HADIS PERSPEKTIF SYI’AH (Studi atas Kitab Al-Kafi Karya al-Kulaini)

A. Pendahuluan

Hampir semua mazhab[1] dalam Islam sepakat akan pentingnya peranan hadis[2] sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Otoritas Nabi SAW dalam hal ini (selain al-Qur’an) tidak terbantahkan dan mendapat legitimasi melalui wahyu juga,[3] sehingga secara faktual, Nabi SAW adalah manifestasi al-Qur’an yang pragmatis.[4]

Begitu juga dengan Syi’ah,[5] sebagai salah satu aliran dalam Islam, Syi’ah memiliki pemikiran yang berbeda dengan aliran lainnya. Ia identik dengan konsep kepemimpinan (imamah) yang merupakan tonggak keimanan Syi’ah. Mereka hanya percaya bahwa jabatan ilahiyah yang berhak menggantikan Nabi baik dalam masalah keduniaan maupun keagamaan hanyalah dari kalangan ahl al-bait. Keyakinan tersebut mewarnai karakteristik Syi’ah di samping adanya konsep lain seperti ishmah dan mahdi.

Kajian atas hadis-hadis di kalangan sunni telah banyak dilakukan oleh para pemikir hadis. Sementara dalam khazanah yang sama dalam tradisi Syi’ah juga dikenal berbagai kitab hadis yang disusun dengan berbagai epistemologinya. Rangkaian kitab-kitab hadis dari kalangan Syi’ah disebut dengan kutub al-arba’ah (al-Kafi, karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, al-Istibshar, dan al-Tahdzib, keduanya merupakan karya Muhammad bin Hasan al-thusi, Man La Yahdhuru al-Faqih, karya Muhammad Babawaih al-Qarni,).

Makalah ini akan berupaya menguraikan pemikiran Syi’ah mengenai hadis, dan sekilas menyorot kitab al-Kafi dengan pembahasan tentang karakteristik, isi  kitab, serta berbagai respon umat Islam atas kitab tersebut.

B. Pengertian Hadis Menurut Syi’ah

Hadis menurut istilah fuqaha’ adalah ucapan, perbuatan atau ketetapan Nabi saw. Adapun menurut fuqaha’ Imamiyah secara khusus, berdasarkan dalil kuat bagi mereka, bahwa perkataan imam yang ma’shum dari ahl al-bait sama seperti perkataan Nabi saw dan sebagai hujjah bagi manusia yang wajib diikuti, dalam hal ini hadis mencakup ucapan setiap imam yang ma’shum, perbuatan atau ketetapannya. Jadi hadis dalam istilah mereka adalah ucapan, perbuatan atau ketetapan imam yang ma’shum.[6]

Hal ini memberikan pengertian, bahwa  para imam dari ahl al-bait bukan sebagai para periwayat dan penyampai hadis dari Nabi saw agar ucapan mereka menjadi hujjah karena mereka siqah dalam riwayat, tapi mereka diangkat Allah melalui Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan hukum-hukum aktual, sehingga mereka tidak mengkhabarkan kecuali hukum-hukum aktual dari sisi Allah sebagaimana aslinya.

Atas dasar ini, maka penjelasan mereka tentang hukum bukan sebagai bentuk riwayat dan pengkhabaran hadis, juga tidak termasuk ijtihad dalam pendapat dan istinbath dari sumber-sumber syari’at. Karena  perkataan mereka adalah hadis, dan bukan berita tentang hadis. Adapun penetapan imamah dan perkataan mereka seperti perkataan Rasulullah, dikaji secara lengkap dalam pembahasan ilmu kalam.

Dari keterangan di atas dapat diketahui, bahwa mereka menjadikan seorang imam sebagai orang yang ma’shum seperti Nabi Muhammad saw., yang di utus Allah, dan sunnah adalah perkataan orang ma’shum, perbuatan atau ketetapannya, baik Nabi Muhammad saw atau salah satu imam Syi’ah. Mereka menjadikan imam seperti Nabi Muhammad dalam menjelaskan Al-Qur’an, dengan membatasi kemutlakannya dan mengkhususkan keumumannya. Mereka juga berpandangan bahwa para periwayat mereka melarang mengamalkan zahir al-Qur’an karena mereka tidak berpedoman dalam syari’at kecuali dari para imam mereka. Dan bahwa imam adalah sebagai sumber syari’at secara mandiri. Mereka mengatakan bahwa imam mempunyai ilham yang sebanding dengan wahyu bagi Rasulullah saw.

C. Munculnya Ilmu Hadis dalam Tradisi Syi’ah

Para periwayat hadis Imamiyah hanya sedikit jumlahnya dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang musthalah hadis. Sebab mereka hanya menerima apa yang datang dari para imam mereka dalam kitab-kitab hadis yang menjadi sandaran mereka.[7] Bahkan mereka berpendapat tentang mutawatirnya setiap hadis dan kalimat dengan semua harakat dan sukunnya dalam i’rab dan bina’ serta urutan kalimat dan huruf yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut. Di mana empat kitab hadis mereka itu muncul pada abad keempat dan kelima hijriyah, dan para penulisnya berpendapat tentang sahihnya segala sesuatu yang mereka tetapkan dalam kitab mereka.[8]

Munculnya ilmu hadis dalam tradisi syi’ah dimulai pada abad ke-7[9] atas kritik dari Ibn Taimiyah, di mana dalam tradisi syi’ah sebelumnya ilmu hadis belum mendapat perhatian yang serius, karena bagi mereka tidak diperlukan lagi pembahasan tentang jarh wa al-ta’dil, mereka tidak menganggap penting kajian tentang sanad.[10]

Salah satu ulama syi’ah yang mempunyai bahasan tentang ilmu hadis adalah al-Hakim,[11] dia menyusun sebuah kitab yang bernama Ma’rifah Ulum al-Hadis. Dalam kitab tersebut al-Hakim menjelaskan tentang asahhu al-asanid (sanad yang paling sahih), dan ad’af al-asanid (sanad yang paling daif).[12]

Menurut al-Hakim, di antara sanad yang paling sahih adalah sebagai berikut:

