penilai harus cermat dan detail dalam melihat kepribadian seseorang. Detail dalam melihat kedalaman pengetahuan mereka tentang periwayatan hadis. Seorang periwayat kadang meriwayatkan hadis pada saat daya ingatnya sedang kacau, misalnya karena umurnya sudah lanjut atau dalam keadaan sakit.
  3. Memperhatikan etika dalam jarh. Ulama telah menetapkan beberapa kode etik sesuai dengan penelitian ilmiah yang harus diperhatikan oleh seorang penilai. Di antaranya adalah menghindari ungkapan yang paling kasar, misalnya “fulan wadhdha’, fulan kazzab”, untuk menghindari ungkapan-ungkapan seperti itu bisa memakai kalimat-kalimat yang halus dan sopan, misalnya “hadisuhu laisa bisyai’, lam yakun mustaqim al-lisan”, “dia tidak bisa menjaga lisannya”. Ungkapan itu sama artinya dengan dia suka berbohong. Dalam hal ini, al-Muzni pernah bercerita: sami’ani al-Syafi’I yauman wa ana aqulu fulanun kazzab, faqala li : ya Ibrahim, Aksu alfazaka ahsanuha, la taqul kazzab, wa lakin qul hadisahu laisa bisyai’in. Dll.
  4. Mengharuskan untuk menyebutkan sebab-sebab kecacatan atau kelemahan periwayat. Dalam melakukan ta’dil, ulama tidak mengharuskan menyebutkan sebab-sebab keadilannya, mengingat sebab-sebab dalam ta’dil sangat banyak. Misalnya, “fulan siqah adil karena ia rajin melakukan salat, menjalankan puasa, mengerjakan amalan-amalan sunnah dan tidak pernah menyakiti orang lain”. Tetapi cukup menyebutkan dengan “fulan sabat siqah, atau fulan saduq”. Berbeda dengan jarh, pada umumnya mereka menjelaskan sebab-sebab yang melemahkanya, misalnya sering lupa, sering salah, hafalannya kacau, dusta, fasik, dll. [38]

D. Apakah Ta’dil Harus Diterangkan Sebabnya?

Dalam hal ini para ulama’ berbeda pendapat. Di antaranya yaitu:

  1. Sebagian para imam berpendapat, harus menyebutkan sebab-sebab keadilannya. Adapun alasannya ada dua:
    1. Karena kadang seseorang memberikan rekomendasi keadilan tidak sesuai dengan sebab yang menjadikan seseorang adil. Sebagaimana yang dikatakan kepada Ahmad bin Yunus: “Abdullah bin Al ‘Amari dha’if, maka dia berkata: “Sesungguhnya yang mendha’ifkannya hanyalah orang-orang Rafidhah yang marah kepada bapaknya. Seandainya kalian melihat jenggot dan keadaannya maka Anda akan mengetahui bahwa ia seorang yang tsiqah. “
    2. Sesungguhnya sebab-sebab tersebut mempunyai peran sangat besar terhadap keadilan seseorang, maka manusia cepat memujinya dengan melihatnya secara dzahir.
  2. Sebagian yang lain tidak mengharuskan penyebutan sebab keadilan. Adapun alasannya ada dua:
    1. Ijma’ umat, bahwa ta’dil tidak diambil kecuali dari perkataan orang yang adil pula, yang mengetahui segala sesuatu yang menjadikan seseorang adil atau jarh.
    2. Sesungguhnya sebab-sebab keadilan sangat banyak sekali. Bila diharuskan menyebutkannya, maka penta’dil harus menyebutkan setiap perbuatan baik yang dilakukan orang yang dita’dilnya yang sesuai dengan syar’I maupun yang bertentangan dengan syar’i, sehingga ini sangat sulit untuk menyebutkannya. Ulama’ yang berpendapat ini diantaranya Imam An Nawawi, Mahmud Al-Thahhan, Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi. Pendapat yang kedua inilah yang paling banyak dipakai.

E. Apakah Jarh Harus Diterangkan Sebabnya?

Dalam hal ini ulama berpendapat, sebagian ulama tidak mengharuskan menjelaskan jarh selama syarat-syarat sebagai Jarih telah terpenuhi. Sedangkan sebagian yang lain mengharuskan menjelaskan sebab-sebab jarh. Di antara alasannya:

  1. Menjelaskan sebab-sebab jarh tidak sulit, karena dengan satu sebab sudah cukup.
  2. Kebanyakan manusia menyelisihi perbuatan yang menjadikan seseorang dijarh. Yang sependapat dengan pendapat ini diantaranya Imam An Nawawi, Mahmud Ath Thahhan, Ibnu Ash Shalah dan yang lainnya.

* * *

Syarat-Syarat Mu’addil dan Jarih

Ulama yang ahli di bidang kritik para periwayat hadis disebut sebagai al-Jarih wa al-Mu’addil. Jumlah mereka relatif tidak banyak. Sebab syarat-syarat untuk menjadi seorang kritikus dan diakui sebagai kritikus hadis memang tidak ringan. [39] Ulama telah menetapkan syarat-syarat bagi seseorang sebagai Jarih dan Mu’addil.

A. Syarat-syarat Mu’addil

Selain itu, para ulama juga menetapkan syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi oleh seorang Jarih dan Mu’addil. Di antara syarat-syarat sebagai Mu’addil adalah sebagai berikut:

  • Mu’addil harus seorang yang adil, yaitu, muslim, baligh, berakal, dan selamat dari sebab-sebab kefasikan dan dari perangai yang buruk.
  • Mu’addil harus bersungguh-sungguh dalam mencari dan mempelajari keadaan para perawi.
  • Ia harus mengetahui sebab-sebab yang menjadikan seorang perawi adil atau jarh (cacat). Dan tidak menghukumi kecuali telah pasti kebenaran sebab-sebab tersebut.
  • Tidak ta’ashub terhadap orang yang dita’dilnya, sehingga ia akan manta’dil dan menjarh dikarenakan ashabiyah madzhab atau negara.

B. Tingkatan-tingkatan dalam Jarh wa ta’dil

Berdasarkan hasil penelitian ulama ahli kritik hadis, ternyata keadaan para periwayat hadis bermacam-macam. Sesuai dengan keadaan para periwayat itu, maka ulama ahli kritik hadis menyusun peringkat para periwayat di lihat dari kualitas pribadi dan kapasitas intelektual mereka. Keadaan para periwayat yang bermacam-macam itu dibedakan dalam ilmu jarh wa ta’dil. Urut-urutan lafaz itu dikenal dengan sebutan maratib al- alfaz al-jarh wa ta’dil (peringkat lafaz-lafaz ketercelaan dan keterpujian). [40]

Jumlah peringkat yang berlaku untuk jarh wa ta’dil tidak disepakati oleh ulama ahli hadis. Sebagian ulama ada yang membaginya menjadi empat peringkat untuk al-jarh dan empat peringkat untuk al-ta’dil, sebagian ulama ada yang membaginya menjadi lima peringkat untuk al-jarh dan untuk al-ta’dil. Dan sebagian ulama lagi ada yang membaginya masing-masing (yakni untuk jarh dan ta’dil) kepada enam peringkat.

C. Tingkatan-tingkatan sebagai Mu’addil

Dalam tingkatan –tingkatan Mu’addil, dikenal istilah-istilah sebagai berikut:

  1. Mutasahil dalam ta’dil (terlalu mudah memberi rekomendasi keadilan). Maka tingkat yang pertama ini tidak diterima bila ia memberikan rekomendasi siqah kepada seseorang, kecuali bila ia benar-benar mengetahui secara pasti. Diantara ulama’ yang mutasahil dalam ta’dil, yaitu Imam Muhammad bin Ishaq bin Al Huzaimah dan muridnya, Abu Hatim bin Ibnu Hibban juga Ibnu Hibban Al Hakim Ibnu Abdullah, terutama dalam kitab Al Mustadark-nya, Al-Daruquthni, namun beliau lebih baik dari Ibnu Hibban dan Al Baihaqi.
  2. Mutasyadid (terlalu ketat dalam memberikan rekomendasi adil kepada seorang perawi). Untuk yang kedua ini ta’dilnya dipegang erat-erat, apalagi terhadap perawi yang diperselisihkan. Diantara para ulama’ yang mutasyadid adalah Abu Hatim Ar Razi, Al-Jurjani dan An Nasa’i. Ibnu Ma’in juga dikatakan sebagai mutasyadid.
  3. Mu’tadil (sikap pertengahan). Untuk tingkatan yang ketiga, perkataan diterima, dan tidak ditolak kecuali bila menyelisihi jumhur. Ulama’ yang termasuk mu’tadil adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah Ar Razi, Ibnu Ma’in, Asy Syaikhani dan At Tirmidzi. [41]

D. Lafaz-lafaz dalam Ta’dil[42]

Ibnu Abi Hatim dalam bagian pendahuluan kitabnya Al Jarh wa At Ta’dil menetapkan lafaz-lafaz dalam jarh wa ta’dil menjadi empat tingkatan, sedangkan para ulama lainnya menambah dua point menjadi enam, di antaranya adalah:

  1. Lafaz menggunakan bentuk superlative (mubalaghah) dalam ketsiqahan atau mengikuti wazan af’al. , contoh: Fulanun Asbata An Nas (Fulan adalah manusia yang paling teguh), fulan ilaihi Al Muntaha fi At Tatsabut (fulan yang paling tinggi keteguhannya) dan lainnya.
  2. Lafaz yang menyebutkan salah satu sifat atau dua sifat yang menguatkan ketsiqahannya dan keadilan contoh: tsiqah tsiqah, atau tsiqah tsabit.
  3. Ungkapan yang menunjukkan ketsiqahan tanpa adanya penguat contoh: Tsiqah, tsabat, mutqin.
  4. Lafaz yang menunjukkan ta’dil tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan dan ketelitian, contoh: shaduquna (orang yang jujur), ma’mun (terpercaya) laa ba’sa bih (tidak masalah atau tidak ada cacat).
  5. Lafaz yang tidak menunjukan ketsiqahan atau pun celaan Contoh; Fulanun Syaikhun, rawiya ‘anhu An Nas (manusia meriwayatkan darinya).
  6. Lafaz yang mendekati adanya jarh contoh: fulan shalih hadis (lumayan) atau yuktabu hadisuhu (hadisnya dicatat).

