Kontribusi dan Kritik Mufassir untuk Tafsir Masa Depan (Dari Mufassir Klasik hingga Kontemporer)

A. Pendahuluan

Studi terhadap al-Qur’an dan metodologi tafsir sebenarnya selalu mengalami perkembangan yang cukup signifikan, produk-produk tafsir dari suatu generasi kepada generasi berikutnya memiliki corak dan karakteristik yang berbeda seiring dengan akselerasi perkembangan kondisi sosial budaya dan peradaban manusia, sejak turunnya al-Qur’an hingga sekarang. Fenomena tersebut merupakan konsekuensi logis dari adanya keinginan umat Islam untuk selalu mendialogkan antara al-Qur’an sebagai teks (nash) yang terbatas, dengan perkembangan problem sosial kemanusiaan yang dihadapi manusia sebagai konteks (waqa’i) yang terus berkembang. Hal itu juga merupakan salah satu implikasi pandangan teologis umat Islam bahwa al-Qur’an itu salih li kulli zaman wa makan. Karenanya, sebagaimana dikatakan Shahrur, “al-Qur’an harus selalu ditafsirkan sesuai dengan tuntutan era kontemporer yang dihadapi umat manusia[1]

Persoalannya adalah bagaimana merumuskan sebuah metode tafsir yang dianggap mampu menjadi alat untuk menafsirkan al-Qur’an secara baik, dialektis, reformatif, komunikatif-inklusif serta mampu menjawab perubahan dan perkembangan problem kontemporer yang dihadapi umat Islam. Inilah yang mendorong para pemikir kontemporer yang “liberal”, seperti Fazlur Rahman, M. Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Farid Esack, Abul kalam Azad, A’isyah Bint al-Syathi’, Quraish Shihab, dan sebagainya, untuk mendekonstruksi sekaligus merekonstruksi dan mengembangkan metodologi penafsiran al-Qur’an yang sesuai dengan tantangan zamannya. Karena produk-produk tafsir klasik sebelumnya, seperti tafsir Ibnu ‘Abbas, al-Tabari, al-Zamakhsyari, al-Razi, al-Suyuthi, dan sebagainya dengan berbagai corak dan kecenderungan masing-masing dianggap tidak relevan dengan tantangan zamannya.

Pergulatan dalam ranah kajian tafsir kontemporer menuntut adanya suatu model tafsir yang membebaskan. Tafsir yang tidak hanya didominasi oleh sebagian golongan tertentu, tetapi juga menampung aspirasi dan pendapat kelompok-kelompok yang selama ini tersubordinatkan. Ini dapat dilihat dari tafsir-tafsir yang menggunakan beragam pendekatan baru dengan bertujuan menggoyang kemapanan tafsir konvensional, seperti hermeneutika, semiotika, pendekatan feminisme, teologi pembebasan, pendekatan sastra, pendekatan kontekstual, posmodernis dan lain sebagainya.

Tulisan singkat ini hendak mengulas sedikit mengenai kontribusi dan kritik para mufassir terdahulu dengan penafsiran yang akan datang, khususnya mengenai pokok pikiran atau butir-butir yang menjadi sumbangan terhadap tafsir masa depan.

B. Kontribusi dan Kritik Mufassir Klasik

Setiap hasil pemikiran merupakan hasil bentukan dari lingkungan dan zamannya masing-masing, kecuali penafsiran yang dilakukan oleh sahabat karena mendasarkan ijtihad mereka semata-mata karena Allah. Di samping itu kedekatan mereka dengan Nabi sehingga setiap makna dari al-Qur’an dapat langsung dimintakan penjelasannya kepada Nabi. Keadaan semacam ini di pandang bisa mengalahkan pengaruh lingkungan dan peradaban saat itu.

Pengetahuan sahabat berbeda dengan generasi-generasi selanjutnya karena telah mengalami degradasi kemampuan dalam menangkap makna hakiki dari al-Qur’an yang disebabkan pengaruh lingkungan dan peradaban luar, terutama Yunani dan Persia, yang begitu kuat.

Tafsir Ibn Abbas: Sebuah Potret Model Penafsiran Sahabat

Ibn Abbas selalu mengawali penafsirannya dengan memperjelas arti mufradat, kemudian beralih ke arti ijmali (global) dan akhirnya penafsiran tafshili (uraian terperinci), selanjutnya juga memuat sebab turunnya ayat dan mengambil dalil dari hadis Nabi, dan asar (pendapat atau contoh) yang diberikan para sahabat periode awal dalam rangka menjelaskan penafsirannya. Adapun corak tafsir Ibn Abbas adalah tafsir bi al-ma’sur, yaitu melalui penafsiran ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an, hadis, perkataan sahabat.