  1. Sanad yang paling sahih untuk ahl al-bait adalah Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakaknya dari Ali, jika periwayat dari Ja’far maka riwayatnya dianggap siqah.
  2. Sanad yang paling sahih untuk Abu Bakar adalah Isma’il bin  Abi Khalid dari Qays bin Abi Hazim dari Abu Bakar.
  3. Sanad yang paling sahih untuk Umar adalah Al-Zuhri dari Salim dari ayahnya dari kakaknya.
  4. Sanad yang paling sahih bagi Abu Hurairah adalah al-Zuhri dari Said bin Musayyab dari Abu Hurairah. Dan bagi Abdullah bin Umar adalah Malik dari Nafi’ dari Ibn Umar. Sedang bagi A’isyah adalah Ubaidillah bin Umar bin Hafash bin ‘Ashim bin Umar bin Khaththab dari Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar dari ‘Aisyah.[13]

Dari kriteria di atas, diketahui bahwa tidak ada perbedaan dengan jumhur al-Muslimin dalam pandangannya terhadap para sahabat Nabi dan dalam menyatakan ke-siqah-an mereka. Berbeda dengan pendapat Rafidhah.

Di samping al-Hakim membicarakan tentang kajian sanad, dia juga membahas tentang ilmu matan hadis, diantaranya adalah Fiqh al-Hadis. Menurut al-Hakim, para fuqaha’ Islam, para pelaku qiyas, ra’yu, istinbath, jadal dan nazhar, mereka dikenal dalam setiap masa.

Dalam tradisi syi’ah al-jarh wa al-ta’dil juga menjadi salah satu cabang ilmu hadis. Al-Jarh wa al-Ta’dil menurut syi’ah berkaitan dengan akidah mereka dibuat untuk mendukung akidah ini. Mereka mencela generasi terbaik dari para sahabat Nabi. Tidak ada sahabat yang selamat dari cercaan mereka kecuali orang yang masyhur dalam sejarahnya karena loyalitasnya kepada ali bin Abi Thalib.[14]

Kitab pokok mereka tentang para tokoh hadis (kitab jarh wa ta’dil) ada lima, yaitu:

  1. Rijal al-Barqi
  2. Rijal al-Kasyi.
  3. Rijal Syaikh al-Thusi.
  4. Fihrasat al-Thusi, dan
  5. Rijal al-Najasyi[15]

Berikut ini sebagian contoh yang terdapat dalam kitab tersebut.

Ali bin Abi Thalib

Amir al-mukminin as. Kebaikan dan keutamaannya tidak dapat dihitung oleh manusia. Katakanlah, seandainya lautan sebagai tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat Tuhanku habis ditulis.

Muhammad bin Abu Bakar bin abi Quhafah

Dia adalah seorang sahabat yang agung posisinya dan tinggi kedudukannya, termasuk orang yang mempunyai kedudukan khusus di sisi Ali as. Dia mempunyai kecerdasan, termasuk orang yang sangat cerdas dari keluarga ibunya dan bukan dari ayahnya. Ia berbaiat kepada Ali dan melepaskan diri dari Abu Bakar, dan khalifah Umar.[16]

Dengan dua biografi ini, meskipun sangat singkat, namun cukup untuk mengetahui bagaimana metode mereka dalam melakukan Jarh wa Ta’dil, dan keberanian mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, juga kepada para sahabat yang lain

D. Tingkatan Hadis Menurut Syi’ah

Yang masyhur, ada dua pembagian hadis, pada masa ulama terdahulu, pada masa kedua tokoh periwayat, Sayyid Ahmad bin Thawus dan Ibn Dawud al-Hulliy. Pembagian hadis ini berkisar pada hadis mu’tabar dan ghairu mu’tabar. Pembagian ini dipandang dari segi kualitas eksternal (keakuratan periwayat), seperti kemuktabaran hadis yang dihubungkan dengan Zurarah, Muhammad bin Muslim serta Fudhail bin Yasar. Maka hadis yang berkualitas demikian itu dapat dijadikan hujjah[17]. Dengan berlalunya zaman, pembagian hadis seperti ini sangat jarang dibahas, akibatnya harus kehilangan al-Ushul dan al-Mushannafat yang disusun oleh para penulis-penulis handal.

Sedangkan menurut jumhur Ja’fariyah hadis terbagi menjadi mutawatir dan ahad. Pengaruh akidah mereka yang batil tampak dalam maksud hadis mutawatir, di mana hadis mutawatir menurut mereka harus dengan syarat hati orang yang mendengar tidak dicemari syubhat atau taklid yang mewajibkan menafikan hadis dan maksudnya.[18] Pengaruh imamah di sini dapat diketahui ketika mereka menolak hujjah orang-orang yang berbeda dengan mereka yaitu mazhab yang menafikan ketetapan amir al-mukminin Ali sebagai imam. Mereka juga berpendapat tentang mutawatirnya hadis alsaqalain dan hadis al-ghadir. [19]

Sedangkan hadis Ahad menurut mereka terbagi dalam empat tingkatan atau empat kategori, yang bertumpu pada telaah atas sanad (eksternal) dan matan (internal),  dan keempat tingkatan tersebut merupakan pokok bagian yang menjadi rujukan setiap bagian yang lain. Empat tingkatan itu adalah; sahih, hasan, muwassaq, dan dha’if. Pembagian inilah yang kemudian berlaku sampai saat ini.

Hadis Sahih

Hadis sahih menurut mereka adalah, hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum serta adil dalam  semua tingkatan dan jumlahnya berbilang. Dengan kata lain, hadis sahih menurut mereka adalah hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.[20]

Mereka sepakat bahwa syarat-syarat hadis sahih adalah;

  1. Sanadnya bersambung kepada imam yang ma’shum tanpa terputus.
  2. Para periwayatnya dari kelompok imamiah dalam semua tingkatan.
  3. Para periwayatnya juga harus adil dan kuat hafalan.

Pengaruh imamiah di sini tampak pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah imamiah. Jadi hadis tidak sampai pada tingkatan sahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan.