Karena terjadi perbedaan peringkat, maka ada lafaz yang sama untuk peringkat al-jarh dan ta’dil, tetapi memiliki peringkat yang berbeda. Lafaz saduq, misalnya, ada ulama yang menempatkannya pada peringkat kedua dalam urutan al-ta’dil dan ada ulama yang menempatkannya pada urutan keempat. Adanya perbedaan dalam menempatkan peringkat lafaz, untuk jarh wa ta’dil itu memberi petunjuk bahwa memahami tingkat kualitas yang dimaksudkan oleh lafaz jarh wa ta’dil diperlukan penelitian misalnya dengan menghubungkan penggunaan lafaz itu kepada ulama yang memakainya.

Untuk memperoleh gambaran lebih jelas tentang macam-macam lafaz untuk jarh wa ta’dil beserta peringkatnya masing-masing, perlu dipelajari lebih mendalam kitab-kitab yang membahas al-jarh wa ta’dil.

  1. E. Hukum Tingkatan-tingkatan Ta’dil[43]
  2. Untuk tiga tingkatan pertama, dapat dijadikan hujjah, meskipun sebagian mereka lebih kuat dari sebagian yang lain.
  3. Adapun tingkatan keempat dan kelima, tidak bisa dijadikan hujjah. Tetapi hadis mereka boleh ditulis, dan diuji kedlabithan mereka dengan membandingkan hadis mereka dengan hadis-hadis para tsiqah yang dlabith. Jika sesuai dengan hadis mereka, maka bisa dijadikan hujjah. Dan jika tidak sesuai, maka ditolak.
  4. Sedangkan untuk tingkatan keenam, tidak bisa dijadikan hujjah. Tetapi hadis mereka ditulis untuk dijadikan sebagai pertimbangan saja, bukan untuk pengujian, karena mereka tidak dlabith.

F. Syarat-syarat Jarih

Selain beberapa ketentuan yang harus diperhatikan oleh Jarih dan Mu’addil secara umum, ulama juga menetapkan beberapa syarat khusus sebagai Jarih, yaitu:

  1. Jarih harus seorang yang adil, agar ia menahan dan berhati-hati dari menuduh seseorang dengan kebatilan.
  2. Dia harus mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari dan mengetahui keadaan perawi.
  3. Mengetahui sebab-sebab jarh.
  4. Tidak ta’ashub.

G. Tingkatan-tingkatan sebagai Jarih[44]

Dalam Kitab Taisir ‘Ulum Al Hadis li Al Mudtadi’in, Amru Abdul Mun’im Salim, menyebutkan tingkatan Jarih sebagaimana pada tingkatan Mu’addil di atas, yaitu:

  1. Mutasyadid dalam menjarh, seperti Abu Hatim Ar Razi dan Al Jauzajani.
  2. Musrifin (terlalu mudah) dalam menjarh, seperti Abu Al Fath Muhammad bin Al Husain Al Azdi.
  3. Mu’tadil dalam menjarh, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah Ar Razi, Ibnu Ma’in, Asy Syaikhani

H. Lafaz-lafaz dalam Tajrih[45]

  1. Lafaz yang menunjukan adanya kelemahan (yaitu jarh yang paling ringan), contohnya fulan layyinun Al Hadis, atau hadisuhu maqalun, (hadisnya diperbincangkan).
  2. Lafaz yang menunjukkan adanya kelemahan terhadap perawi tidak dapat dijadikan hujjah, contoh fulan laa yuhtaj bihi (fulan tidak bisa dijadikan hujjah), atau dha’if, lahu manakir (hadis nya munkar).
  3. Lafaz yang menunjukan lemah sekali tidak dapat ditulis hadis nya, contoh : fulan laa yuktab hadis uhu (fulan hadis nya tidak ditulis), laa tahillu riwayatahu (tidak boleh meriwayatkan darinya), fulan dha’if jiddan, wahn bi marattin (orang yang sering melakukan persangkaan).
  4. Lafaz yang menunjukkan adanya tuduhan berbuat dusta atau pemalsuan hadis. Contoh fulan muthamun bil kadzb (fulan dituduh berbuat dusta), fulan muthamun bi Al Wadh’i (fulan dituduh membuat hadis palsu), yasriqu Al Hadis (dia mencuri hadis), matruk, atau laisa bi tsiqah.
  5. Lafaz yang menunjukkan adanya perbuatan dusta atau yang semacamnya, contoh kadzdzab atau dajjal, wadha’ (pemalsu).
  6. Lafaz yang menunjukkan adanya mubalaghah (superlatif) dalam perbuatan dusta, contoh fulan paling pembohong, ilaihi al muntaha bi al kadzb (dia pangkalnya kedustaan) dan lainnya.

I. Hukum Tingkatan-tingkatan Al-Jarh

  1. Untuk dua tingkatan pertama tidak bisa dijadikan sebagai hujjah terhadap hadis mereka, akan tetapi boleh ditulis untuk diperhatikan saja. Dan tentunya orang untuk tingkatan kedua lebih rendah kedudukannya daripada tingkatan pertama.
  2. Sedangkan empat tingkatan terakhir tidak boleh dijadikan sebagai hujjah, tidak boleh ditulis, dan tidak dianggap sama sekali.

Penjelasan ulama tersebut dapat disimpulkan:

Syarat-syarat yang berkenaan dengan sifat pribadi, yakni bersifat adil, (sifat adil dalam hal ini adalah menurut ulama ahli hadis), yaitu tidak bersikap fanatik terhadap mazhab yang dianutnya, dan tidak bermusuhan dengan periwayat yang dinilainya, termasuk terhadap periwayat yang berbeda aliran dengannya.

Syarat-syarat yang berhubungan dengan penguasaan pengetahuan, dalam hal ini harus memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam, terutama yang berkenaan dengan ajaran Islam, bahasa Arab, hadis dan ilmu hadis, pribadi periwayat yang di kritiknya, adat istiadat (urf) yang berlaku, sebab-sebab yang melatarbelakangi sifat-sifat utama dan tercela yang dimiliki oleh periwayat.

Dalam mengemukakan kritikan, sikap ulama, ahli kritik hadis ada yang ketat (tasyaddud), ada yang longgar (tasahhul), ada pula yang berada antara kedua sifat itu yakni moderat (tawassut). Ulama yang dikenal mutasyaddid atau mutasahhil ada yang berkaitan dengan sikap dalam menilai kesahihan hadis dan ada yang berkaitan dengan sikap dalam menilai.

Adapun untuk menetapkan Jarh, ada dua unsur yang bisa dijadikan dasar, pertama, melalui kesaksian satu atau dua orang yang adil. Jadi jarh ditetapkan cukup dengan kesaksian satu orang yang adil, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak. Kedua, melalui kemasyhuran di kalangan ahli ilmu dengan jarh- (cacat) nya. Barang siapa yang terkenal di kalangan ahli ilmu jarh (cacat) nya, maka ia majruh (orang yang dijarh). Bahkan ini jarhnya lebih kuat dari pada jarh dari kesaksian satu atau orang yang adil.

* * *

Cara Mengetahui Keadilan Periwayat

Diantara langkah untuk mendeteksi kualitas periwayat (sanad) hadis adalah melakukan i’tibar. Adapun yang dimaksud dengan i’tibar secara bahasa adalah peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis. [46] Menurut istilah ilmu hadis, I’tibar berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja. Dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada bagian sanad dari sanad hadis yang dimaksud. [47]

Dengan melakukan i’tibar, maka akan terlihat dengan jelas seluruh jalur sanad hadis yang diteliti, demikian juga nama-nama periwayatnya, dan metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat yang bersangkutan. Jadi kegunaan i’tibar adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau adanya pendukung (corroboration) berupa periwayat yang berstatus sebagai mutabi’ atau syahid. Mutabi’ (biasa juga disebut tabi’) adalah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat. Sedangkan syahid ialah periwayat yang berstatus pendukung yang berkedudukan sebagai sahabat. Melalui I’tibar akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian sanad dari sanad hadis diteliti memiliki mutabi’ dan syahid ataukah tidak.