Ada beberapa kelebihan pemikiran al-Qur’an (tafsir)  pada masa klasik terutama pada masa sahabat, antara lain, yaitu:

  1. Tidak bersifat sektarian yang dimaksudkan untuk membela kepentingan mazhab tertentu.
  2. Tidak banyak perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hasil penafsirannya.
  3. Belum kemasukan riwayat-riwayat israiliyyat yang dapat merusak akidah islam.

Adapun beberapa kritik atas tafsir klasik , di antaranya:

  1. Belum mencakup keseluruhan penafsiran ayat al-Qur’an, sehingga masih banyak ayat-ayat al-Qur’an yang belum ditafsirkan.
  2. Penafsirannya bersifat parsial dan kurang mendetail dalam menafsirkan suatu ayat, sehingga kadang sulit mendapatkan gambaran yang utuh mengenai pandangan al-Qur’an terhadap suatu masalah tertentu.
  3. Pada masa Tabi’in, tafsir sudah mulai bersifat sektarian dan mulai terkontaminasi oleh kepentingan mazhab tertentu, sehingga menjadi kurang objektif dalam menafsirkan al-Qur’an.
  4. Tafsir pada masa Tabi’in sudah mulai kemasukan riwayat-riwayat Israiliyyat, yang sebagian dapat membahayakan kemurnian ajaran Islam.

C. Kontribusi dan Kritik Mufassir abad Tengah

Dalam peta sejarah pemikiran Islam pada umumnya dan al-Qur’an khususnya, periode pertengahan dikenal sebagai zaman keemasan ilmu pengetahuan. Periode ini ditandai dengan berkembangnya berbagai diskusi di segala cabang ilmu pengetahuan, baik yang merupakan cabang pengetahuan asli umat Islam maupun cabang-cabang ilmu pengetahuan yang bahan-bahan dan sumbernya diadopsi dari dunia luar. Perhatian resmi dari pemerintah dalam hal ini menjadi stimulus yang sangat signifikan.

Di antara disiplin ilmu yang berkembang pada masa ini adalah ilmu kalam, filsafat atau logika Yunani, ilmu fikih dan ilmu hadis, dan sufistik. Satu hal yang penting dicatat dalam hal ini adalah dampak psikologis dari ketegangan antar disiplin ilmu tersebut di kalangan peminat masing-masing yang berusaha untuk meraih dukungan masyarakat maupun pemerintah melalui klaim kebenaran dan menunjukkan kebenaran pihaknya dengan mencari justifikasi dari al-Qur’an. Inilah “embrio” dari tafsir zaman pertengahan yang sarat dengan “kepentingan” subyektif (ideologis) mufassirnya.[2]

Aliran filsafat (tafsir falsafi) misalnya, memvonis cara berpikir para mutakallimin sebagai dialektis, retorik atau bayani tidak iqna’I atau burhani. Demikian juga dengan ahli kalam menganggap aliran Fiqhi terlalu partikularis, furu’i dan sebaliknya orang-orang fiqhi menganggap ahli kalam sebagai “ahli bicara” belaka. Apalagi ketika pemerintah mendukung mazhab tertentu dibidang kalam, perdebatan internal dalam suatu bidang ilmu menambah semaraknya suasana “keberpihakan” atas ide-ide tertentu.[3]

Bias berbagai kepentingan inilah yang secara umum melatarbelakangi munculnya beberapa karakteristik dalam penafsiran al-Qur’an yang ditengarai perbedaannya dengan tafsir pada periode klasik.

Dengan demikian kritik tafsir pada abad pertengahan adalah sebagai berikut;[4]

1. Pemaksaan Gagasan Asing (Non al-Qur’an) ke dalam Tafsir.

Kebanyakan tafsir pada zaman ini seringkali terjebak dalam arus menonjolkan “kepentingan” di luar kepentingannya sebagai penafsiran  atas teks al-Qur’an. Dengan kata lain, banyak diskusi yang mestinya berada di luar tafsir, ternyata dikembangkan sedemikian rupa dalam penafsiran bagian-bagian tertentu al-Qur’an yang mana bagian itu sendiri sebenarnya tidak ada sangkut-paut dengan diskusi tersebut.