Kalangan Syi’ah imamiah menjelaskan sebab adanya persyaratan ini adalah tidak diterima riwayat orang fasiq, meskipun dari sisi agamanya dia dikatakan sebagai orang yang selalu menghindari kebohongan. Dengan tetap wajib meneliti riwayat dari orang fasik dan orang yang berbeda dari kaum Muslimin (maksudnya; selain imamiah). Jika dia dikafirkan maka dia tertolak riwayatnya meskipun diketahui dia orang adil dan mengharamkan kebohongan.

Menurut al-Mamqani, keadilan pasti sejalan dengan akidah dan iman, dan menjadi syarat bagi setiap periwayat. Sejalan dengan firman Allah, “jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.(Q.S al-Hujurat; 6).

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan, bahwa iman adalah syarat bagi periwayat dan riwayat orang fasik wajib diteliti, sedangkan selain pengikut Ja’fariyah adalah kafir atau fasik, maka riwayatnya tidak mungkin sahih sama sekali. Dari sini tidak hanya tampak pengaruh imamah, tapi juga tampak sikap ekstrim dan zindiq.

Hadis Hasan

Hadis hasan menurut Syi’ah adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dari periwayat adil, sifat keadilannya sesuai dalam semua atau sebagian tingkatan para rawi dalam sanadnya.[21]

Dari definisi tersebut tampak bahwa mereka mensyaratkan hadis hasan sebagai berikut;

  1. Bertemu sanadnya kepada imam yang ma’shum tanpa terputus.
  2. Semua periwayatnya dari kelompok imamiah.
  3. Semua periwayatnya terpuji dengan pujian yang diterima dan diakui tanpa mengarah pada kecaman. Dapat dipastikan bahwa bila periwayatnya dikecam, maka dia tidak diterima dan tidak diakui riwayatnya.
  4. Tidak ada keterangan tentang adilnya semua periwayat. Sebab jika semua periwayat adil maka hadisnya menjadi sahih sebagaimana syarat yang ditetapkan di atas.
  5. Semua itu harus sesuai dalam semua atau sebagian rawi dalam sanadnya.

Pengaruh akidah imamiyah dalam bentuk ini tampak dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Periwayatnya disyaratkan harus dari kelompok imamiyah.
  2. Diterimanya riwayat orang yang bermazhab imamiah yang tidak adil, dan menolak riwayat orang yang tidak bermazhab imamiyah, meskipun dia adil dan wara’.
  3. Diterimanya riwayat orang yang bermazhab imamiyah yang terpuji dan kadang tercela dengan syarat tercelanya bukan sebab kerusakan mazhab. Karena yang dimaksud dengan kerusakan mazhab adalah keluar dari garis Ja’fariyah. Jika demikian maka tercelanya tidak dimaafkan.

Hadis Muwassaq[22]

Hadis muwassaq yaitu hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dengan orang yang dinyatakan siqah oleh para pengikut Syi’ah imamiyah, namun dia rusak akidahnya, seperti dia termasuk salah satu firqah yang berbeda dengan imamiyah meskipun dia masih seorang Syi’ah  dalam semua atau sebagian periwayat, sedangkan lainnya termasuk periwayat yang sahih.

Al-Mamqani berpendapat, hadis muwassaq adalah hadis yang sahih secara bahasa, tetapi menyalahi pengertiannya sebagai istilah.

Definisi ini memberikan pengertian tentang persyaratan sebagai berikut:

  1. Bersambungnya sanad kepada imam yang ma’shum.
  2. Para periwayatnya bukan dari kelompok imamiah, tapi mereka dinyatakan siqah oleh ja’fariyah secara khusus.
  3. Sebagian periwayatnya sahih, dan tidak harus dari imamiyah.

Pengaruh akidah mereka tampak dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Posisi hadis muwassaq diletakkan setelah hadis sahih dan hadis hasan karena adanya periwayat dari selain Ja’fariyah.
  2. Pernyataan siqah harus dari kelompok Ja’fariyah sendiri. Karena bagi mereka pernyataan siqah dari selain Ja’fariyah tidak cukup, bahkan orang yang dinyatakan siqah oleh mereka (selain Ja’fariyah) adalah dha’if menurut mereka.

Al-Mamqani menjelaskan bahwa pengukuhan siqah harus dari para pengikutnya dengan mengatakan, menerima penilaian siqah selain imamiyah, jika dia dipilih imam untuk menerima atau menyampaikan persaksian dalam wasiat, wakaf talak, atau imam mendoakan rahmat dan ridha kepadanya, atau diberi kekuasaan untuk mengurusi wakaf atas suatu negeri, atau dijadikan wakil, pembantu tetap atau penulis, atau diizinkan berfatwa dan memutuskan hukum, atau termasuk syaikh ijazah[23], atau mendapat kemuliaan dengan melihat imam kedua belas.

  1. Hadis Dha’if

Menurut pandangan Syi’ah, hadis dha’if adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari tiga kriteria di atas. Misalnya di dalam sanadnya terdapat orang yang cacat sebab fasik, atau orang yang tidak diketahui kondisinya, atau orang yang lebih rendah dari itu, seperti orang yang memalsukan hadis.[24]

Dalam hadis sahih terlihat bahwa mereka menilai selain Ja’fariyah sebagai orang kafir atau fasik, sehingga riwayatnya dinyatakan dha’if yang tidak boleh diterima, dan juga tidak diterima dari selain Ja’fariyah kecuali orang yang dinyatakan siqah oleh mereka.

Atas dasar itu mereka menolak hadis-hadis sahih dari tiga khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Usman) dan sahabat yang lain, tabiin, serta para imam ahli hadis dan fuqaha, pasalnya mereka tidak percaya dengan akidah imamiyah isna ‘asyariyah. Sebab riwayat-riwayat sahih yang di dalam sanadnya terdapat para sahabat senior dan para imam yang amanah, tetapi tidak percaya dengan akidah dua belas imam, maka riwayat-riwayat tersebut dinyatakan dha’if oleh kaum Ja’fariyah.