A. Meneliti Pribadi Periwayat dan Metode Periwayatannya.

Untuk meneliti hadis, diperlukan acuan. Acuan yang diperlukan adalah kaidah kesahihan hadis bila ternyata hadis yang diteliti bukanlah hadis mutawatir.

Benih-benih kaidah kesahihan hadis telah muncul pada masa Nabi dan sahabat. Imam Syafi’i (W. 204 H/820 M), Imam Bukhari, Imam Muslim, dan lain-lain telah memperjelas benih-benih kaidah itu dan menerapkannya pada hadis-hadis yang mereka teliti dan mereka riwayatkan. Kemudian ulama berikutnya menyempurnakan benih-benih kaidah itu ke dalam rumusan kaidah yang selanjutnya kaidah itu berlaku sampai sekarang.

Salah seorang ulama hadis yang berhasil menyusun rumusan kaidah kesahihan hadis tersebut adalah abu ’Amr ’Usman bin ’Abdir-Rahman bin al-Salah asy-Syahrazuri, yang biasa disebut sebagai Ibnus-Salah (W. 577 H/1245 M). Rumusan yang dikemukakannya sebagai berikut:

“Adapun hadis sahih ialah hadis yang bersambung sanad nya (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh (periwayat) yang adil dan dabit sampai akhir sanad, (di dalam hadis itu) tidak terdapat kejanggalan (syuzuz) dan cacat (‘illat) ”.

Dari definisi itu dapatlah dikemukakan bahwa unsur-unsur kaidah kesahihan hadis adalah sebagai berikut:

  1. Sanad hadis yang bersangkutan harus bersambung mulai dari mukharrij-nya sampai kepada Nabi;
  2. 2. Seluruh periwayat dalam hadis itu harus bersifat adil dan dabit;
  3. Hadis itu, jadi sanad dan matan-nya, harus terhindar dari kejanggalan (syuzuz) dan cacat (‘illat). [48]

Dari ketiga butir tersebut dapat diuraikan menjadi tujuh butir, yakni yang lima butir berhubungan dengan sanad dan yang dua butir berhubungan dengan matan. Berikut ini dikemukakan uraian butir-butir dimaksud.

  1. Yang berhubungan dengan sanad: (a) sanad bersambung; (b) periwayat bersifat adil; (c) periwayat bersifat dabit; (d) terhindar dari kejanggalan (syuzuz) ; dan (e) terhindar dari cacat (‘illat).
  2. Yang berhubungan dengan matan: (1) terhindar dari kejanggalan (syuzuz) ; dan (2) terhindar dari cacat (‘illat).

Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, yang dikenal dengan sebutan an-Nawawi (W. 676 H/1277 M), seorang ulama hadis terkenal yang sebagian karya-karya tulisnya sampai saat ini masih menjadi bahan kajian umat Islam, telah mengajukan rumusan kaidah kesahihan hadis dengan unsur-unsur sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Ibnus-Salah tersebut. An-Nawawi mengajukan rumusan setelah dia membanding-bandingkan dan menyimpulkan rumusan yang yang diajukan oleh berbagai ulama hadis, termasuk yang telah dikemukakan oleh imam an-Nawawi : Hadis sahih ialah hadis yang bersambung sanad-nya, (di riwayatkan oleh orang-orang yang) adil dan dabit, serta tidak terdapat (dalam hadis itu) kejanggalan (syuzuz) dan cacat (‘illat).

Dari rumusan definisi hadis sahih yang dikemukakan oleh an-Nawawi itu tampak jelas bahwa unsur-unsur kaidah kesahihan hadis ada tujuh macam, lima macam berhubungan dengan sanad dan dua macam berhubungan dengan matan. Jumhur ulama hadis pada zaman berikutnya, bahkan sampai saat ini menyebutkan unsur-unsur kaidah kesahihan hadis sama dengan yang telah disebutkan di atas.

Dengan mengacu pada unsur-unsur kaidah kesahihan hadis tersebut, maka ulama menilai bahwa hadis yang memenuhi semua unsur itu dinyatakan sebagai hadis sahih, yakni sahih sanad dan matan. Apabila sebagian unsur tidak terpenuhi, maka hadis yang bersangkutan bukanlah hadis sahih, yakni mungkin sanadnya tidak sahih, mungkin matannya, dan mungkin kedua-duanya.

Dalam hubungannya dengan penelitian sanad, maka unsur-unsur kaidah kesahihan yang berlaku untuk sanad dijadikan sebagai acuan. Unsur-unsur itu ada yang berhubungan dengan atau persambungan sanad dan ada yang berhubungan dengan keadaan pribadi para periwayat.

B. Segi-segi Pribadi Periwayat.

Ulama hadis sepakat bahwa ada dua hal yang harus diteliti pada diri pribadi periwayat hadis untuk dapat diketahui apakah riwayat hadis yang dikemukakannya dapat diterima sebagai hujjah ataukah harus ditolak. Kedua hal tersebut adalah keadilan dan kedhabitan. Keadilan berhubungan dengan kualitas pribadi, sedang kedhabitan berhubungan dengan kapasitas intelektual. Apabila kedua hal itu dimiliki oleh periwayat hadis, maka periwayat tersebut dinyatakan bersifat siqah. Siqah adalah gabungan dari sifat adil dan dhabit. [49] Untuk sifat adil dan dhabit, masing-masing memiliki kriteria tersendiri.

C. Kualitas Pribadi Periwayat.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa kualitas pribadi periwayat haruslah adil. Kata adil dalam hal ini tidak sepenuhnya sama artinya dengan kata adil menurut bahasa Indonesia. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dinyatakan bahwa kata adil berarti tidak berat sebelah (tidak memihak), tidak sewenang-wenang. [50]

Kata adil berasal dari bahasa Arab: ‘adl. Arti ‘adl menurut bahasa ialah lurus, atau condong kepada kebenaran. [51]

Dalam memberikan pengertian istilah adil yang berlaku dalam ilmu hadis, terdapat beberapa pendapat yang mengarah pada empat butir. Kriteria tersebut adalah beragama Islam, mukallaf, melaksanakan ketentuan agama, dan memelihara muru’ah. [52]

Beragama Islam menjadi salah satu kriterium keadilan periwayat apabila periwayat yang bersangkutan melakukan kegiatan menyampaikan riwayat hadis. Untuk kegiatan menerima hadis, kriterium tersebut tidak berlaku. Jadi, periwayat tatkala menerima riwayat boleh saja tidak dalam keadaan memeluk agama Islam, asalkan saja tatkala menyampaikan riwayat, dia telah beragama Islam.

Mukallaf adalah balig dan berakal sehat, merupakan salah satu kriterium yang harus dipenuhi oleh seorang periwayat tatkala dia menyampaikan hadis. Untuk kegiatan penerimaan riwayat, periwayat terseut dapat saja masih belum mukallaf, asalkan saja dia telah mumayyiz (dapat memahami maksud pembicaraan dan dapat membedakan antara hal yang baik dan tidak). Jadi, seorang anak yang menerima riwayat, kemudian setelah mukallaf, riwayat itu disampaikan kepada orang lain, maka penyampaian riwayat tersebut telah memenuhi salah satu kriterium kesahihan sanad hadis. [53]

Tentang kriterium ”melaksanakan ketentuan agama”, yang dimaksudkan adalah teguh dalam agama, tidak berbuat dosa besar, tidak berbuat bid’ah, tidak berbuat maksiat dan harus berakhlak mulia. [54] Uraian tentang ”melaksanakan ketentuan agama”, tersebut memang ada yang overlap, hal itu sebagai akibat dari penggabungan pendapat berbagai ulama tentang apa yang dimaksud dengan periwayat yang bersifat adil. [55]

Adapun memelihara muru’ah, jumhur ulama sepakat untuk menjadikannya sebagai salah satu kriteria sifat adil. Arti muru’ah ialah kesopanan pribadi yang membawa diri manusia pada tegaknya kebajikan moral dan kebiasaan-kebiasaan. Hal itu dapat diketahui melalui adat istiadat yang berlaku di masing-masing tempat. Contoh-contoh yang dikemukakan ulama tentang perilaku yang merusak atau mengurangi muru’ah antara lain ialah : makan di jalanan, buang air kecil di jalanan, makan di pasar yang dilihat oleh orang banyak, memarahi isteri atau anggota keluarga dengan kata-kata kotor, dan bergaul dengan orang berperilaku buruk. [56] Bila periwayat tidak memelihara muru’ah, maka dia tidak tergolong sebagai periwayat yang adil dan karenanya, riwayatnya tidak dapat diterima sebagai hujjah.

Berdasarkan kriteria sifat adil yang telah dikemukakan di atas, maka hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang yang suka berdusta, suka berbuat munkar atau sejenisnya, tidak bisa diterima sebagai hujjah. Bila riwayatnya dinyatakan juga sebagai hadis, maka hadisnya dianggap lemah (dha’if), yang oleh sebagian ulama dinyatakan sebagai hadis palsu (maudhu’). [57]

D. Kapasitas Intelektual Periwayat.

Intelektual periwayat harus memenuhi kapasitas tertentu sehingga riwayat hadis yang disampaikannya dapat memenuhi salah satu unsur hadis yang berkualitas sahih. Periwayat yang kapasitas intelektualnya memenuhi syarat kesahihan sanad hadis disebut sebagai periwayat yang dhabit.