Contoh tafsir abad pertengahan misalnya al-Jashash, seorang ahli fiqih mazhab Hanafi  yang mengembangkan diskusi fiqhi mengenai perbedaan pendapat tentang harta temuan.

Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib. Mengembangkan diskusi tentang permasalahan ilmu kalam. Fakhruddin al-Razi, mengembangkan diskusi di sekitar hak kepemimpinan umat Islam pasca Nabi. Diskusi sekitar faham Jabariyah dan Qadariyah bisa didapatkan dalam hampir setiap surat dalam tafsir ini. Misalnya tentang imamah Abu Bakr dalam penafsirannya atas ayat ketujuh surat al-Fatihah, ditemukan pengulangannya dalam tafsir surat al-Nisa’ ayat 14, ayat 22 surat al-Nur, dan ayat 17-19 surat al-Lail

2. Banyaknya Pengulangan (Tikrar) dan Ber “tele-tele”.

Berbeda dengan tafsir periode klasik yang pada umumnya dilakukan hanya ketika terjadi sebuah peristiwa yang kemudian dimintakan penjelasannya berdasarkan al-Qur’an atau adanya pertanyaan tentang bagian-bagian tertentu al-Qur’an, sehingga tafsir pada periode ini belum dilakukan secara sistematis, tafsir pada periode pertengahan sudah mengikuti sistem mushafi. Artinya penafsiran dilakukan dengan mengikuti tata cara urutan ayat dan surat seperti apa yang ada dalam mushaf.

Konsekuensinya, mufassir seringkali dihadapkan pada kenyataan adanya ayat-ayat yang redaksinya atau semangatnya memiliki kemiripan dengan ayat-ayat lain yang kebetulan terdapat dalam beberapa surat. Dalam kaitan ini, tidak bisa tidak mufassir tentu akan menyinggung kembali pernyataan-pernyataan yang sudah dikemukakannya pada ayat sebelumnya yang redaksinya sama atau ada kemiripan pesan walaupun redaksinya berbeda.

Kemungkinan lain, karena pada umumnya tafsir model ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang, maka mufassir mungkin dihadapkan pada tuntutan tertentu yang berulang-ulang padahal jawaban atas tuntutan itu sudah diberikan pada penafsirannya atas ayat terdahulu.

3. Bersifat Atomistik

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa tafsir pada periode tengah atau tafsir yang ditulis semenjak abad ke-9 M hingga abad ke-20 kebanyakan mengikuti pola mushafi. Al-Qur’an ditafsirkan sesuai dengan urutan ayat dan surat seperti dalam mushaf. Mufassir biasanya menyajikan terlebih dahulu sebuah ayat, kemudian diuraikan tafsirnya atas ayat tersebut atau bahkan hanya atas bagian tertentu dari ayat tersebut.

Tafsir model ini seringkali memperlakukan kata-kata tertentu atau bahkan harakat (tanda baca) tertentu dari kata-kata itu, juga penggunaan-penggunaan yang bersifat individual dalam al-Qur’an dalam keadaan terlepas dari konteks sastra sebagai satu kesatuan dengan ayat sebelum dan sesudahnya dalam mushaf maupun konteks kronologisnya. Meskipun beberapa mufassir telah menyertakan rujukan silang terhadap kata-kata atau penggunaannya di bagian lain dalam al-Qur’an, tetapi kupasan mereka tetap konsentrasi pada satu kata atau bagian yang sedang dia hadapi, tanpa mempertimbangkan pesan holistic dari kata-kata dan penggunaannya dalam keseluruhan al-Qur’an. Tafsir model ini menggunakan pola tahlili atau tajzi’i yang kecenderungan utamanya memperlakukan al-Qur’an secara atomistic.


D. Kontribusi dan Kritik Mufassir Modern

Kajian tentang tafsir modern diawali dengan tafsir Abduh yang merupakan embrio pembaruan kajian al-Qur’an. J.J G. Jansen, mengelompokkan karya tafsir modern menjadi tiga bagian. Pertama, tafsir yang dipenuhi pengadopsian temuan-temuan keilmuan mutakhir, tafsir ilmi, kedua, tafsir yang “dibasahi” analisis linguistic dan filologik, dan ketiga, tafsir yang bersinggungan dengan persoalan-persoalan keseharian umat.[5]

Adapun kontribusi tafsir pada abad modern adalah:[6] Menjadikan al-Qur’an sebagai Kitab Petunjuk.[7] Melalui metode tematik, para mufassir abad modern ini berupaya untuk mengungkap kandungan universal al-Qur’an.