Dari klasifikasi hadis di atas, nampak bahwa di kalangan mazhab Syi’ah terdapat perbedaan dengan kalangan Sunni. Secara umum dalam pandangan Syi’ah, hadis terbagi atas empat yaitu hadis sahih, hadis hasan , hadis muwassaq, dan hadis dha’if. Istilah hadis muwassaq digunakan atas periwayat yang rusak kaidahnya. Demikian juga dengan istilah-istilah lain diselaraskan dengan keyakinan mereka, seperti dalam memaknai hadis sahih, yaitu hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.

Adapun hadis-hadis yang dha’if bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis sahih manakala hadis tersebut populer dan sesuai dengan ajaran mereka. Dengan demikian nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di kalangan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradisi Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. Sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalamnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja, melainkan memasukkan hal-hal lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad dan para imam mereka.

Hal yang penting diperhatikan bahwa hujah keagamaan di kalangan Syi’ah tidak serta merta berakhir dengan wafatnya Rasulullah, namun tetap berjalan sampai imam dua belas. Dari sinilah baru wahyu berhenti. Pada perkembangannya, semua masalah keagamaan kemudian dituangkan dalam kitab standar, termasuk kitab al-Kafi

E. Al-Kafi dan Al-Kulaini

Al-Kafi karya siqat al-Islam syaikh al-Kulaini adalah salah satu dari empat kitab hadis terbesar dan rujukan utama dalam mazhab Ahl al-Bait[25]. Kitab ini menjadi sumber istinbath di kalangan mazhab Imamiyyah. Dalil-dalil hukum ada empat (al-Kitab, al-Sunnah, al-‘Aql dan al-Ijma’). Pandangan ini masyhur di kalangan para fuqaha. Namun dalam kajian furu’ al-Din diketahui bahwa sandaran untuk mencari tahu hal-hal mengenai fardhu dan sunnah, halal dan haram adalah hadis, yang sebagian terbesar hadis termuat dalam Kutub al-Arba’ah.

Sebelum mengupas kitab al-Kafi tentang karakteristik serta berbagai respon umat Islam atas kelahiran kitab tersebut, terlebih dahulu akan diuraikan tentang sketsa historis pengarang dan kelahiran kitab.

1. Biografi (Sketsa Historis) al-Kulaini

Nama lengkap al-Kulaini adalah, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi.[26] Beliau dilahirkan di sebuah dusun Kulai di Ray Iran. Oleh karena itu ia disebut dengan al-Kulaini atau al-Kulini.[27] Tidak banyak keterangan yang didapat dari berbagai buku sejarah mengenai kapan pegarang kitab al-Kafi ini dilahirkan. Informasi yang ada hanya tentang tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran, ia juga pernah mendiami Bagdad dan Kufah. Al-Kulaini wafat pada tahun 328/329 H (939/940 M) dan dikebumikan di pintu masuk Kufah.[28]

Ayah al-Kulaini, Ya’qub bin Ishaq adalah seorang tokoh Syi’ah terkemuka dan terhormat di Ray Iran. Masyarakat sering menyebut ayahnya dengan nama al-Salsali.[29] Dalam berbagai kitab diungkap bahwa pada masa kecilnya, al-Kulaini semasa dengan  imam Syi’ah kedua belas al-Hasan al-‘Asykari (w. 260 M.).[30] argumen tersebut dapat diperkuat juga oleh al-Taba’taba’i atas riwayat dari ulama yang se-zaman tiga imam seperti al-Rida, al-Jawad, dan al-Hadi.

Al-Kulaini juga hidup semasa dengan empat wakil imam kedua belas (sufara’ al-arba’ah) yaitu Imam Muhammad ibn Hasan. Asumsi ini berdasarkan atas masa hidup mereka yang diperkirakan berusia 70 tahun sekitar tahun 330H. sementara umur al-Kulaini tidak sampai pada tahun tersebut.

Al-Kulaini hidup pada masa Dinasti Buwaihiyah (945-1055 M). pada masa tersebut merupakan masa paling kondusif bagi elaborasi dan standarisasi ajaran Syi’ah dibandingkan dengan masa sebelumnya.[31] Di mana masa-masa sebelumnya merupakan masa-masa sulit bagi Syi’ah untuk mengembangkan eksistensinya.[32] Hal ini disebabkan oleh adanya pertikaian antara kaum Sunni dengan Syi’ah. Bahkan untuk melacak sosok al-Kulaini dalam perjalanan hidupnya pada paru pertama sangat sulit untuk dilakukan. Kota Ray, tempat kelahiran dan tumbuh besar di masa awal al-Kulaini porak poranda akibat pertentangan tersebut. Oleh karena itu, banyak pengikut Syi’ah yang melakukan taqiyyah (menyembunyikan identitas diri) agar selamat dari kejaran kaum Sunni.

Pribadi al-Kulaini merupakan pribadi yang unggul dan banyak dipuji oleh ulama. Bahkan mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini. Ia merupakan pribadi yang dapat dipercaya dari segi agama dan pembicaraannya. Ibn Hajar Al-‘Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal di mana ia adalah seorang faqih sekaligus sebagai muhadddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam mendakwahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan.[33]

Dalam pada itu, Ibn al-Asir mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan salah satu pemimpin Syi’ah dan ‘ulama’nya. Sementara Abu Ja’far muhammad ibn Ya’qub al-Razi mengatakan bahwa al-Kulaini termasuk imam mazhab ahl al-bait, paling alim dalam mazhabnya, mempunyai keutamaan dan terkenal.[34] Masih dalam konteks tersebut, al-Fairuz Abadi mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan fuqaha’ Syi’ah. Muhammad Baqir al-Majlisi dan Hasan al-Dimastani mengungkap bahwa al-Kulaini ulama dapat dipercaya dan karenanya dijuluki dengan siqat al-Islam.[35]