Secara harfiah, dhabit mempunyai beberapa arti, diantaranya: yang kokoh, yang kuat, yang ketat, yang hafal dengan sempurna.

Pengertian tersebut diserap dalam pengertian istilah dengan dihubungkan dengan kapasitas intelektual. Ulama hadis memang berbeda pendapat dalam memberi pengertian istilah kata dhabit, namun perbedaan itu dengan memberi rumusan sebagai berikut:

Periwayat yang bersifat dhabit adalah periwayat yang hafal dengan sempurna hadis yang diterimanya, dan mampu menyampaikan dengan baik hadis yang dihafalnya itu kepada orang lain.

Periwayat yang bersifat dhabit adalah sifat selain yang telah disebutkan di atas, juga dia mampu memahami dengan baik hadis yang dihafalnya itu. [58]

Rumusan tentang dhabit yang disebutkan pada butir kedua lebih sempurna dari pada rumusan yang pertama. Rumusan yang pertama merupakan kriteria sifat dhabit dalam arti yang lebih luas, sedang rumusan yang kedua merupakan sifat dhabit khusus bagi periwayat dhabit. Selain kedua hal di atas, dikenal juga istilah khafif al-dhabt, istilah yang disebutkan terakhir itu bersifatkan kepada periwayat yang kualitas hadisnya digolongkan kepada hasan. [59]

Ketiga macam dhabit di atas oleh ulama hadis digolongkan pada dhabit sadr (arti harfiahnya: dabt pada dada). Selain dabt sadr, dikenal juga istilah dabt kitab, yakni sifat yang dimiliki oleh periwayat yang memahami dengan sangat baik tulisan hadis yang termuat dalam kitab yang ada padanya dan tulisan dalam kitab itu mengandung kesalahan. [60]

Kalau pada sifat adil ada perilaku atau keadaan yang bisa merusak berat, maka pada sifat dhabit ada juga perilaku atau keadaan yang dapat merusak berat. Menurut Ibnu Hajar al-’Asqalani, perilaku atau keadaan yang dapat merusak berat kedabitan periwayat ada 5 macam, yakni:

  1. Dalam meriwayatkan hadis, lebih banyak salahnya daripada benarnya (fahusya galatuhu).
  2. Lebih menonjol sifat lupanya daripada hafalnya (ghafla ’anil itqan).
  3. Riwayat yang disampaikan diduga keras mengandung kekeliruan (wahm).
  4. Riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang disampaikan oleh orang-orang yang siqah (mukhalafah ’anis siqah).
  5. Jelek hafalannya, walaupun ada sebagian riwayatnya itu yang benar, (su’ul hifz). Butir-butir yang disebutkan terdahulu lebih berat daripada yang disebutkan kemudian. Hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang memiliki sebagian dari sifat-sifat tersebut dinilai oleh ulama hadis sebagai hadis yang berkualitas lemah (dha’if).

E. Bagaimana Mengetahui Kesiqahan Periwayat?

Untuk mengetahui kedhabitan periwayat, dapat diketahui melalui kesesuaian riwayatnya dengan rawi tsiqah yang cermat. Jika riwayatnya itu lebih banyak yang sesuai dengan rawi-rawi tsiqah, maka ia dlabith. Dan hal itu tidak rusak meskipun ada sedikit riwayatnya yang menyelisihi mereka. Namun jika banyak dari riwayatnya itu menyelisihi riwayat rawi-rawi tsiqah, maka ke-dlabith-annya bisa dibilang hilang, dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Sedangkan untuk menetapkan keadilan periwayat, dapat dilihat dengan hal-hal berikut:

  1. Persaksian seorang ulama bahwa ia seorang yang adil. Maka barangsiapa disaksikan keadilannya maka ia seorang yang adil. Para ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah penta’dil dikatakan cukup. Sebagian ulama’ berpendapat penetapan keadilan seseorang perawi harus dua atau lebih. Ini merupakan qiyas dari persaksian hak seseorang. Namun menurut jumhur ulama’ penatapan keadilan seseorang perawi cukup dengan satu kesaksian seorang yang adil.
  2. Dengan ketenaran dan kepopuleran keadilannya dikalangan ahli ilmu. Barangsiapa yang masyhur keadilannya, banyak pujian atas ketsiqahan dan amanahnya dikalangan ahli ilmu, maka sudah tidak membutuhkan penetapan adil secara sharih. Dalam kitab Tadrib Al Rawi Imam An Nawawi menyebutkan contoh, yaitu Malik bin Anas, dua orang yang bernama As Sufyan (As Sufyan Ats Tsauri dan As Sufyan bin Uyainah), Al ‘Auza’I, Asy Syafi’i dan Ahmad (bin Hanbal). [61]

* * *

Kontroversi dalam Jarh Wa Ta’dil

Kritik terhadap para periwayat hadis yang telah dikemukakan oleh ulama ahli kritik hadis itu tidak hanya berkenaan dengan hal-hal yang terpuji saja, tetapi juga berkenaan dengan hal-hal yang tercela. Hal-hal yang tercela dikemukakan bukanlah untuk menjelek-jelekkan mereka melainkan untuk dijadikan pertimbangan dalam hubungannya dengan dapat diterima atau tidak dapat diterima riwayat hadis yang mereka sampaikan. Ulama ahli kritik hadis tetap menyadari bahwa mengemukakan kejelekan seseorang dilarang oleh agama. Tetapi untuk kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan penelitian hadis dalam hubungannya sebagai salah satu sumber ajaran Islam, maka kejelekan atau kekurangan pribadi periwayat dalam kaitannya periwayatan hadis sangat perlu dikemukakan. Kejelekan atau kekurangan yang dikemukakan hanyalah terbatas yang ada hubungannya dengan kepentingan penelitian periwayatan hadis.

Metode yang dipakai ulama dalam melakukan jarh dan ta’dil sangat beragam. Adakalanya para ulama sependapat dalam menilai pribadi periwayat hadis tertentu dan adakalanya berbeda pendapat. Selain itu, adakalanya seorang kritikus juga mempunyai penilaian yang berbeda terhadap diri seseorang, misalnya pada suatu saat dia menilai dengan ungkapan laisa bihi ba’s, tapi di lain kesempatan dia menilai da’if terhadap periwayat yang sama. Padahal kedua ungkapan itu memiliki pengertian dan peringkat yang berbeda. Sehingga dengan adanya metode yang telah ditetapkan para ulama, diharapkan dapat dihasilkan penilaian yang lebih obyektif.

Berikut ini beberapa kaidah atau sebagai metode penyelesaian yang ditetapkan para ulama, jika terjadi perbedaan penilaian atas diri seorang periwayat. Kaidah-kaidah ini juga perlu dijadikan bahan oleh peneliti hadis ketika melakukan kegiatan penelitian, khususnya berkenaan dengan penelitian para periwayat hadis:[62]

1. Al-Ta’dil Muqaddamun ‘ala al-Jarhi (Ta’dil didahulukan atas jarh)

Maksudnya bila seorang periwayat dinilai terpuji oleh seorang kritikus dan dinilai tercela oleh kritikus lainnya, maka yang didahulukan adalah sifat baiknya. Karena sifat dasar periwayat hadis adalah terpuji, sedangkan sifat tercela merupakan sifat yang datang kemudian. Maka sifat yang dominan adalah sifat terpuji.

2. Al-Jarhu Muqaddamun ‘ala al-Ta’dil (Al-jarh didahulukan atas ta’dil)

Maksudnya bila seorang dinilai tercela oleh seorang kritikus dan dinilai terpuji oleh kritikus lainnya, maka yang didahulukan adalah sifat yang dinilai celaan. Alasannya karena kritikus yang menyatakan celaan lebih paham pribadi periwayat yang dicelanya. Kemudian yang menjadi dasar untuk memuji seorang periwayat adalah persangkaan baik dari pribadi kritikus hadis dan persangkaan baik itu harus dikalahkan bila ternyata ada bukti tentang ketercelaan yang dimiliki oleh periwayat bersangkutan. Kalangan ulama hadis, ulama fiqih, dan ulama usul fiqh banyak yang menganut teori tersebut. Dalam pada itu, banyak juga ulama kritikus hadis yang menuntut pembuktian atau penjelasan yang menjadi latar belakang atas ketercelaan yang dikemukakan terhadap periwayat tersebut.

3. Iza Ta’aradha al-Jarihu wa al-Mu’addilu fa al-hukmu li al-Mu’addil illa iza subita al-jarhu al-mufassar

Maksudnya, Apabila terjadi pertentangan antara kritikan yang memuji dan yang mencela, maka yang harus dimenangkan adalah kritikan yang memuji, kecuali apabila kritikan yang mencela disertai penjelasan tentang sebab-sebabnya.

Dalam hal ini apabila seorang periwayat dipuji oleh seorang kritikus tertentu dan dicela oleh kritikus lainnya, maka pada dasarnya yang harus dimenangkan adalah kritikan yang memuji, kecuali bila kritikan yang mencela menyertai penjelasan tentang bukti-bukti ketercelaan periwayat yang bersangkutan.