Beberapa mufassir modern yang menerapkan metode tematik adalah, Toshihiko Izutzu, Abd al-Hay al-Farmawi, Bint al-Syathi,[8] Fazlur Rahman, Syahrur dan Muhammad al-Gazali.

Fazlur Rahman dalam Tema-tema pokok al-Qur’an mengkaji tema-tema tertentu dengan mengumpulkan semua ayat yang terkait, kemudian ditarik kesimpulan. Namun ia tidak menjelaskan aturan pasti cara merekonstruksi di antara ayat-ayat yang dikaji, sehingga yang muncul justru berfungsi sebagai legitimasi ide mufassir sendiri. Jadi, tidak benar-benar membiarkan al-Qur’an bicara atas dirinya sendiri, seperti yang diharapkan Rahman.

E.Kontribusi dan Kritik Mufassir Kontemporer

Dalam upaya mengembalikan al-Qur’an sebagai kitab petunjuk, oleh para mufassir kontemporer kitab suci ini tidak lagi dipahami sebagai wahyu yang “mati” sebagaimana dipahami oleh para ulama klasik selama ini, melainkan sebagai sesuatu yang “hidup”. Al-Qur’an dipahami sebagai kitab suci yang kemunculannya tidak terlepas dari konteks kesejarahan umat manusia. Al-Qur’an tidak diwahyukan dalam ruang yang hampa budaya, melainkan justru hadir dalam zaman dan ruang yang sangat sarat budaya. Nasr Hamid Abu Zaid bahkan menilai al-Qur’an sebagai “produk budaya”, yakni sebagai teks yang muncul dalam sebuah struktur budaya Arab abad ke-7 H selama dua puluh tiga tahun dan ditulis dengan berpijak pada aturan-aturan budaya tersebut.

Oleh karena itu, sebagai konsekuensi atas pemahaman al-Qur’an yang seperti ini, untuk memahaminya juga tidak cukup dengan mengandalkan perangkat keilmuan seperti yang digunakan para  mufassir selama ini Semisal usul fikih, asbab nuzul, balaghah dan sebagainya. Metode (pendekatan) hermeneutik akhirnya menjadi “menu alternatif” yang menggantikan perangkat keilmuan selama ini yang dianggap bukan hanya memadai namun juga tidak “tahan banting” terhadap tantangan zaman.

Metode hermeneutik yang dikembangkan oleh para mufassir kontemporer itu juga tidak seragam, namun sangat beragam. Keberagaman ini tentu saja muncul bukan hanya karena semakin terbukanya umat Islam terhadap gagasan-gagasan yang berasal dari luar, namun juga adanya dinamika dan kesadaran pada mereka akan kekurangan-kekurangan metode yang ada. Selain persoalan metode, pola penafsiran ayat-ayat al-Qur’an juga berkembang. Kalau pada masa klasik pola yang digunakan adalah penafsiran secara tahlili, maka pola maudhu’i (tematis) atau bahkan holistik juga berkembang pada abad modern. Pola demikian samata-mata karena tuntutan sejalan dengan perkembangan metode penafsiran yang terus berkembang.

Adapun kontribusi tafsir kontemporer adalah Mengungkap “Ruh” al-Qur’an. Salah satu adagium yang menjadi jargon para mufassir kontemporer adalah bahwa al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang salih li kulli zaman wa al-makan, sebuah kitab yang berlaku universal. Meskipun adagium ini juga diakui oleh para mufassir klasik, namun pemahaman para mufassir modern berlainan dengan pemikir klasik.[9]

Jika oleh para pemikir klasik adagium ini dimaknai sebagai “pemaksaan” makna literal ke berbagai konteks situasi dan kondisi manusia, maka para mufassir kontemporer mencoba melihat apa yang berada “di balik” teks ayat-ayat al-Qur’an. Oleh karenanya, para mufassir  kontemporer tidak menerima begitu saja apa yang diungkapkan oleh ayat-ayat al-Qur’an secara literal, melainkan, mencoba melihat lebih jauh apa yang ingin dituju oleh ungkapan literal ayat-ayat tersebut. Dengan kata lain, yang ingin dicari oleh para mufassir kontemporer adalah “ruh” al-Qur’an itu sendiri.