Pujian lain dikemukakan oleh al-Thusi yang mengatakan bahwa sosok al-Kulaini dalam kegiatan hadis dapat dipercaya (siqat) dan mengetahui banyak tentang hadis. Penilaian senada juga diungkapkan oleh al-Najasyi yang mengatakan bahwa al-Kulaini adalah pribadi yang paling siqat dalam hadis.[36] Di dalam kitab-kitab hadis yang membahas tentang sosok al-Kulaini tidak ditemukan ada yang mencelanya. Sehingga kapasitas dan kepribadiannya dalam kegiatan transmisi hadis dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara di kalangan Syi’ah, sosok al-Kulaini tidak diragukan lagi kapasitasnya, ia merupakan orang yang terhormat. Di antara kitab yang sampai pada kita saat ini adalah al-kafi yang disusun selama 20 tahun.[37] Al-Kulaini melakukan perjalanan pengembaraan (rihlah) ilmiah untuk mendapatkan hadis ke berbagai daerah. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi al-Kulaini adalah Irak, Damaskus, Ba’albak, dan Taflis.[38]

Apa yang dicari al-Kulaini tidak hanya hadis saja, melainkan juga berbagai sumber-sumber dan kodifikasi-kodifikasi hadis dari para ahli hadis sebelumnya. Dari apa yang dilakukan, nampak bahwa hadis-hadis yang ada dalam al-Kafi merupakan sebuah usaha pengkodifikasian hadis secara besar-besaran.

Sebagai seorang ahli hadis, al-Kulaini mempunyai banyak guru dari kalangan ulama ahl al-bait dan murid dalam kegiatan transmisi hadis. Di antara guru al-Kulaini adalah Ahmad ibn Abdullah ibn Mihran, Muhammad ibn Yahya al-Attar, dan Muhammad ibn ‘Aqil al-Kulaini.[39] Sedangkan murid-murid nya antara lain Abu al-Husain Ahmad ibn Ali ibn said al-Kufi, Abu al-Qasim Ja’far ibn Muhammad ibn Muhammad ibn sulaiman ibn al-Hasan ibn al-Jahm ibn Bakr, Muhammad ibn Muhammad ibn ‘Asim al-Kulaini, dan Abu Muhammad Harun ibn Musa ibn Ahmad ibn Said ibn Said.[40]

Adapun karya-karya yang dihasilkan oleh al-Kulaini adalah:

  1. a. Kitab tafsir al-Ru’ya.
  2. b. Kitab al-Rijal.
  3. c. Kitab al-Radd ‘ala al-Qaramithah.
  4. d. Kitab al-Rasa’il: Rasa’il al-Aimmah alaihim al-salam.
  5. e. Al-Kafi.
  6. Kitab ma Qila fi al-Aimmah alaihim alsalam min al-Syi’r.[41]

2. Isi Kitab Al-Kafi

Al-Kafi merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (ushul), cabang-cabang (furu’). Al-Kurki dalam ijazah-nya al-Qadhi Shafi al-Din ‘Isa, mengatakan, al-Kulaini telah menghimpun hadis-hadis syar’iyyah dan berbagai rahasia rabbani yang tidak akan didapati di luar kitab al-Kafi. Kitab ini menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan. Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyyun.[42]

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun. Kitab ini terdiri atas tiga puluh kitab yang tidak ada bandingannya.[43] Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Adapun mengenai jumlah hadis yang termuat di dalamnya, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy[44] 302 buah hadis, dan tingkat dha’if  9. 485 buah hadis.[45]

Menurut al-Khunsari, secara keseluruhan hadis-hadis dalam al-Kafi berjumlah 16.190 hadis. Sementara dalam hitungan al-Majlisi 16.121, Agha Buzurg al-Tihrani sebanyak 15.181 dan Ali Akabar al-ghifari 15.176.

Al-Kafi terdiri atas 8 jilid, 2 jilid pertama berisi tentang al-Ushul (pokok), yang berkaitan dengan masalah akidah. 5 jilid selanjutnya berbicara tentang al-furu’ (fikih) dan 1 jilid terakhir berbicara tentang al-Raudhah (taman).[46] Juz ini berisi tentang pernyataan tentang ahl al-bait, ajaran para imam, adab orang-orang saleh, mutiara hukum dan ilmu, yang tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Dinamakan al-raudhah (taman) karena berisi  hal-hal yang bernilai dan berharga, yang identik dengan taman yang menjadi tempat tumbuh bermacam-macam buah dan bungah.[47]

Secara keseluruhan, distribusi hadis-hadis dalam tiap jilidnya adalah; jilid I memuat 1437 hadis, jilid II memuat 2346 hadis, jilid III memuat 2049 hadis, jilid IV memuat 2443 hadis, jilid V memuat 2200 hadis, jilid VI memuat 2727 hadis, jilid VII memuat 1704 hadis dan jilid VIII memuat 597 hadis. Dengan demikian jumlah keseluruhan hadis-hadis dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini sebanyak 15.503 hadis. Terdapat selisih 618 hadis dan kemungkinan hadis tersebut tidak terhitung disebabkan matannya satu dan sanadnya berbilang. Hitungan tersebut dilakukan oleh al-Majlisi, ulama yang banyak mengkaji al-Kafi karya al-Kulaini ini.[48]

Secara terperinci jumlah hadis dan distribusinya dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

Jilid

Bagian/Kitab

Bab

Hadis

I

Ushul : al-‘aql s/d al-hujjah, memuat hadis-hadis tentang perbedaan teologis antara akal dan kebodohan

71

1440

II

Ushul : al-iman wa al-kufr s/d al-usrah, berisi hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan dan pengingkaran, pilar-pilar Islam dan perbedaan yang signifikan antara iman dan Islam.