Kritikus yang mampu menjelaskan sebab-sebab ketercelaan periwayat yang dinilainya lebih mengetahui terhadap pribadi periwayat tersebut daripada kritikus yang hanya mengemukakan pujian terhadap periwayat yang sama. Jumhur ulama mengatakan bahwa penjelasan ketercelaan yang dikemukakan itu haruslah relevan dengan upaya penelitian. Kemudian bila kritikus yang memuji telah mengetahui sebab-sebab ketercelaan periwayat yang dinilainya itu dan dia memandang bahwa sebab-sebab ketercelaan itu memang tidak relevan ataupun tidak ada lagi, maka kritikan yang memuji tersebut yang harus dipilih.

Iza Kana al-Jarihu dha’ifan fala yuqbalu jarhuhu li al-siqqah (Apabila kritikus yang mengungkapkan ketercelaan adalah orang-orang yang tergolong da’if, maka kritikannya terhadap orang yang siqah tidak diterima).

Maksudnya apabila yang mengkritik adalah orang yang tidak siqah, sedangkan yang dikritik adalah orang yang siqas, maka kritikan orang yang tidak siqah itu ditolak. alasannya orang yang bersifat siqah dikenal lebih berhati-hati dan lebih cermat daripada orang yang tidak siqah.

La yuqbalu al-jarhu illa ba’da al-tasabbuti khasyah al-asybah fi al-majruhina (Al-jarh tidak diterima kecuali setelah ditetapkan (diteliti secara cermat) dengan adanya kekhawatiran terjadinya kesamaan tentang orang-orang yang dicelanya).

Maksudnya apabila nama periwayat mempunyai kesamaan atau kemiripan dengan nama periwayat lain, lalu salah satu dari periwayat itu dikritik dengan celaan, maka kritikan itu tidak dapat diterima, kecuali telah dapat dipastikan bahwa kritikan itu terhindar dari kekeliruan akibat dari kesamaan atau kemiripan dari nama tersebut.

Suatu kritikan harus jelas sasarannya. Dalam mengkritik pribadi seseorang, maka orang yang dikritik haruslah jelas dan terhindar dari keraguan-keraguan atau kekacauan.

Al-jarhu al-Nasyi’u ‘an ‘adawatin dunyawiyyatin la yu’taddu bihi (Al-jarh yang dikemukakan oleh orang yang mengalami permusuhan dalam masalah keduniawian tidak perlu diperhatikan).

Maksudnya apabila kritikus yang mencela periwayat tertentu memiliki perasaan yang bermusuhan dalam masalah keduniawian dengan pribadi periwayat yang dikritik dengan celaan itu, maka kritikan itu harus ditolak. Alasannya adalah pertentangan masalah pribadi tentang urusan dunia dapat menyebabkan lahirnya penilaian yang tidak obyektif. Kritikus yang bermusuhan dalam masalah dunia dengan periwayat yang dikritik dengan celaan dapat berlaku subyektif karena didorong oleh rasa kebencian.

Dari sejumlah teori yang disertai dengan alasannya masing-masing itu, maka yang harus dipilih adalah teori yang mampu menghasilkan penilaian yang lebih objective terhadap para periwayat hadis yang dinilai keadaan pribadinya. Dinyatakan demikian karena tujuan penelitian yang sesungguhnya bukanlah untuk mengikuti teori tertentu, melainkan bahwa penggunaan teori-teori itu adalah dalam upaya memperoleh hasil penelitian yang lebih mendekati kebenaran, bila kebenaran itu sendiri sulit dihasilkan.

* * *

Kitab-Kitab Tentang Jarh Wa Ta’dil

Sebelum seseorang melakukan penelitian hadis, terlebih dahulu dia harus mengetahui dan memahami dengan baik berbagai istilah, kaidah, dan pembagian cabang ilmu hadis. Kita-kitab yang diperlukan untuk kepentingan itu cukup banyak. Sebagaimana diketahui bahwa arah kegiatan penelitian sanad hadis tertuju pada pribadi para periwayat hadis dan metode periwayatan hadis yang mereka gunakan. Dengan demikian, kitab-kitab tentang rijal- al-hadis, yakni kitab-kitab yang membahas biografi, kualitas pribadi, dll. , berkenaan dengan para periwayat hadis, sangat diperlukan. Jumlah kitab rijal al-hadis cukup banyak dan sebagian di antaranya saling melengkapi informasi yang diperlukan untuk kegiatan penelitian.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mahmud Tahhan, dan secara umum dikemukakan oleh sejumlah ulama hadis, misalnya Muhammad bin Ja;far al-Kattani, Muhammad ’Abdur-Rahman bin ’Abdir- Rahim al-Mabar Kafuri, dan Kamal Yusuf al-Hut,[63]bahwa srbagian kitab rijal ada yang membahas menurut generasi mereka, dan lain-lain. Berikut ini dikemukakan kitab-kitab rijal tersebut dengan beserta metode penyusunannya.

Kitab-kitab dan Metode Penyusunannya

  1. Kitab-kitab yang membahas biografi singkat para sahabat Nabi:
  • Isti’ab fi ma’rifat al-Ashab Susunan Ibnu ‘Abdil Barr (W. 463 H/1071 M).
  • Usud al-Ghabah fi Ma’rifat al-Sahabah, susunan ‘Izz al-Din Ibnu al-Asir (W. 630 H/1232 M).
  • Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, susunan Ibnu Hajar al-Asqalani (W. 652 H/1449 M).

Kitab-kitab yang membahas biografi singkat para periwayat hadis yang disusun berdasarkan tingkatan para periwayat (tabaqah al-ruwwah), yaitu:

  • al-Tabaqah al-Kubra, karya Ibnu Saad (W. 230 H)
  • Tazkirah al-Huffaz karya Muhammad Ibn Ahmad al-Zahabi (W. 748 H/1348 M).

Kitab-kitab yang membahas tentang para periwayat hadis secara umum.

  • Al-Tarikh al-Kabir, karya al-Bukhari (W. 256 H/870 M).
  • Al-jarh wa al-ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim al-Razi (W. 328 H).

Kitab-kitab yang membahas para periwayat hadis untuk kitab-kitab tertentu.

  • Al-Hidayah wa al-Irsyad fi Ma’rifati Ahli Siqqah wa al-Sadad, karya Ahmad bin Muhammad al-Kalabazi (W. 318 H). kitab ini membahas khusus para periwayat hadis pada kitab Sahih Bukhari.
  • Rijal Sahih Muslim, karya Ahmad ‘Ali al-Asfahani (W. 428 H). kitab ini membahas khusus para periwayat dalam Sahih Muslim.
  • Al-Jam’u Baina al-Sahihain, karya Ibnu al-Qaisarani bin Tahir al-Maqdisi (W. 507 H). Kitab ini membahas para periwayat dalam sahih Bukhari dan sahih Muslim.
  • Al-Ta’rif bi Rijal al-Muwatta’, karya Muhammad bin Yahya al-Tamimi (W. 416 H). Kitab ini membahas khusus periwayat dalam al-Muwatta’ Imam Malik.
  • Al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, karya Abdul Gani al-Maqdisi (W. 600 H). Kitab ini membahas para periwayat hadis dalam kutub al-sittah, yaitu Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah. Kitab ini merupakan perintis kitab rijal yang membahas para periwayat dalam Kutub al-Sittah.

Kitab-kitab yang memuat penyempurnaan ataupun ringkasan rijal yang membahas para periwayat dalam Kutub al-Sittah.

  • Tahzib al-Kamal, susunan Abu al-Hajjaj Yusuf bin Zakki al-Mizzi, (W. 742 H).
  • Akmal Tahzib al-Kamal, karya ‘Ala’ al-Din Muglataya (W. 762 H),
  • Tazhib al-Tazhib, karya Muhammad bin Ahmad al-Zahabi (W. 746 H/1348 M).
  • Al-Kasyif fi Ma’rifati man lahu Ruwatun fi al-Kutub al-Sittah karya Muhammad bin Ahmad al-Zahabi.
  • Tahzib al-Tahzib karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani (W. 852 H/1449M).
  • Taqrib al-Tahzib susunan Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
  • Khulasah Tazhib Tahzib al-Kamal karya Safi al-Din Ahmad ‘Abdillah alKhazraji (W. 924 H).

Kitab-kitab yang membahas kualitas para periwayat hadis, yaitu, kitab-kitab yang khusus membahas para periwayat yang dinilai berkualitas siqah oleh penyusunnya.

  • Al-Siqat karya Abu al-Hasan Ahmad bi ‘ Abdillah al-‘Ijli (W. 261 H).
  • Al-Siqat karya Abi Hatim Muhammad bin Ahmad bin Hibban al-Busti (W. 354 H/).
  • Tarikh Asma’ al-Siqat min man Naqala ‘anhum al-‘ilma karya Umar bin Ahmad bin Syahin (W. 383 H).

Sedangkan kitab-kitab yang khusus membahas periwayat yang dinilai lemah (dha’if) oleh penyusunnya.