Maka, kalau dalam ilmu tafsir yang berkembang selama ini adalah  adanya dua kelompok yang saling berlawanan, yang satu berpegangan pada kaidah al-’ibrah bi ‘umum al- lafzh la bi khusus al-sabab, sedangkan yang lain berpegang pada kaidah al-ibrah bi khusus al-sabab la bi ‘umum al-lafazh, maka pada masa kontemporer ini muncul kaidah al-ibrah bi Maqashid al-syari’ah, bahwa yang seharusnya menjadi pegangan adalah apa yang dikehendaki oleh syari’ah (al-Qur’an).

Berangkat dari kaidah yang terakhir inilah muncul berbagai upaya di kalangan sebagian mufassir kontemporer untuk mencari nilai universal al-Qur’an yang menjadikan kitab suci umat Islam ini shalil li kulli zaman wa makan. Nilai universal ini tidak selalu tertuang dalam pernyataan ayat secara eksplisit, namun seringkali hanya secara implisit yang bisa diketahui apabila pemahaman atas ayat-ayat al-Qur’an tidak dilakukan secara harfiah atau sepotong-sepotong.

Beberapa mufassir kontemporer menegaskan bahwa nilai universal dimaksud adalah nilai kesetaraan, nilai keadilan, hak asasi manusia, dan sebagainya. Nilai inilah yang ingin ditekankan oleh al-Qur’an melalui berbagai ayat yang menghendaki dilakukannya pembebasan budak pembagian hak waris untuk perempuan, dan lain-lain. Dengan memahami ayat-ayat al-Qur’an secara parsial, mustahil nilai-nilai universal ini bisa dipahami secara benar. Bahkan kadang yang terjadi justru diskriminasi, sub-ordinasi dan semacamnya


DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Muhammad, Fatihah al-Kitab, Kairo: Kitab al-Tahrir, 1382 H

Husein al-Zahabi, Muhammad, Tafsir wa al-Mufassirun, Kairo: Dar al-Kutub al-Hadis, 1976

Jansen, J.J.G. Diskursus Tafsir Al-Qur’an Modern terj. Hairussalim, Yogyakarta: Tiara Wacana,1997

Khalil al-Qattan, Manna’, Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an, Riyadh: Mansyurat al-’Asr al-Hadis, 1972

Mustaqim, Abdul, Laporan Pembuatan Buku Daras Mazahib al-Tafsir, Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001

Saleh, A. Khudhori (editor), Pemikiran Islam Kontemporer, Yogyakarta: Jendela, 2003

Shahrur, Muhammad, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, terj. Sahiron Syamsudin, Yogyakarta: elSAQ Press, 2004

_______, Al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah, Damaskus: Dar al-Ahali, 1990

Syamsudin, Sahiron, (editor), Studi Al-Qur’an Kontemporer: Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002


[1] Muhammad Shahrur, al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah (Damaskus: Ahali li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1992), hlm. 33

[2] J.J.G. Jansen Diskursus Tafsir Al-Qur’an Modern terj. Hairussalim, (Yogyakarta: Tiara Wacana,1997), hlm. 30.

[3] Abdul Mustaqim, Laporan Pembuatan Buku Daras Mazahib al-Tafsir, Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001, hlm. 63.

[4] Ibid., 55

[5] J.J.G. Jansen Diskursus Tafsir Al-Qur’an Modern terj. Hairussalim, (Yogyakarta: Tiara Wacana,1997), hlm. 35.

[6] Abdul Mustaqim, Laporan Pembuatan Buku Daras Mazahib al-Tafsir, Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001, hlm. 72.

[7] Muhammad Abduh, Fatihah al-Kitab (Kairo: Kitab al-Tahrir, 1382 H), hlm. 13

[8] A. Khudhori Saleh (editor), Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Jendela, 2003), hlm. 239.

[9] Abdul Mustaqim, Laporan Pembuatan Buku Daras Mazahib al-Tafsir, Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001, hlm. 80.

About these ads

1 Komentar

Filed under Al-Qur'an - Tafsir

One response to “Kontribusi dan Kritik Mufassir untuk Tafsir Masa Depan (Dari Mufassir Klasik hingga Kontemporer)

  1. ezfaiz7

    asslm.
    tulisannya bagus dan berdalil.Syukron, menambah referensi saya dalam mempelajari tafsir kontemporer. Salam seorang mahasiswa UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s