258

2346

III

Furu’ : taharah s/d zakat, berisi tentang berbagai persoalan tentang hukum Islam yang dimulai dari tata cara bersuci sampai masalah penegakan keadilan melalui jalur peradilan

313

2079

IV

Furu’ : shiyam s/d al-hajji

362

2190

V

Furu’ : al-jihad s/d al-nikah

382

2200

VI

Furu’ : al-‘aqiqah s/d al-dawajin

424

2665

VII

Furu’ : al-wasaya s/d al-aiman, berkenaan dengan hadis tentang sumpah janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal

287

1708

VIII

Al-Raudhah, berisi kumpulan khutbah para imam, beberapa surat dan minat keagamaan

1

597

Hadis-hadis tersebut di atas setelah diteliti oleh al-‘Allamah al-Hilli (w. 598 H) dan al-Majlisi dengan menggunakan kaedah ulum al-Hadis, maka hadis-hadis dalam al-Kafi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. 5.702 hadis sahih.
  2. 144 hadis hasan.
  3. 1.128 hadis muwassaq.
  4. 302 hadis qawiy.[49]
  5. 9.485 hadis dha’if.[50]

3. Karakteristik Kitab Al-Kafi

Selain isi kitab yang bisa dijadikan sebagai sebuah keistimewaan, karakteristik lain yang dapat dijumpai dalam al-Kafi adalah fenomena peringkasan sanad.[51] Sanad sebagai mata rantai jalur periwayat hadis di mulai dari sahabat sampai ulama hadis terkadang ditulis lengkap dan terkadang membuang sebagian sanad atau awalnya saja. Misalnya al-Kulaini telah menulis lengkap sanad pada hadis yang dikutip di atas hadis yang diringkas. Demikian juga, al-Kulaini kadang meringkas dengan sebutan dari sejumlah sahabat kita (ashabuna), dengan kata-kata ”iddah (sejumlah) dan jama’ah (sekelompok), dari fulan dan seterusnya.[52]

Fenomena lain yang dapat dijumpai ialah keberadaan periwayat hadis dalam al-Kafi bermacam-macam sampai pada imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan nilai hadis yang dibawakan antara para pemuka hadis Syi’ah dengan selain Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

Demikian juga terhadap sumber hadis, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah, maka imam-imam pada mazhab Syi’ah dapat mengeluarkan hadis. Oleh karena itu, tidak heran bahwa surat-surat, khutbah dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama diposisikan setara dengan hadis. Hal tersebut nampak dari apa yang dilakukan al-Kulaini yang ditampilkan dalam juz terakhir yang disebut al-raudhah.

4. Respon Umat Islam Terhadap Al-Kafi

Menurut al-Syahid dalam al-Dzikra, sesungguhnya yang ada dalam al-Kafi melebihi yang ada dalam keseluruhan al-Shihah al-Sittah (sahih al-Bukhari, sahih al-Muslim, sunan al-Nasa’i, sunan Ibn Majah, Sunan Abu Dawud, dan al-Baihaqi), yang terdiri dari 32 kitab.

Al-Hafiz bin Hajar dalam Kasyf al-Dzunun mengatakan, sebenarnya seluruh hadis dalam sahih Bukhari yang diklarifikasi, di luar yang belum disepakati dan masih perlu diteliti, yang sudah diedit dan ditahqiq ada 7.397 buah hadis. Dan di luar jumlah itu, yang belum diklarifikasi ada 2.602 hadis. Apabila jumlah ini digabung dengan matan-matan (teks-teks) yang sudah disepakati yang jumlahnya ada 150 hadis, maka menjadi 2.761 hadis.

Jika dibandingkan dengan sahih Muslim, sebagaimana diketahui bahwa dalam kitabnya tercatat sekitar 4.000 hadis yang belum diklarifikasi, sedangkan yang sudah disepakati ada 7.275 hadis.

Sedangkan Abu Dawud dalam muqaddimah sunan-nya mengatakan, “aku telah mengumpulkan dalam kitabku 4.008 hadis sahih, dan hadis yang menyerupai dan mendekati sahih”[53]

Ibn al-Asir Al-Jazari (544-606 H), telah mengumpulkan semua yang termaktub dalam al-Shihah, dalam kitab yang berjudul Jami’ al-Ushul min Ahadis al-Rasul, jumlah yang dikumpulkan mencapai 9.483 buah hadis. Yaqut dalam Mu’jam-nya, berkata Al-Jazari telah mengumpulkan dalam kitabnya, hadis Bukhari, Muslim, al-Muwatta’, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Nasa’i dan Sunan al-Turmuzi. Beliau melakukannya berdasarkan abjad dan syarah hadis-hadis yang tidak dikenal (gharib), maknanya, hukumnya, dan menyusun nama-nama periwayatnya, serta mengingatkan kepada semua yang diinginkan.[54]

F. Kesimpulan

Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa pembagian hadis dalam tradisi Syi’ah berbeda dengan Sunni, mereka membagi dengan, sahih, hasan, muwassaq dan dha’if.

Pada mulanya kelompok Syi’ah belum mempunyai bahasan tentang ulum al-hadis, namun setelah mendapatkan kritik dari Ibn Taimiyah, akhirnya pada abad ke-7 mereka mulai menyusun kitab tentang ilmu hadis.

Bagi mereka kajian tentang jarh dan ta’dil tidak begitu penting karena mereka mempunyai syarat tersendiri dalam menentukan sebuah hadis dapat diterima atau tidak

Keberadaan kitab al-Kafi dalam tradisi Syi’ah amat kuat dan kokoh. Al-Kafi merupakan kitab pokok dan menjadi rujukan utama atas berbagai persoalan keagamaan yang muncul di antara masyarakat Syi’ah. Bahkan pada golongan tertentu menganggap segala persoalan telah tercover di dalam kitab tersebut sebagaimana yang digagas oleh kaum akhbariyun. Nampaknya, apa yang dilakukan kaum Syi’ah identik dengan apa yang dilakukan oleh kaum Sunni terhadap kitab hadis Sahih Bukhari.

Kontribusi yang sangat berharga yang disumbangkan al-Kuilaini dalam al-Kafi adalah penghimpunan hadis secara besar-besaran dan menjadi rujukan dalam berbagai permasalahan agama dan prinsip biarkan hadis berbicara sendiri. Upaya tersebut berkonsekuensi jauh tentang kualitas hadis-hadis di dalam kitab al-Kafi tidak semua hadis tersebut bernilai sahih, melainkan bervariasi dan bahkan ada yang dha’if.


DAFTAR PUSTAKA

Aceh, Aboebakar, Syi’ah Rasionalisme dalam Islam, Solo: Ramadhani, 1984

Al-Habsyi, Ali Umar, Studi Analisis tentang al-Kafi dan al-Kulaini, Bangil, YAPI, t.th.