  • Al-Dhu’afa’ al-Kabir dan al-Dhu’afa’ al-Saghir susunan al-Bukhari.
  • Al-Dhu’afa’ wa al-Matrukun karya al-Nasa’i
  • al-Dhu’afa’ karya Ja’far Muhammad bin ‘Amr al-‘Uqaili (W. 323H).
  • Ma’rifatu al-Majruhina min al-Muhaddisin susunan Abu Hatim al-Busti.
  • Al-Kamil fi Dhu’afa’ al-Rijal karya Abu Ahmad ‘Abdullah bin ‘Adi al-jurjani
  • Mizaz al-I’tidal fi Naqdi al-Rijal, karya Muhammad bin Ahmad al-Zahabi
  • Lisan al-Mizan karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Kitab-kitab yang membahas para periwayat hadis berdasarkan negara asal mereka, misalnya, Tarikh Wasit

* * *


Keadilan Sahabat

Dalam kajian mengenai sahabat, ada sebuah ungkapan menarik yang menjadi doktrin kelompok Sunni, yaitu al-sahabatu kulluhum ‘udul. Menurut kelompok Sunni, semua sahabat dinilai adil. Artinya adanya jaminan tentang keadilan seluruh sahabat, sehingga tidak memerlukan penelitian ulang baik kualitas maupun kredibilitasnya sebagai rawi. Sahabat adalah kunci penting dalam membuka khasanah keilmuan Islam, terutama berkaitan dengan hadis. Sahabat adalah file pertama untuk sampai kepada Rasulullah Saw. Mereka adalah generasi pertama yang langsung berinteraksi dengannya.

Konsep tentang seluruh sahabat adil muncul pada akhir abad ketiga Hijrah. Istilah ini bermula dari sejarah panjang umat Islam yang mengalami suatu kondisi di mana para sahabat turut berperan dalam penyebaran dan pelestarian ajaran Islam. [64] Peranan sahabat serta keimanannya telah dibuktikan dengan sungguh-sungguh setia kepada Nabi dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam.

A. Pengertian ‘adalah al-Sahabah

Secara harfiah, ‘adalah dapat diartkan “lurus, konsist, sedang atau tengah-tengah” mengidentikkan pemiliknya terbebas dari kemungkinan menyimpang, berlebiha-lebihan dan keterlaluan. [65] Sedangkan menurut istilah, menurut Ibnu Hajar: “Yang dimaksud dengan adil ialah orang yang mempunyai sifat ketaqwaan dan muru’ah”. [66] Sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang memungkinkan ia dengan maksimal dapat melakukan rutinitas ritual dan sikap wira’i secara utuh dan kontinyu sehingga layak dipercaya dan dibenarkan periwayatannya. “[67]

Dengan demikian, ‘adalah berarti suatu kualitas kepribadian seseorang yang teguh dalam ketaqwaan dan memelihara kehormatan diri. Secara lahiriyah, seorang dikatakan adil jika bisa menahan diri dari dosa besar dan kecil, serta menjaga sikap yang bisa merusak harga diri seperti makan sambil berjalan, kencing di sembarang tempat dan lain-lain.

Untuk menghidari sikap yang berlebihan dalam memahami kata ‘adalah, maka Ibnu Hibban dalam kitabnya, al-Majruh min al-Muhaddisin berkata; seseorang dikatakan adil apabila yang nampak dalam dirinya lebih banyak pertanda keadilan, bukan orang yang banyak pertanda cela. Jadi berkaitan dengan fitrah manusia yang tidak ma’shum, penialain tentang keadilan seseorang tidak diukur pada kebersihan dari dosa, melainkan dengan lebih beratnya timbangan keadilannya di bandingkan dengan cacatnya. [68]

Sedangkan kata sahabat terbentuk dari Sahaba, Yashahibu, Suhbatan, Sahabatan, Sahibun, yang berarti menemani atau menyertai. Kata ini juga termasuk dalam frasa istahaba al-qaum, yang artinya, mereka saling bersahabat satu sama lain. [69] Sedangkan pengertian sahabat menurut istilah, terdapat beberapa pendapat:

  • Sa’id Bin Musayyab : Sahabat, adalah mereka yang berjuang bersama Rasulullah selama setahun atau dua tahun dan berperang bersama Rasul sekali atau dua kali.
  • Al-Waqidi : Kami melihat, para ulama mengatakan, mereka (sahabat Rasulullah) adalah siapa saja yang melihat Rasul, mengenal dan beriman kepada beliau, menerima dan ridha terhadap urusan-urusan agama walaupun sebentar.
  • Ahmad bin Hanbal : Siapa saja yang bersama dengan Rasul selama sebulan, atau sehari, atau satu jam atau hanya melihat beliau saja, maka mereka adalah sahabat Rasulullah saw.
  • Bukhari : barang siapa yang bersama Rasulullah atau melihat beliau dan dia dalam keadaan Islam, maka dia adalah Sahabat Rasulullah.

Dari berbagai pengertian di atas, mayoritas ulama ahli hadis sepakat memberikan pengertian, bahwa sahabat adalah orang yang bertemu Nabi dan beriman serta mati dalam keadaan iman, dalam pengertian ini, termasuk mereka yang bertemu dengan Nabi dalam waktu yang lama maupun sebentar, baik yang meriwayatkan hadis atau tidak, baik yang ikut berperang atau tidak, dan bahkan termasuk mereka yang hanya melihat saja dan juga orang yang tidak bisa melihatnya karena sesuatu hal, seperti buta. [70]

Jika dicermati lebih dalam tentang definisi di atas, tampaknya jumhur ulama lebih menyandarkan pada pengertian secara terminologis. Sementara pengertian yang lebih luas berarti mencakup beberapa ketentuan, misalnya harus dalam keadaan beriman dan ikut berjuang dalam dakwah Islam serta mempertahankan akidah. Perjuangan yang dimaksud tidak hanya sebatas pada fisik saja, melainkan perjuangan jiwa dan raga.

B. Al-Quran dan Hadis tentang Keadilan Sahabat

Al-Khatib mengatakan bahwa keadilan sahabat telah ditetapkan oleh Allah melalui penjelasan tentang kesuciannya, dan mereka adalah orang-orang pilihan Allah. Di antara dalil yang menyatakan keadilan mereka ialah ayat,

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik,” (QS al-Baqarah: 11)

“Demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang), melainkan agar Kami mengetahui (dengan nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (memindah kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (QS al-Baqarah: 143).

Juga ayat,

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang berada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan atas mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya),” (QS al-Fath: 18).

Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa para sahabat adalah orang-orang yang telah mendapat pujian dan sanjungan dari Allah dan Rasul-Nya, mereka mempunyai jasa yang besar bagi Islam dan kaum Muslimin. Islam yang diterima oleh kaum Muslimin sampai hari Kiamat adalah berkaitan dengan pengorbanan para sahabat yang ikut serta dalam perang Badar dan perang-perang lainnya demi tegaknya agama Islam. Karena itu Rasulullah mengingatkan umat Islam tentang apa yang mereka infaq-kan dan belanjakan fii-sabilillah belumlah dapat menyamai derajat para Sahabat, meskipun umat Islam ini berinfaq sebesar gunung Uhud berupa emas atau barang-barang berharga lainnya.

Ali bin Abi Thalib berkata tentang sahabat : “Tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari bergelimang pasir dan debu (di medan perang), sedang di malam hari mereka banyak berdiri, ruku’ dan sujud (beribadah kepada Allah) silih berganti, tampak kegesitan dari wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak di bara api bila mereka ingat akan hari pembalasan (Akhirat), tampak bekas sujud di dahi mereka, bila mereka Dzikrullah berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong laksana condongnya pohon dihembus angin yang lembut karena takut akan siksa Allah, serta mereka mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah”.

C. Pro dan Kontra mengenai ‘adalah al-Sahabah

Sahabat adalah orang-orang yang memiliki keutamaan yang besar. Diantara mereka ada yang berjuang bersama Nabi SAW dalam menegakkan Islam dan ada yang rela mengorbankan harta atau jiwanya demi kemajuan Islam. Begitu besarnya jasa mereka sehingga kelompok Sunni telah menjamin keadilan mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam muqaddimah al_Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, menyatakan “barang siapa yang menjelek-jelekkan sahabat, maka ketahuilah sesungguhnya orang itu adalah zindiq. [71]

Fenomena di atas mengundang perbedaan faham dari kelompok lain. Syi’ah dan Mu’tazilah mengemukakan keberatan atas doktrin yang dilontarkan oleh Sunni. Bahwa para sahabat juga perlu dikaji keadilannya. Menurut Syi’ah, semua sahabat itu adil kecuali mereka yang terlibat pembunuhan Ali. Sementara itu, Umar bin Ubaid dari kelompok Mu’tazilah berpendapat bahwa semua sahabat itu adil sebelum terjadinya fitnah, sedangkan setelah terjadinya fitnah, maka keadilan sahabat wajib diteliti kembali. [72]

Bahkan ada yang menilai bahwa sahabat yang terlibat peristiwa fitnah itu tidak ada yang adil. Hal itu dikarenakan salah satu dari pihak yang bertentangan itu pasti fasiq, meskipun tidak diketahui secara pasti.

D. Mendamaikan Perbedaan

Kontroversi seputar keadilan sahabat dapat dipertemukan dan didamaikan melalui deskripsi kritik historis. Di mana keterkaitan antara sanad dan matan serta sebab-sebab wurud al-hadis tidak bisa diabaikan satu sama lain. Terkadang ada hadis yang posisi sanadnya sempurna, tapi matannya tidak, Terkadang juga sebaliknya. Ada yang dua-duanya bagus tapi, memiliki banyak versi terkadang malah saling menegasikan, atau dari peristiwa yang diceritakan dengan riwayatnya bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh sejarah.