Al-Kulaini, Muqaddimah Ushul Al-Kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Ghifari, juz I, Teheran: Dar al-Kutub Al-Islamiyyah, 1388

Al-Qardhawi, Yusuf, al-Qur’an dan al-Sunnah, Terj. Bahrudin Fanani, Jakarta: Rabbani Press, 1999

Al-Salih, Subhi, Ulum al-Hadis wa Mustalahuhu, Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin, 1998

Al-Salus, Ali Ahamad, Ma’a al-Isna ‘Asyariyah fi al-Ushul wa al-Furu’ Mausu’ah Syamilah, Mesir: Maktabah Dar al-Qur’an, 2003

Al-Salus, Ali Ahmad, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, Jakarta, Pustaka al-Kausar, 1997

Al-Siba’i, Mustafa, Sunah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam; Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Terj. Nurcholis Madjid, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991

Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Amin, Moh., Ijtihad Ibnu Taimiyah dalam Bidang Fikih Islam, Jakarta: INIS, 1991

Azami, Muhammad Mustafa, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Mustafa Ya’qub, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999

Elposito, John L., Ensiklopedi Islam Modern, Bandung: Mizan, 2001

Ja’fariyan, Rasul, Penulisan dan Penghimpunan Hadis kajian Historis, terj. Dedi Jamaluddin Malik, Jakarta: Lentera, 1992

Jurnal al-Hikmah, No. 6, Juli-Oktober 1992, diterbitkan oleh Yayasan Muthtahhhari, Bandung.

Jurnal al-Huda, Vol II, No. 5, 2001, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta

Khaldun, Ibn., Muqaddimah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1978

Suhaimy, Ahmad Haris, Tausiq al-Sunnah, Baina al-Syi’ah al-Imamiyah wa ahl al-Sunnah, t.tp.: Dar al-Salam, t.th

Suryadilaga, Al-Fatih, Studi Hadis, Yogyakarta: TERAS, 2003


[1] Dikatakan hampir semua mazhab, karena ada sebagian kecil umat Islam yang tidak mempercayai dan menolaknya sebagai sumber ajaran Islam. Mereka inilah yang dinamakan Munkir al-Sunnah. Lihat Mustafa al-Siba’i, Sunah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam; Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Terj. Nurcholis Madjid  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), hlm. 122. Muhammad Mustafa Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Mustafa Ya’qub  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), hlm. 46-50.

[2] Penggunaan kata hadis dalam makalah ini adalah identik dengan sunnah yaitu informasi yang dinisbatkan kepada Nabi SAW, baik berbentuk perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat khalqiyah/khuluqiyah. Antara keduanya pada hakekatnya sama. Lihat Subhi al-Salih, Ulum al-Hadis wa Mustalahuhu (Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin, 1998), hlm. 6.

[3] Dalam sejumlah ayat al-Qur’an, umat Islam diperintahkan untuk mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. QS. Ali Imran (3): 32 dan 132, QS. Al-Hasyr (5): 93, QS. Al-Nisa’ (4): 193. Di sisi lain, keberadaan Muhamad SAW sebagai penyampai apa yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia {QS. Al-Hasyr (5): 67} ini, mestinya tidaklah dipahami sebagaimana petugas pos yang hanya mementingkan sesampainya surat ke alamat yang dituju tanpa tahu dan peduli isinya. Moh. Amin, Ijtihad Ibnu Taimiyah dalam Bidang Fikih Islam (Jakarta: INIS, 1991), hlm. 24.

[4] Aktualisasi prinsip-prinsip dasar al-Qur’an yang bersifat teoritik dioperasionalisasikan oleh Muhammad SAW melalui peneladanan. Lihat Yusuf al-Qardhawi, al-Qur’an dan al-Sunnah, Terj. Bahrudin Fanani  (Jakarta: Rabbani Press, 1997), hlm. 61.

[5] Mazhab syi’ah secara politis muncul setelah adanya pertikaian antara Ali ibn Abi Thalib dengan Mu’awiyah yang berbuntut kekalahan Ali dalam tahkim (arbitrase), atau menurut pendapat lain berdasarkan hadis Nabi keberadaannya sudah dapat ditemui pada masa awal Islam. Namun demikian kekalahan Ali dalam arbitrase merupakan sebab utama kemunculan aliran Syi’ah. Karena pada masa sebelumnya, masa Rasulullah, keberadaan Syi’ah hanya  sebatas embrio. Syi’ah dalam hal ini merupakan suatu golongan yang mendukung dan setia kepada Ali ibn Abi Thalib dan keturunannya sebagai pewaris kepemimpinan Rasulullah, baik dalam masalah keduniaan maupun keagamaan. Lihat Ibn Khaldun, Muqaddimah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1978), hlm. 196. bandingkan dengan Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), hlm. 146.

[6] Ali Ahmad as-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 123

[7] Rasul Ja’fariyan, Penulisan dan Penghimpunan Hadis kajian Historis, terj. Dedi Jamaluddin Malik, (Jakarta: Lentera, 1992), hlm. 14

[8] Aboebakar Aceh, Syi’ah Rasionalisme Dalam Islam, (Solo: Ramadhani, 1984), hlm. 160

[9] Ahmad Haris  Suhaimy, Tausiq al-Sunnah, Baina al-Syi’ah al-Imamiyah wa ahl al-Sunnah, (t.tp.: Dar al-Salam, t.th), hlm. 179

[10] Ali Ahamad Al-Salus, Ma’a al-Isna ‘Asyariyah fi al-Ushul wa al-Furu’ Mausu’ah Syamilah, (Mesir: Maktabah Dar al-Qur’an, 2003), hlm.  697

[11] Al-Hakim adalah seorang syi’ah tapi bukan dari kelompok Rafidhah, sehingga dalam pendapatnya tidak terjadi pembauran antara sikap syi’ah dan sikap Rafidhah

[12] Ibid.

[13] Ibid, hlm. 698

[14] Ibid, hlm. 699.

[15] Ibid.

[16] Ibid, hlm. 700

[17] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 38-39.

[18] Ali Ahmad as-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 125

[19] Yang disebut dengan hadis ghadir adalah wasiat Nabi Muhammad bahwa Ali ditunjuk sebagai pengganti beliau. Ibid, hlm.126.

[20] Ibid

[21] Ali Ahmad as-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 129.

[22] Muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.

[23] Telah berlaku dalam ungkapan ulama hadis penyebutan sebagian ulama dengan “syaikh ijazah“, dan yang lain dengan “syaikh riwayah”. Yang dimaksud dengan yang pertama adalah orang yang tidak mempunyai kitab yang diriwayatkan dan tidak mempunyai riwayat yang dinukil, tetapi dia memperbolehkan periwayatan kitab dari selainnya dan dia disebutkan dalam sanad karena dia bertemu gurunya. Dan jika dia dha’if maka tidak madharat kedha’ifannya. Sedangkan yang kedua adalah orang yang diambil riwayatnya dan dikenal sebagai penulis kitab, dia termasuk orang yang menjadi sandaran riwayat. Orang ini madharat bila tidak mengetahui riwayat. Untuk diterima riwayatnya, disyaratkan harus adil.

[24] Ali Ahmad as-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 130.

[25] Ahl al-Bait adalah istilah untuk keturunan Nabi Muhammad melalui putrinya, Fathimah, dengan keponakan dan sekaligus menantunya, Ali bin Abi Thalib. Lihat keterangan lebih lengkap dalam, John L. Elposito, Ensiklopedi Islam Modern, (Bandung: Mizan, 2001), hlm, 291.

[26] Al-Kulaini, Muqaddimah Ushul Al-Kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Ghifari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub Al-Islamiyyah, 1388), hlm, 13

[27] Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat, lihat, Ibid., hlm 9-13.

[28] Ibid., hlm. 39-40.

[29] Ibid.

[30] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi,” al-Hikmah: Jurnal Studi-studi Islam , diterbitkan oleh Yayasan Muthahhari Bandung, no. 6, Juli-Oktober 1992. hlm. 59.

[31] Lihat John L. Esposito, Ensiklopedi Islam Modern, juz V (Bandung: Mizan, 2001), hlm, hlm. 302-307

[32] Ibid.

[33] Al-Kulaini, Muqaddimah Ushul Al-Kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Ghifari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub Al-Islamiyyah, 1388), hlm, 21.

[34] Ibid.

[35] Ibid., hlm, 23-24

[36] Ibid., hlm. 20.

[37] Ibid., hlm. 25

[38] Ali Umar al-Habsyi, Studi Analisis tentang al-Kafi dan al-Kulaini (Bangil: YAPI, t.th.), hlm. 3

[39] Al-Kulaini, Ibid., hlm. 26.

[40] Ibid., hlm. 19-20

[41] Ibid., hlm. 24

[42] Di dalam Syi’ah sekarang terdapat dua aliran besar dalam menanggapi masalah-masalah yang berkembang di Dunia modern dikaitkan dengan ijtihad. Kelompok pertama mengatakan tidak ada ijtihad. Permasalahan sudah cukup dibahas para imam-imam mereka. Aliran ini dikenal dengan ahbariyyun atau muhaddisun. Kedua, kelompok ushuliyyun. Mereka beranggapan bahwa tradisi ijtihad masih terbuka lebar di kalangan Syi’ah tidak terbatas pada kematangan imam-imam mereka. Lihat Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah Al-Kafi” dalam Jurnal al-Hikmah, no, 6, Juli-Oktober 1992, hlm. 29.

[43] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.

[44] Menurut muhaqqiq dan muhaddis al-Nuri, yang dimaksud dengan tingkat kuat adalah karena sebagian atau semua tokoh sanadnya adalah orang-orang yang dipuji oleh kalangan Muslim non-Imami, dan tidak ada seorang pun yang melemahkan hadisnya. Ibid.,

[45] Ibid., hlm. 37

[46] Al-Fatih Suryadilaga, “al-Kafi al-Kulaini” dalam Studi Hadis (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 313.

[47] Lihat dalam Mukaddimah al-Raudah, hlm 9. Dikutip dalam Ali Ahmad as-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 140.

[48] Al-Fatih Suryadilaga, “al-Kafi al-Kulaini” dalam Studi Hadis (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 313.

[49] Qawiy adalah hadis yang diriwayatkan dari seorang imam, yang tidak dipuji dan tidak dicela, dan dikenal lebih dari seorang dari generasi akhir, bahwa hadis tersebut bukan dha’if.

[50] Jumlah hadis dha’if yang begitu banyak dalam kitab ini, bukan berarti gugurnya semua riwayat. Hal ini karena sifat dha’if dari segi sanad tidak mencegah kekuatannya. (catatan: 5.702 + 144 + 1.128 +302 + 9. 485= 16.761. ini berarti melebihi jumlah 16. 199. masih tersisa 68 hadis yang tidak diketahui kelompoknya.) Ibid., hlm. 317. Ali Ahmad As-Salus, op.cit. hlm. 140.

[51] Hasan Ma’ruf al-Hasani, hlm. 39-41

[52] Ibid.

[53] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm., hlm. 38

[54] Ibid.

3 Komentar

Filed under Hadis - Ilmu Hadis

3 responses to “HADIS PERSPEKTIF SYI’AH (Studi atas Kitab Al-Kafi Karya al-Kulaini)

  1. sedjatee

    tulisan yang mantaps..
    mohon klarifikasi, atas tulisan anda paragraf kedua : Begitu juga dengan Syi’ah, sebagai salah satu aliran dalam Islam…
    banyak ulama salaf menyatakan: syiah tidaklah termasuk dalam 73 aliran yang ada dalam islam. syiah / rafidhah bukan termasuk islam…
    btw, tulisan ini sangat bagus.. salam sukses…

    sedj

  2. meskipun saya tidak baca semua tapi dari judulnya saja sudah bisa dapat gambaran.
    saya hanya ingin kasih tahu saja sama yang bilang bahwa syi’ah bukan termasuk dari ke 73 aliran itu……memangnya saat ini islam agama anda itu hanya punya 73 aliran saja? cobalah anda teliti baik-baik sudah berapa banyak aliran yang muncul saat ini.???!! baik itu alian tasawwufnya, aliran teologinya, aliran kebatinannya dll sebagainya.
    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s