Sebagai contoh; Abu Hurairah berkata “Nabi Muhammad Saw bersabda pada pamannya Abu Thalib, ‘katakanlah bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku akan bersaksi untukmu di hari akhir, tapi paman Beliau menolak’…di tempat lain Abu Huraira berkata, “Nabi Saw. bersabda kepada pamannya menjelang wafat, ‘katakanlah bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan aku akan bersaksi padamu di hari akhir.” Tapi paman beliau menolak.

Abu Thalib meninggal dunia pada tahun ke-10 kenabian Saw. yaitu tiga tahun sebelum Hijrah. Jadi, ia meninggal sepuluh tahun sebelum Abu Hurairah datang ke Hijaz. Dalam kasus ini para sahabat sendiri telah terjadi saling kritik. Abu Hurairah yang lahir sekian tahun setelah wafatnya paman Nabi Abu Talib, Bagaimana mungkin Abu Hurairah bertemu dengan Nabi dan menyaksikan wafatnya paman beliau.

Dalam upaya mendamaikan pertentangan di atas, tampaknya perlu melihat sahabat dalam kacamata yang lebih netral. Sebagaimana Rasulullah sendiri mengakui bahwa masa sahabat adalah khaerul qurun dan dididik langsung oleh Rasulullah Saw Sehingga akhlak mereka adalah akhlak Rasul. Mereka mengetahui dasar-dasar agama sebab di masa mereka al-Qur’an diturunkan. Mereka adalah generasi wahyu sehingga mereka betul-betul memahami al-Islam, dan berdasarkan itu semua, maka seluruh sahabat adalah adil. Di samping itu, Nabi sendiri telah mengecam keras siapa saja yang sengaja berbohong dengan mengatasnamakan Nabi, maka hendaklah bersiap-siap untuk menempati tempatnya di neraka. [73] Al-Siba’i menggambarkan beberapa argumen bahwa sahabat tidak mungkin melakukan kebohongan dalam hadis. Kalaupun ada, pasti akan dibantah beramai-ramai oleh sahabat yang lain.

Dengan demikian, adanya kontroversi dalam masalah ini harus disikapi secara netral dan mengedepankan saling menghargai, bukan saling menghujat atau bahkan memvonis sesat. Sehingga dari beragam adu argumen di atas, baik yang pro maupun yang kontra, semestinya diambil jalan tengah, bahwa para sahabat juga manusia yang tidak ma’shum, namun meskipun demikian, dalam urusan meriwayatkan hadis para sahabat tidak mungkin berani berbohong atau bahkan memalsukan hadis.

Proposisi di atas menjelaskan bahwa maksud dari ungkapan al-sahabatu kulluhum ‘udul, pada dasarnya bukan merupakan pemutlakan terhadap keadilan sahabat tanpa melihat situasi dan kondisi apapun. “Keadilan” itu adalah predikat yang melekat dalam diri sahabat, namun tidak menepis kemungkinan adanya sahabat yang tidak adil apabila ditemukan cacat dalam diri mereka.

Ibnu al-Anbari mengomentari, bahwa keadilan sahabat bukanlah sifat ma’shum dari dosa dan kemustahilan melakukan maksiat, yang dimaksud sebenarnya adalah menerima riwayat-riwayat mereka tanpa harus melakukan penelitian sebab-sebab keadilannya kecuali apabila telah jelas ia melakukan kekejian. [74]

Pengecualian sahabat dari keadilannya ini terjadi pada kasus sahabat yang bernama al-Walid bin Uqbah bin al-Mu’ith, al-Walid ini dikenal gemar minum-minuman keras dan pada suatu ketika shalat fajar dalam keadaan mabuk. Sahabat Bishr bin Aztah juga pernah melakukan pembunuhan dua orang putra Ubaidillah bin al-Abbas di hadapan ibu mereka, sehingga sang ibu menjadi gila. [75]

Pendekatan yang tepat untuk memahami keadilan sahabat ini seharusnya dilakukan secara proporsional dan bukan generalisir. Pertama, sebagian besar sahabat memang orang-orang pilihan dan sangat berhati-hati dalam periwayatan. Kedua, ketatnya seleksi dalam menerima periwayatan hadis secara umum dan pengujian terhadap para periwayat setidaknya akan menambah keimanan.

* * *

Referensi

Abu Rayyah, Adwa’ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’an al-Hadis, Mesir, Dar al-Ma’rifah

Ahamad Amin, Fajar al-Islam, Kairo, Maktabah al-Nahdhah al-Misriyyah, 1975

Ahmad Husain Ya’qub, Keadilan Sahabat Sketsa Politik Islam Awal, terj. Nashirul Haq dan Salman al-Farisi, Jakarta, al-Huda, 2003

Al-Adlabi, Manhaj Naqd al-Matan, Beirut, Dar al-Afaq al-Jadidah, 1403 H/ 1983 M

Al-Hasan bin Abd al-Rahman, al-Ramahurmuzi, al-Muhaddis al-Fashil baina al-Rawi wa al-Wa’yi, Beirut, Dar al-Fikr, 1391 H/ 1971 M

Al-Nawawi, Sahih Muslim bi Syarh al-Nawawi, Mesir, al-Matba’ah al-Mishriyyah, 1924 M, juz I

Al-Qurtubi, al-jami’ li ahkam al-Quran, Kairo, Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1387 H/ 1967 M, juz XVII

Al-Qusyairi, al-Jami’ al-Sahih, Sahih Muslim, disunting kembali oleh Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, ‘Isa al-Babi al-Halaby wa Syurakah, 1375H/ 1955 M, juz I

al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul, Surabaya, Salim Ibn Saad, tth

Al-Siba’I, al-Sunnah wa makanatuha fi Tasyri’ al-Islam, ttp. Dar al-Qaumiyyah, 1966

Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi, Beirut, Dar al-Ihya’ al-Sunnah al-Nabawiyyah, 1979, juz I

Husein Al-Zahabi, Mizan al-I’tidal fi Naqdi al-Rijal, ttp.,  Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakah, 1382 H/ 1963 M, juz I

__________, Zikru Man Yu’tamad Qaulahu fi al-Jarh wa al-ta’dil, Kairo, al-Matba’ah al-Islamiyyah, tth

Ibnu al-Salah, ‘Ulum al-Hadis, al-Madinah al-Munawwarah, al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1972, hlm. 74-75; as-sakhawi.

Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Beirut, Dar al-Sadr, 1328 H, juz I

__________, Fath al-Bari, ttp.,  Dar al-Fikr wa al-Maktabah al-Salafiyyah, tth., juz I

__________, Lisan al-Mizan, Beirut, Muassasah al-A’lami, 1971

__________, Nuskhah al-Nazar Syarh al-Nukhbah al-Fikr, Semarang, Maktabah al-Munawwar, tth

__________, Tahzib al-Tahzib, India, Majlis Da’irat al-Ma’arif al-Nizamiyyah, 1325 H, juz, II, hlm. 402-406, dan juz XII

Kamus Muktarus-Shihah, Darul Fikr

Lisan-al-Arab Ibn Manzhur

Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah, Beirut, Dar al- al-Masyriq, 1973

M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, Jakarta, Bulan Bintang, 1988

__________, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Jakarta, Bulan Bintang, 1991

Mahmud al-Tahhan, Taisir Musksiah Hadis, Beirut, Dar al-Qur’an al-Karim, 1398 H/ 1979 M

Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin, Kairo, Maktabah Wahbah, 1379 H/ 1963 M

__________, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Mustalahuhu, Beirut, Dar al-Fikr

Muhammad Abu Zahwu, al-Hadis wa al-Muhaddisun, Mesir, Matba’ah al-Ma’rifah

Mustafa al-A’zami, Dirasat fi al-Hadis al-Nabawi, ttp. Jami’ah al-Riyadh, 1396 H

Nuruddin ‘Itr, al-Madkhal ila ulum al-Hadis, al-Madinah al-Munawwarah,  al-Maktabah al-Ilmiyyah, 1972

__________, Manhaj an- Naqd fi ‘Ulum al-Hadis, Damaskus, Dar al-Fikr, 1399 H/ 1979 M

Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya,  Arkola,1994

Salahuddin Ibn Ahmad al-Adlabi, Manhaj Naqd al-Matan, Beirut, Dar al-Afaq al-Jadidah, 1403 H/ 1983 M

Subhi al-Salih, hlm. 266, al-siba’I, al-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri’ al-Islami, ttp. Al-Dar al-Qaumiyyah, 1966

W. J. S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1985


[1] Muhammad Abu Zahwu, al-Hadis wa al-Muhaddisun, (Mesir: Matba’ah al-Ma’rifah, tth. ), hlm.

[2] Ibid,

[3] Salahuddin Ibn Ahmad al-Adlabi, Manhaj Naqd al-Matan (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1403 H/ 1983 M), hlm. 20-23

[4] Ibid,

[5] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadis (Damaskus: Dar al-Fikr, 1399 H/ 1979M), hlm. 344-345.

[6] Al-Qusyairi, al-Jami’ al-Sahih (Sahih Muslim), disunting kembali oleh Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi (‘Isa al-Babi al-Halaby wa Syurakah, 1375H/ 1955 M), juz I, hlm. 14

[7] Ibid. , hlm. 15

[8] Al-Nawawi,Sahih Muslim bi Syarhi al-Nawawi (Mesir: al-Mathba’ah al-Mishriyyah, 1924 M), juz I, hlm, 88.

[9] Selanjutnya, lihat, Nuruddin ‘Itr, al-Madkhal ila ulum al-Hadis (al-Madinah al-Munawwarah : al-Maktabah al-Ilmiyyah, 1972), hlm. 12. ;,

[10] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin (Kairo: Maktabah Wahbah, 1379 H/ 1963 M), hlm. 528.

[11] Semantik adalah bagian dari filsafat bahasa yang menyelidiki tentang tata makna atau arti kata-kata dan bentuk linguistic, fungsinya sebagai simbol dan peran yang dimainkan dalam hubungannya dengan kata-kata lain dan tindakan manusia. Lihat dalam Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya : Arkola,1994), hlm. 700.

[12] Al-Hasan bin Abd al-Rahman, al-Ramahurmuzi, al-Muhaddis al-Fashil baina al-Rawi wa al-Wa’yi (Beirut: Dar al-Fikr, 1391 H/ 1971 M), hlm. 528.

[13] Mustafa al-A’zami, Dirasat fi al-Hadis al-Nabawi, (ttp. Jami’ah al-Riyadh, 1396 H), hlm. 391.

[14] al-Adlabi mengemukakan tiga faktor, yakni: (1) kitab-kitab yang membahas kritik matan dan metodenya sangat langka; (2) pembahasan matan pada kitab-kitab tertentu termuat di berbagai bab yang bertebaran sehingga sulit dikaji secara khusus; (3), adanya kekhawatiran menyatakan sesuatu sebagai bukan hadis padahal hadis, dan sesuatu sebagai hadis padahal bukan hadis, lihat. Al-Adlabi, Manhaj Naqd al-Matan (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1403 H/ 1983 M), hlm. 20-23.

[15] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, (Jakarta : Bulan Bintang, 1991), hlm. 29-30.

[16] Al-Nawawi, Sahih Muslim bi Syarh al-Nawawi (Mesir: al-Matba’ah al-Mishriyyah, 1924 M), juz I, hlm. 88

[17]. lihat, Al-Qurtubi, al-jami’ li ahkam al-Quran (Kairo: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1387 H/ 1967 M), juz XVII, hlm. 17

[18] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), hlm. 89-90

[19] Ibid, hlm. 89-90

[20] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, hlm. 89-90.

[21] Ibid, hlm. 92-95.

[22] Subhi al-Salih, hlm. 266, al-siba’I, al-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri’ al-Islami (ttp. Al-Dar al-Qaumiyyah, 1966), hlm. 76. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadis

[23] Abu Rayyah, Adwa’ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah au Difa’an al-Hadis (Mesir: Dar al-Ma’rifah, tth. ), hlm. 121.

[24] Al-Siba’I, al-Sunnah wa makanatuha fi Tasyri’ al-Islam (ttp. Dar al-Qaumiyyah, 1966), hlm. 76.

[25] Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi (Beirut: Dar al-Ihya’ al-Sunnah al-Nabawiyyah, 1979), juz I, hlm. 281-287.

[26] Al-Zahabi, Mizan al-I’tidal fi Naqdi al-Rijal (ttp. : Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakah, 1382 H/ 1963 M), juz I, hlm. 47

[27] Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi (Beirut: Dar al-Ihya’ al-Sunnah al-Nabawiyyah, 1979), juz I, hlm. 278-284.

[28] Al-Siba’I, hlm. 101-117.

[29]

[30] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari (ttp. : Dar al-Fikr wa al-Maktabah al-Salafiyyah, tth. ), juz I, hlm. 194-195.

[31] Subhi al-Salih, hlm. 222.

[32] Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib (India, Majlis Da’irat al-Ma’arif al-Nizamiyyah, 1325 H), juz, II, hlm. 402-406, dan juz Xii, hlm. 288.

[33] Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi juz I, hlm. 233.

[34] Mahmud al-Tahhan, Taisir Mustalah al-Hadis, (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1979), hlm. 94- 118.

[35] Subhi al-Salih, hlm. 199. . Nuruddin ‘Itr, Manhaj an- Naqd fi ‘Ulum al-Hadis (Damaskus: Dar al-Fikr, 1399 H/ 1979 M), hlm. 428-433.

[36] Nuruddin ‘Itr, Manhaj an- Naqd fi ‘Ulum al-Hadis (Damaskus: Dar al-Fikr, 1399 H/ 1979 M), hlm. 450-452.

[37] Taisir ‘Ulum Al Hadis li Al Mudtadi’in, Amru Abdul Mun’im Salim, hlm 160-161

[38] Muhammad Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Mustalahuh (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 266-268.

[39] Ibnu Hajar al-Asqalani, Nuzhatun nazar Syarh Nukhbah al-Fikr (Semarang : Maktabah al-Munawwar, tth. ), hlm. 67-68.

[40] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, hlm. 75.

[41] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis, hlm, 267.

[42] Husein Al-Zahabi, Zikru Man Yu’tamad Qaulahu fi al-Jarh wa al-ta’dil (Kairo: al-Matba’ah al-Islamiyyah, tth. ), hlm. 159. . Ibnu Salah, hlm. 186-187. M. Syuhudi Ismail, Kaedah Krsahihan Sanad Hadis, hlm. 171.

[43] Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi. hlm 229-233.

[44] Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi, Ibid.

[45] Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi, Ibid

[46] Mahmud al-Tahhan, Taisir Musksiah Hadis (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1398 H/ 1979 M), hlm. 140

[47] Ibnu al-Salah, ‘Ulum al-Hadis (al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1972), hlm. 74-75; as-sakhawi.

[48] M. Syuhudi Ismail, Kaidah, hlm. 106-109.

[49] Sejumlah kitab menjelaskan secara tegas bahwa siqah merupakan gabungan dari sifat adil dan dhabit. Liha, al-Suyuti, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi (Beirut: Dar Ihya’ al-Sunnah al-Nabawiyyah, 1975), juz I, hlm. 63

[50] W. J. S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), hlm. 16.

[51] Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah (Beirut: Dar al- al-Masyriq, 1973), hlm. 491-492.

[52] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), hlm. 113-118.

[53] Ibid,.

[54] Ibid, hlm. 113

[55] Ibid, hlm. 115-117

[56] Subhi al-Salih, Ibid, hlm. 133-134. al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul (Surabaya: Salim Ibn Saad, tth. ), hlm. 168

[57] Mahmud al-Tahhan, Taisir Musksiah Hadis (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1398 H/ 1979 M), hlm, 87-91

[58] al-Asqalani, Nuskhah al-Nazar Syarh al-Nukhbah al-Fikr, (Semarang: Maktabah al-Munawwar, tth. ), hlm. 30-42.

[59] Ibid.

[60] Ibid.

[61] al-Suyuti, Tadrib al-Rawi, juz I, hlm. 301.

[62] Sesungguhnya telah banyak teori atau solusi yang ditawarkan ulama untuk menyelesaikan pertentangan atau perbedaan pendapat antara satu ulama dengan ulama lainnya dalam hal penilaian atas diri seorang periwayat. Keenam teori yang dikutip di atas adalah merupakan teori yang banyak dikemukakan dalam beberapa kitab-kitab ulum al-hadis. Misalnya, al-Suyuti, dalam Tadrib al-Rawi,juz I. hlm. 305-314. Ibnu Salah, hlm. 99. Asqalani, dalam Nuzhatun Nazar, hlm. 69. Mahmud al-Tahhan, Taisir Mustalah al-Hadis, (Beirut: dar al-Qur’an al-Karim, 1979), hlm. 142-147.

[63] Ibid,

[64] Ahmad Husain Ya’qub, Keadilan Sahabat Sketsa Politik Islam Awal, terj. Nashirul Haq dan Salman al-Farisi (Jakarta: al-Huda, 2003), hlm. 9-10.

[65] Lihat Kamus Muktarus-Shihah, Darul Fikr, hlm. 417

[66] Ibn Hajar al-Asqalani, Nuzhatun Nazhar Syarah Nukhbatul-Fikar, (ttp. : Maktabat Thayibah, 1404 H), hlm. 29.

[67] As-Suyuti, Tadrib al-Rawi 2, hlm. 215

[68] Ibnu Hajar al-Asqalani, Lisan al-Mizan (Beirut: Muassasah al-A’lami, 1971), juz I, hlm. 16

[69] lihat. Lisan-al-Arab Ibn Manzhur 1, hlm. 915.

[70] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Mustalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 386-387

[71] Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, (Beirut: Dar al-Sadr, 1328 H), juz I, hlm. 9

[72] M. ‘Ajaj al-Khatib, Ushul…. . ,hlm. 393.

[73] Ahamad Amin, Fajar al-Islam (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Misriyyah, 1975), hlm. 210-211

[74] Ibid.

[75] Ibid. , hlm. 198

3 Komentar

Filed under Hadis - Ilmu Hadis